Kehidupan manusia di zaman ini penuh dengan fasilitas yang memanjakan. Ini salah satu bukti betapa majunya perkembangan teknologi di masa ini. Abad ke-20, abad dimana kita dapat mengetahui berbagai hal yang terjadi di belahan dunia dalam hitungan detik. Bukan hanya dalam bentuk tulisan, namun gambar maupun video yang mengambarkan keadaan di tempat kejadian perkara.

Di abad ke-20 ini juga, berbagai macam aktivitas telah digantikan oleh peran robot dengan berbagai jenis kemampuan khusus. Dengan berbagai cara kerja, berbagai harga, berbagai penampilan, semua itu semakin membuat manusia hidup di surga teknologi yang sebenarnya semu.

Namun, dibalik segala kecanggihan alat , terdapat kesenjangan yang begitu tinggi di antara masyarakat dunia. Si kaya dan si miskin, semakin kelihatan bahagianya dan melaratnya. Si kaya terus menerus memperluas wilayah kekuasaanya walaupun cara yang ditempuhnya membuat si miskin terikat rantai kemelaratan.

Mereka tidak pedui, asalkan mobil mereka tetap mulus, jet mereka dapat terbang ke bulan, emas mereka terus meninggi layaknya piramida, mereka akan terus menambah kekayaan tanpa memperdulikan si miskin bercucuran darah berkelahi demi sebuah nasi bungkus bekas di tong sampah dekat sebuah restoran.

Seperti inikah kehidupan yang kita inginkan? Seperti inikah dunia yang kita impi-impikan? Seperti inikah cita-cita perdamaian dan kesejahteraan yang diumbar-umbar para pejabat bangsa?

Sepertinya tidak. Tidak? Lalu apakah masih ada harapan? Tentu saja masih ada. Seperti kata pepatah, “dimana ada kemauan, di situ ada jalan”. Harapan ini berada di pundak para pemuda kita. Pemuda kita yang darahnya masih menggebu-gebu, yang jiwanya masih membara, yang semangatnya menyala-nyala.

Mereka masih punya keyakinan tinggi akan perubahan yang dapat mereka lakukan agar cita-cita dunia tercapai. Para mahasiswa khususnya, mempunyai andil besar dalam proses perubahan tersebut. Selaku warga negara yang mengemban misi perubahan menuju dunia yang lebih baik, mereka berada di garis depan dalam perjuangan tersebut. Sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana keadaan pemuda kita saat ini? Bagaimana kualitas pemuda kita saat ini?

Sayangnya, apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Memang ada, tapi mungkin masih sedikit sekali dibandingkan pemuda kita yang suka membuat onar dan terkadang dianggap sampah masyarakat. Kita bisa melihat ke belakang dan merenungi beberapa kasus yang melibatkan pemuda-pemuda kita.

Kasus bentroknya  Pemuda Pancasila dan Ikatan Pemuda Karya, yang menyebabkan beberapa diantara mereka tewas dan luka-luka serta merusak kendaraan milik kedua bilah pihak. Kasus kematian Yuyun akibat pemerkosaan yang dilakukan delapan belas remaja meranjak dewasa, betapa mereka tidak punya hati nurani melakukan hal itu kepada seorang perempuan suci.

Kasus kematian Eno dengan pacul yang menembus lubang kemaluannya sampai masuk ke dada setelah sebelumnya diperkosa oleh tiga pemuda bejat. Kasus pembunuhan seorang dosen di UMSU oleh mahasiswanya karena kekesalannya pada dosen tersebut. Dan masih banyak lagi kasus-kasus lain yang membuat kita kehilangan harapan ketika memikirkan perilaku sang garuda emas.

Tetapi, harapan tidak akan pernah hilang selama dunia ini masih ada. Dan itu sudah dibuktikan oleh beberapa mahasiswa yang memberi nasi bungkus kepada orang-orang membutuhkan di jalan. Mahasiswa yang membuat sebuah kampung binaan yang isinya anak-anak yatim maupun piatu agar dibina menjadi anak-anak yang berprestasi.

Mahasiswa yang menggalang dana bagi korban bencana alam, korban perang, kecelakaan fatal, semuanya mereka lakukan dengan tulus demi menolong orang-orang yang membutuhkan sebisa mungkin, untuk meringankan beban mereka.

Para mahasiswa inilah yang masih memegang idealisme mereka dan misi mereka sebagai “agent of change”. Merelakan waktu mereka untuk membantu gelandangan tua, tukang becak lusuh, dan anak-anak jalanan, semua itu mereka lakukan demi terwujudnya kepedulian diantara kita masyarakat Indonesia.

Salah satu gerakan besar yang dilakukan oleh pemuda kita, mahasiswa yang telah wisuda kemudian mengabdi kepada masyarakat, adalah membina masyarakat Dolly, yang sekarang telah berubah nama menjadi Putat Jaya. Dua tahun yang lalu, Dolly ditutup oleh walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini. Saat itu, Dolly merupakan pusat prostitusi terbesar di Asia Tenggara!

Bayangkan di negara yang penduduk Islam-nya terbanyak di dunia, apakah wajar hal seperti ini terjadi? Karena itulah, setelah Dolly ditutup, kumpulan pemuda yang menamakan diri mereka “Gerakan Melukis Harapan” ini mulai bergerak ke Dolly dan terjun ke masyarakat di sana untuk membina mereka.

Setelah Dolly ditutup, kekhawatiran terbesar adalah usaha prostitusi tetap dijalankan karena hilangnya pekerjaan masyarakat disana. Gerakan Melukis Harapan datang dan membina para ibu-ibu dan bapak-bapak disana sehingga mereka menjadi produktif dan mempunyai usaha baru. Akhirnya usaha mereka berhasil, dan salah satu buah keberhasilan mereka adalah hadirnya cemilan yang diberi nama “Samijali”.

Ternyata teknologi adalah faktor penting dalam pergerakan para pemuda untuk  melakukan aksi sosial. Transfer uang lewat ATM, jarkoman lewat media sosial, memudahkan penyaluran dana sosial ke rekening orang yang mengumpulkan dana tersebut, untuk kemudian disumbangkan ke sebuah lembaga atau langsung kepada orang yang membutuhkan.

Namun, teknologi juga menjadi bumerang kepada para pengumpul dana sosial sendiri. Karena dunia maya, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kebohongan, penuh dengan niat oknum-oknum jahat yang berkepentingan. Tak heran jika ada saja berita-berita miring yang berakhir dengan penipuan dengan kedok pengumpulan dana sosial untuk orang yang membutuhkan.

Hal ini, adalah salah satu penyebab  beerkurangnya kepekaan orang-orang jadi berkurang terhadap aksi sosial. Sebut saja kasus Bu Saeni. Kasus tersebut adalah kasus yang kontroversial karena dicurigai adanya permainan media untuk menyudutkan salah satu pihak dalam kasus itu.

Orang-orang di seluruh Indonesia baik pemuda atau bukan pun, menggalang dana sumbangan untuk Bu Saenah dan beberapa warung di sekitarnya, bahkan Pak Jokowi sendiri, ikut menyumbang sebesar sepuluh juta.

Yang menarik disini adalah, ternyata Bu Saeni bukanlah orang yang benar-benar membutuhkan, dan ternyata beliau buta huruf, sehingga tidak bisa membaca pengumuman yang diumumkan oleh pemerintah Serang. Namun logikanya adalah, jika pemerintah Serang dari dulu sudah menerapkan peraturan seperti ini, apa mungkin Bu Saeni tidak melihat hal itu dari lingkungan sekitarnya, bukankah ini zamannya teknologi? Bukankah ini sebuah kebetulan yang ajaib?

Karena itu, media beserta pelengkap-pelengkapnya harus dicermati terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut terkait hal yang diberitakan di dalamnya. Jangan mudah percaya dengan kata-kata yang terlihat sangat menyakinkan, bisa jadi itulah penipu licik yang bersembunyi dibalik sayap malaikat. Sekali lagi, hati-hati!! Harta yang kita relakan untuk membantu orang lain ternyata jatuh ke tangan penjahat berlidah lintah.

Sebagai generasi yang terdidik, seharusnya kita dapat berpikir kritis tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini, jangan langsung menelan mentah-mentah sebelum tahu siapa yang menyebarkan informasi tersebut. Sebagai para aktivis kemanusiaan hal ini bisa berakibat fatal, jika uang yang sudah terkumpul kita sumbangkan melalu sebuah lembaga berkedok aksi kemanusian ternyata para perampok yang haus akan harta dunia.

Berhati-hatilah dengan teknologi yang semakin canggih. Aksi sosial bukan hal yang buruk, penggalangan dana bukan hal yang membuang-buang waktu, membina anak-anak yatim piatu bukanlah hal yang sia-sia. Itu semua adalah langkah kecil sebagai batu loncatan ketika para pemuda telah memegang jabatan di lingkaran permainan pemerintah, dan mereka tetap memegang idealisme mereka.

Namun sekali lagi, berhati-hatilah pada kecanggihan di zaman ini, ia bisa menjadi pencipta kebaikan, tapi bisa juga menjadi pembentuk kejahatan. Tetap berjuang wahai para pemuda bangsa. Kami masih membutuhkan darah muda kalian untuk negeri ini. Karena Indonesia harus bangkit dan maju untuk rakyatnya. MERDEKA!!!

#LombaEsaiKemanusiaan