"Bahan bacaan seperti cerita bergambar atau komik tak disediakan di perpustakaan ini. Mungkin dimaksudkan agar siswa dan siswi lebih menggali minat membaca dan kelak mampu berliterasi."

Saya tercatat menjadi siswa SMA Negeri (SMAN) 5 Malang pada kisaran bulan Juni tahun 1985. Menjadi pilihan pertama bagi saya untuk melanjutkan sekolah pada tingkat menengah atas, seusai lulus SMP.

Tahun 1985 adalah awal mula uji coba masuk SMAN pilihan sesuai kisaran Daftar Nilai Ebtanas Murni, yang disingkat DANEM. Siswa dan siswi yang telah lulus SMP diberi kesempatan memilih SMAN dengan mempertimbangkan rentang DANEM yang dicapai, melalui bimbingan para guru.

Sebelum tahun itu, para lulusan SMP yang hendak memilih SMAN idaman untuk melanjutkan menimba pengetahuan di tingkat menengah atas, maka harus mengikuti tes seleksi yang dikelola oleh masing-masing SMAN tujuan.

Terdapat delapan SMAN di kota Malang waktu itu, setelah Sekolah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) binaan IKIP Malang, berubah menjadi SMAN 8.

Mengikuti sistem masuk SMAN yang demikian, maka pilihan pertama saya jatuh pada SMAN 5 Malang. Alasan saya, lebih pada kenangan masa kecil yang sering melewati Jl. Tanimbar saat petang hari di akhir pekan, ketika diajak Bapak saya, yang saat itu bertugas menjaga keamanan di sebuah bioskop berkonsep Ampera, bernama Tenun Theater. 

Tenun Theater yang bermitra dengan Kelud Theater, keduanya adalah bioskop merakyat yang dikenal oleh warga kota Malang pada awal tahun 1970-an hingga pertengahan tahun 1990-an. 

Setiap pergi dan pulang dari bioskop Tenun, kami selalu melewati Jl. Tanimbar dan pastinya selalu melewati bagian depan halaman SMAN 5 Malang. 

Sejak itu menjadi impian saya, bahwa suatu saat nanti, saya akan pernah menggurat pensil di atas kertas, sambil duduk di bangku kelas sekolah menengah atas itu. Alhamdulillah, cita-cita saya keturutan.


Trapesium Siku.

Menikmati kegiatan bersekolah di SMAN 5 Malang, memang banyak keunikan. Pertama adalah bangunan sekolah yang berdiri di atas hamparan tanah yang sangat luas. 

Ruang-ruang kelas begitu banyak, sehingga kegiatan belajar mengajar dilakukan pada pagi hingga tengah hari. Tak ada kelas sore.

Waktu itu, untuk kegiatan berolah raga, terdapat dua lapangan basket, dua lapangan voli dan satu area terbuka luas untuk berupacara maupun berkegiatan di ruang terbuka bebas. 

Sebagai tempat belajar dalam kelas, terdapat tujuh ruangan untuk kelas satu, delapan ruangan untuk kelas dua dan delapan ruangan untuk kelas tiga. Kemudian ada satu ruangan luas yang dipilah menjadi ruang guru, termasuk ruang bimbingan dan penyuluhan, serta ruang administrasi tata usaha sekolah.

Selain itu, terdapat ruang serba guna yang biasanya digunakan sebagai ruang untuk berlatih seni dan drama,yang terletak pada satu lantai di atas lorong gerbang selatan sebagai pintu masuk utama, yang bersebelahan dengan ruang guru.

Ruang-ruang kelas berderet memanjang mulai dari sisi timur, yang merupakan deretan kelas satu dan kelas dua non eksata. Kemudian sisi selatan yang merupakan deretan kelas tiga eksata, pintu masuk utama, ruang guru dan kelas tiga non eksata. Adapun sisi sebelah barat adalah deretan kelas dua eksata.

Tepat di ujung utara kelas dua eksata, terdapat sebuah pintu gerbang kedua, yang berdampingan dengan ruangan kelola listrik utama, lalu berderet ke utara berupa kamar mandi dan toilet sekolah. Mentok di sisi paling utara adalah tembok dinding pembatas gedung dewan Kesenian Kota Malang (DKM).

Kawasan SMAN 5 Malang, apabila diikuti berjalan mengitari sisi-sisi yang berbatasan dengan bagian luarnya, bakal dirasakan membentuk pola trapesium siku-siku. Berbentuk sisi yang miring pada deretan ruang sebelah selatan, dari timur menyempit ke arah barat.


Tahu Berontak.

Terdapat dua kantin di sebelah barat dan timur, penyedia aneka hidangan makanan dan minuman bagi siswa dan siswi yang sedang beristirahat, lima belas menitan di antara waktu belajar dalam kelas.

Dua kali waktu beristirahat, ngaso dari jam pelajaran dalam kelas, ditandai oleh dua kali dentang suara bel sekolah. Sekali dentang bel adalah penanda pergantian pelajaran. Tiga kali dentang pertanda jam sekolah usai, murid diijinkan pulang.

Jika ada pengumuman sekolah, tak ada dentang bel sebagai penanda memanggil ketua kelas untuk berkumpul menerima isi pengumuman, agar disampaikan ke dalam kelasnya masing-masing. Melainkan ada guru bimbingan dan penyuluhan atau siswa yang mewakili pengurus OSIS, yang berkunjung membacakan isi pengumuman dari kelas ke kelas. 

Kantin sebelah barat lebih ramai, mungkin karena berdekatan dengan kamar mandi juga pintu gerbang. Sementara kantin timur yang berdempetan dengan dinding utara pembatas DKM lebih sepi. Padahal di kantin timur menyediakan sajian es santan dawet bersirup merah yang mampu melepaskan dahaga, terutama sehabis pelajaran olah raga.

Mungkin karena tempat kantin timur jauh dari pintu gerbang dan kamar mandi, yang sebetulnya tersedia di area timur berdekatan dengan tempat parkir sepeda kayuh dan motor. Hanya saja, kamar mandi dan toilet area timur diperuntukkan bagi guru dan pengurus sekolah.

Di kantin barat yang juga berdempet dengan dinding pembatas utara, terdapat hidangan yang disukai yaitu gorengan tahu berontak. Cemilan yang mengenyangkan ini memang baru populer waktu itu, yang resep dan namanya baru ditemukan pada awal tahun 1980-an. 

Bentuk tahu berontak berupa tahu berongga yang berisikan irisan wortel, kubis, kecambah sama sedikit cincangan daging ayam, lalu digoreng pakai tepung.

Seringkali tahu berontak isinya begitu melimpah ruah. Sehingga pas digigit, isinya bisa semburat, yang menyebabkan si penggigitnya bisa agak panik menyeka bibir atau mempertahankan isian tahu agar tak berontak keluar ke mana-mana.

Tak hanya tahu berontak, kantin barat yang dikelola oleh seorang ibu bernama Bu Ramun, juga menyediakan masakan sayur lodeh dan pecel beserta aneka lauk olahan rumahan yang disesuaikan harganya agar terjangkau oleh uang saku anak sekolahan.


Perpusnovelan.

Berdekatan dengan kantin barat, di sebelah timurnya dibatasi oleh sebidang taman beraneka bunga, tanaman dan pohon rindang adalah ruang perpustakaan. 

Suasana perpustakaan begitu sejuk alami tanpa alat pengkondisi udara, rapi, terdapat meja dan tempat duduk berwarna putih yang tertata rapi, dengan penataan yang berbeda dengan meja kursi ruang kelas.

Tak hanya buku-buku terkait pelajaran sekolah, ensiklopedia umum bahkan beberapa di antaranya adalah buku-buku tingkat perguruan tinggi yang masih bisa dinikmati sebagai bahan bacaan oleh murid level SMA. 

Terutama jenis buku yang sangat diminati dan sering dipinjam untuk dibawa pulang sebagai bacaan santai di rumah adalah novel atau kumpulan cerita pendek, cerpen.

Novel-novel asli tulisan novelis nasional ataupun internasional tersedia di perpustakaan ini. Saya sering meminjam novel berkisah petualangan. Antara lain karya Jack Higgins (Eagle Has Landed), Frederick Forsyth (Days Of Jackal, Dogs Of War, Odessa File), Alistair Mc Lean (Breakheart Pass, Satan Bug, River Of Death), Trio Detektif hingga Agatha Christie dengan sosok detektif teliti imajinasinya; Hercule Poirot.

Termasuk, petualangan si agen rahasia AXE Amerika Serikat yang bersenjatakan pistol Luger berjuluk Wilhelmina. Petualangan Nick Carter versi alih bahasa resmi yang penggambaran adegan ranjangnya santun, sama sekali tak norak.

Bahan bacaan seperti cerita bergambar atau komik tak disediakan di perpustakaan ini. Mungkin dimaksudkan agar siswa dan siswi lebih menggali minat membaca dan kelak mampu berliterasi.

Pengelolaan perpustakaan ditangani oleh seorang pria muda, staf tata usaha yang punya minat membaca dan menulis. Ramah orangnya, meski disiplin dan tak segan memberi sanksi jika ada siswa yang kedapatan membawa buku tanpa ijin atau merusak, mencoret-coret buku milik perpustakaan.

Beliau bahkan paham materi pelajaran biologi kelas tiga, berupa urusan kromosom hingga DNA/RNA. Tak heran, karena pekerjaan sehari-hari beliau adalah menata administrasi buku perpustakaan dan dikala senggang adalah membaca.


Deretan Pinus.

Keluar dari perpustakaan adalah jalan raya besar yang bahkan muat hingga dua mobil. Jalan ini searah lurus dengan pintu gerbang sebelah barat, yang juga lurus ke timur menuju deretan ruang kelas satu. Sejajar dengan jalan tersebut, sedikit ke timur dari perpustakaan adalah gudang utama, tempat menyimpan arsip juga beberapa peralatan berolah raga.

Lalu, sebelah timur gudang adalah ruang laboratorium bahasa. Termasuk lengkap waktu itu dengan peralatan sistem suara seperti pemutar kaset, mic bagi guru dan headset bagi siswa, sebagai sarana belajar mengajar terutama bahasa asing.

Menyeberangi jalan ke selatan, tepat di seberang laboratorium bahasa adalah sebuah Mushola yang cukupmemenuhi syarat digunakan untuk sholat Jum'at berjamaah. Sebelah selatan dan barat Mushola adalah hamparan tanah luas berupa lapangan voli, lapangan basket dan area luas untuk berkegiatan di ruang terbuka bebas.

Deretan pohon pinus menghiasi sebelah timur ruang terbuka itu, sebagai halaman depan deretan ruang kelas dua non eksata. Sama halnya di sebelah barat, deretan pohon pinus menghiasi halaman depan deretan ruang kelas dua eksata.

Sementara itu, deretan ruang laboratorium biologi, kimia dan fisika berderet dari timur ke barat, terletak di seberang gudang utama, atau di sebelah barat Mushola yang dibatasi oleh sebidang lapangan voli. Deretan laboratorium tersebut memang lebih dekat dengan deretan kelas dua jurusan eksata.


Rumah Kolonial.

Halaman luar SMAN 5 Malang tak kalah luas dengan halaman bagian dalam. Di sisi selatan area pintu masuk gerbang utama berupa halaman tanah berpasir batu, dengan deretan tanaman pagar dan bunga-bunga aneka warna serta beberapa pepohonan pendek di dekat tembok pembatas jalan raya.

Di seberang jalan raya itu, memasuki sebuah pertigaan, adalah asrama TNI Angkatan Laut yang pintu utamanya menghadap ke timur. Tampak rapi dan berwibawa, di bagian depan pintu masuk ada tugu bertahta sebuah jangkar besar, yang pada dinding penyangganya bertahtakan relief bertulis gagah; 'Jalesveva Jayamahe'.

Gerbang utama SMAN 5 Malang tak hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki yang hendak memasuki sekolah ini, namun juga bagi pengendara yang hendak memarkir kendaraannya. Kendaraan beroda empat diparkir di area tanah berpasir batu. 

Sedangkan sepeda motor ataupun kayuh yang biasanya digunakan oleh siswa pun siswi, diparkir ke dalam ruang terbuka beratapkan seng, yang terletak di sebelah timur deretan kelas satu dan kelas dua non eksata, melewati kamar mandi dan toilet bagi guru serta pengurus sekolah.

Tak kalah luas dengan halaman gerbang utama, adalah halaman pintu gerbang sebelah barat yang berseberangan dengan Rumah Sakit Islam Aisyah, di batasi oleh jalan raya umum beraspal. 

Di halaman gerbang barat, di sisi sebelah selatan terdapat sebuah lapangan basket dan sepetak tanah berpasir untuk kegiatan olah raga atletik lompat jauh dan lompat tinggi. 

Sementara di sisi utara terdapat sebuah lapangan voli. Kedua lapangan ini dibatasi oleh jalan masuk menuju pintu gerbang barat. Sebuah jalan lebar yang muat hingga dua kendaraan beroda empat, yang lurus denagn jalan menuju deretan kelas satu di sebelah timur.

Sedikit ke sebelah utara lapangan voli, berdiri sebuah bangunan gardu listrik, yang tepat di sebelah timurnya, berseberangan dengan sebuah jalan kecil, terdapat satu bangunan rumah besar berarsitek jaman kolonial Belanda.


Gerobak Bakso.

Rumah bergaya era kolonial yang begitu besar namun tampak sepi tersebut, selalu ramai jelang siang hari. karena di bagian teras terbuka di rumah itu, terdapat sebuah gerobak bakso yang laris pembeli. Banyak pelanggan berkunjung menikmati aneka pilihan olahan bakso dan bakwan khas Malang.

Gerobak bakso yang pemiliknya bernama Cak Man ini telah mangkal di halaman sekolah SMAN 5 Malang sejak tahun 1970-an. Menjadi salah satu ikon bakso yang direkomendasikan oleh warga kota Malang, yang kemudian berdampak positif menjadi dikenal dengan sebutan bakso SMAN 5 Malang. 

Sebuah contoh studi simbiosis mutualisma atas dua persepsi yang saling menguntungkan, yakni; Bakso Cak Man menjadi keren dan nama SMAN 5 juga tambah beken. Sebuah simbiosis yang mewakili potret sajian bakso yang berorientasi pada dunia pendidikan.

Tak menetap sebagai sebuah warung, namun gerobak bakso Cak Man bertandang mangkal ke rumah kolonial itu setiap jelang siang hingga sore hari. Bersemangat siap sedia menyajikan olahan bakso berkuah panas segar dengan sambal cabai asli berwarna oranye dan saos tomat merah terang.

Karena tak diperhitungkan termasuk halaman sekolah, juga selama kegiatan belajar mengajar berlangsung pintu gerbang barat ditutup rapat, maka bagi siswa pun siswi yang sedari pagi telah membayangkan bakso buah olahan Cak Man, mereka harus menunggu dentang bel sekolah pertanda diijinkan pulang. 

Sebetulnya bagi siswa ataupun siswi yang tak mampu menahan perasaan ingin jumpa semangkok bakso Cak Man, ketika dentang waktu istirahat nyaring berkumandang, bisa saja mereka berjalan kaki melewati pintu gerbang utama sisi selatan.

Lalu berjalan agak jauh ke barat, terus berbelok ke kanan melewati halaman pintu gerbang barat, menuju gardu listrik dan rumah kolonial. Terus dilanjut duduk di atas sebuah bangku kayu panjang atau di atas dinding pembatas teras rumah kolonial itu, untuk memesan seporsi bakso idaman.

Namun, ide tersebut jarang dilakukan. Karena waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki bisa lebih dari sepuluh menitan. Sementara waktu istirahat jeda belajar dalam kelas adalah lima belas menit.

Menyantap semangkok bakso kurang dari lima menitan, hanyalah sekedar upaya bertahan hidup, bukan meraih kenikmatan.

(Bersambung).