80666_24483.jpg
Sri Mulyani saat menerima penghargaan Menteri Terbaik Dunia. Foto: Tribunnews
Ekonomi · 4 menit baca

Dewi Sri Keuangan RI, Menteri Terbaik Dunia

Beberapa bulan lalu, di ajang pameran sketsa Goenawan Mohamad, saya berjumpa dengan Menteri Sri Mulyani Indrawati,  yang datang bersama Tony Sumartono dan seorang dari tiga anak mereka. Saya gembira reformer tangguh itu masih mengenali saya, setelah sekian tahun berlalu tanpa kami pernah bertemu (saya mengenalnya di sekitar masa penyusunan kabinet 2004-09 dan sejak itu hampir tak pernah lagi berjumpa).

Kepada Sri Mulyani saya ceritakan sahut-sahutan saya dengan M. Chatib "Dede" Basri di wall Facebook dia, yang kebetulan berlangsung sehari sebelumnya. Dede mengunggah sebuah foto, berisi gambar dirinya, Sri Mulyani, dan seorang lain yang saya lupa.

Komentar saya terhadap foto itu, kurang-lebih: "De, saya kadang malu kepada Anda dan Sri Mulyani. Anda berdua tampak berpikir dan bekerja begitu keras dan sepenuh kesungguhan. Melihat Anda berdua,  saya kadang merasa tidak pernah berbuat apa-apa yang berarti untuk Indonesia."

Dede Basri segera menanggapi: "Anda hanya terlalu baik dalam memuji."

Dialog kecil itu saya ceritakan kepada Sri Mulyani malam itu di Galeri Dia Loe Gue, Kemang, Jakarta Selatan.

Ia menanggapi dengan senyum ramah seperti biasa: "Ah, Mas, kita semua kan cuma berusaha bekerja sebaik-baiknya, semampu-mampunya di bidang masing-masing."

Saya berani memastikan tanggapannya itu bukan sebuah basa-basi untuk memberi kesan bahwa ia orang yang rendah hati.

Sepanjang pertemuan tak sengaja yang cuma sepuluhan menit itu, memori saya meringkas apa yang dialami dan diputuskan Sri Mulyani sebelum ia bersedia menjabat Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brojonegoro pada Juli 2016.

Ia sedang menduduki jabatan internasional yang sangat bergengsi: salah satu dari tiga Managing Director di World Bank Group, posisi yang hanya setingkat di bawah presiden bank dunia itu. Ia bertanggung jawab atas negara-negara Amerika Latin, Timur Tengah, Karibia, Asia Timur dan Pasifik, dan Afrika Utara. Seluruhnya: Tujuh puluh empat negara.

Sudah pasti ia mendapat gaji dan fasilitas yang sangat baik di lembaga internasional yang termasuk berstandar gaji tertinggi di dunia itu.

Yang tak kalah penting: ia menikmati ketenangan kerja, tidak ada gangguan dan kritik berarti yang ia harus hadapi dari negara- negara klien Bank Dunia yang ia bawahi. Pasti ia tidak harus menghadapi demonstrasi terhadap kebijakan-kebijakan yang diambilnya sebagai policy maker yang  berwibawa dari institusi yang sangat disegani oleh semua kepala negara. Dan memang ketenangan kerja itulah yang ia nikmati selama enam tahun aktif di Bank Dunia.

Sungguh mengherankan bagi saya: ia memilih meninggalkan semua keunggulan itu demi menjadi Menteri Keuangan RI (lagi!), yang dia ketahui pasti akan sangat merepotkan di tengah situasi ekonomi nasional dan global yang kurang menguntungkan -- dan justeru karena alasan ini ia diminta pulang oleh Presiden Joko Widodo.

Dengan kesediaan itu, dan dengan segenap gejala dan gestur yang terlihat, saya menyimpulkan: Sri Mulyani adalah seorang yang otentik, a person of larger than life, dan sungguh-sungguh mengabdikan dirinya untuk bangsanya. Sambil menempuh risiko yang tidak ringan, dan mengorbankan banyak hal dalam skala personal dan kepentingan keluarga.

Saya berterima kasih dan hormat pula pada suami dan anak-anak mereka, yang akhirnya mengikhlaskan isteri dan ibu mereka untuk menentukan pilihan yang berisiko itu (setidaknya diukur dari posisi tingginya di Bank Dunia).

Dan hari ini kita mendapat kabar yang membanggakan Indonesia: Dr. Sri Mulyani Indrawati terpilih sebagai menteri terbaik di World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab. Ia bahkan bukan terpilih sebagai menteri keuangan terbaik, tapi MENTERI TERBAIK. Ia mengungguli beribu-ribu menteri lain di lebih dari 150 negara.

Yang memilihnya adalah Ernst & Young, salah satu dari tiga atau empat lembaga konsultan terbaik yang bereputasi tinggi, independen dan punya cabang di seratusan negara. E & Y memilih berdasarkan permintaan World Government Summit.

Keterpilihannya merupakan pengakuan yang sangat bernilai dan seolah mengukuhkan "rasa malu" seperti saya sampaikan kepada dia malam itu di Kemang.

Apakah ia "kehilangan keseimbangan" karena diberi penghargaan yang begitu tinggi dan menjadi orang Asia pertama yang mendapatkannya?

Video pernyataannya yang beredar tidak menunjukkan hal itu. Bagi mereka yang cukup mengenal dia dan mengamati perilaku profesional dan personalnya, fakta ini tidak mengejutkan.

Integritas pribadi,  semangat dedikasi dan martabat akademisnya mengharuskan dia menyambut penghargaan itu dengan kegembiraan dan kebanggaan sewajarnya. Ia menyatakan, penghargaan ini berkat kepemimpinan Presiden Jokowi yang tegas dan memungkinkan dia bekerja dengan benar sebagai menteri keuangan. Dan hadiah itu, katanya, ditujukan untuk 257 juta rakyat Indonesia yang dicintainya -- tanpa perkecualian apapun.

Lagi pula, ia cukup terbiasa menerima penghargaan internasional atas prestasinya, meski kerja kerasnya bukan demi mendapatkan pujian-pujian semacam itu.

Oleh majalah Forbes, ia dua kali dinobatkan sebagai perempuan terkuat (ke-38 dan ke-23).

Majalah Emerging Markets dua tahun berturut-turut menetapkannya sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia, antara lain karena di bawah kendalinya ekonomi Indonesia tumbuh 6.6 persen pada 2007 (tertinggi sejak krisis 1997).

Setahun sebelumnya majalah Euromoney menobatkan Sri Mulyani sebagai Finance Minister of the Year. Tahun-tahun berikutnya kelesuan ekonomi global turut memukul Indonesia. Begitupun, pada 2009 pertumbuhan Indonesia mencapai 4.5 persen. Hanya tiga negara besar yang tumbuh di atas 4 persen saat itu. Dua lainnya adalah Cina dan India.

Kini Sri Mulyani bahkan diakui dunia sebagai menteri terbaik di antara ribuan menteri di puluhan bidang.

Mbak Ani, terima kasih karena Anda meningkatkan rasa malu personal saya menjadi rasa bangga keindonesiaan.