Karl Marx terkenal bukan hanya sebagai seorang filsuf, melainkan juga seorang ahli politik, ahli sejarah, ahli sosiologi, dan ahli ekonomi

Sejarah pergumulan pemikiran Karl Marx lazimnya dibagi menjadi dua, yaitu Marx muda dan Marx tua. Pemikiran Marx muda lebih humanistik, menekankan pada pembebasan manusia dari penindasan dan keterasingan. Sementara, pemikiran Marx tua lebih deterministis atau ideologis. 

Akan tetapi, pemikiran Marx muda tentu sedikit banyak memengaruhi pemikiran Marx tua. Meski baru muncul belakangan, pemikiran Marx tua lebih dulu populer. Partai buruh di Eropa mendasarkan diri pada ajaran Marx, lebih tepatnya Marxisme.

Sementara itu, pemikiran Marx muda baru santer dibicarakan ketika David Ryazanov, seorang Marxis sekaligus kepala Institut Marx-Engels di Moscow, pada tahun 1932, menerbitkan kumpulan tulisan Marx sewaktu tinggal di Paris.

Kumpulan tulisan Marx tersebut diberi judul Paris Manuscript. Sejak itulah pemikiran Marx diketahui mempunyai perbedaan dengan karya-karyanya yang bersifat ekonomis dan deterministis di masa tua. Dalam Paris Manuscript, Marx tampil sebagai seorang filsuf humanistis yang menyuarakan pembebasan manusia dari penindasan penguasa dan keterasingan.

Pemikiran Marx dipengaruhi oleh pemikiran Hegel dan Feuerbach. Dari Hegel, Marx meminjam dialektikanya. Sedangkan dari Feuerbach, ia memakai idenya mengenai dunia materi sebagai kenyataan terakhir objek-objek indrawi.

Dari kedua fokus tokoh tersebut, ia mengembangkan pemikiran filsafatnya. Hegel yang cenderung dialektis dan Feuerbach yang materialis digabungkan olehnya menjadi dialektika materialis atau materialisme dialektika.

Marx bukan sekadar meminjam dan memakai pemikiran kedua tokoh tersebut, melainkan juga mengkritisinya. Menurutnya, pemikiran kedua tokoh tersebut masih melayang-layang di atas langit, atau bersifat kontemplatif, idealis, non-aksi, dan tidak menimbulkan perubahan sama sekali dalam kehidupan sosial.

Pada dasarnya, ia juga mengkritik para filsuf sebelum dirinya. Dalam hal ini, kata-katanya yang terkenal ialah, para filsuf tidak lebih dari sekadar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya.

Jadi, Marx menginginkan filsafat dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupan manusia. Ia tidak ingin bermain-main dengan dunia pemikiran yang tidak menghasilkan suatu perubahan. Meskipun demikian, tetap saja ia memakai pemikiran tokoh-tokoh sebelumnya dalam merumuskan filsafatnya.

Namun, ia tidak lagi membuat filsafat melayang-layang di langit, melainkan diturunkan ke bumi, sebagaimana yang pernah dilakukan Socrates pada masa Yunani kuno, tetapi dalam konteks yang berbeda. Socrates lebih menekankan ajarannya pada etika, sementara Marx pada kegiatan ekonomi masyarakat.

Meski pemikiran Marx dipengaruhi oleh pemikiran Hegel, Marx juga mengkritik Hegel. Salah satu hal dari pemikiran Hegel yang ia kritik adalah mengenai dialektika sejarah. Dalam dialektika sejarah Hegel, diyakini bahwa sejarah digerakkan oleh Roh Absolut.

Sejarah tersebut berlangsung berkat adanya dua hal yang bertentangan, kemudian didamaikan atau dikompromikan sehingga menjadi satu kesatuan. Ketika menyatu, maka perkembangan sejarah makin ideal dan rasio dunia makin paham dirinya.

Menurut Marx, Hegel merumuskan dialektika sejarah dalam ranah konseptual saja, tidak menyentuh hal-hal yang praktis. Artinya, konsep dialektika sejarah semacam itu tidak akan menimbulkan perubahan berarti dalam kehidupan manusia.

Marx menghendaki perubahan sosial. Oleh karena itu, bagi Marx, yang menggerakkan sejarah bukanlah Roh Absolut, melainkan faktor-faktor material dalam masyarakat. Material di sini diartikan sebagai kegiatan ekonomi masyarakat. Jadi, kegiatan ekonomi atau kerja sosial yang menggerakkan sejarah.

Di sini, sangatlah jelas perbedaan pemikiran antara Marx dan Hegel. Hegel mempercayai adanya Roh Absolut yang bekerja di balik rasio manusia, sementara Marx tidak meyakininya.

Marx, seperti halnya Feuerbach, meyakini kenyataan terakhir adalah materi. Tetapi, Marx menekankan lain terhadap “materi”, yang menurutnya merupakan kegiatan ekonomi masyarakat. Maka dari itu, kegiatan ekonomi menjadi dasar bagi perkembangan sejarah (basis struktur).

Karena ekonomi menjadi dasar gerakan sejarah, maka seluruh konsep pengetahuan, seperti agama, filsafat, seni, ideologi, politik, dan sebagainya, dihasilkan dari kegiatan ekonomi. Maksudnya, kegiatan ekonomi telah membangun pemikiran atau kesadaran manusia. Dan, seluruh konsep pengetahuan tersebut, oleh Marx, disebut superstruktur.

Sehubungan dengan hal itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk mengetahui latar belakang pengetahuan yang berkembang dalam suatu masyarakat, maka kita mengamati saja kegiatan ekonomi yang berlangsung di dalam masyarakat tersebut.

Selanjutnya, Marx menyebutkan adanya dialektika, tetapi bukan dialektika dalam pemikiran Hegel, melainkan dialektika dalam kenyataan, yaitu dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Jadi, dalam kegiatan ekonomi masyarakat, terdapat pertentangan yang kemudian didamaikan atau dikompromikan oleh, dalam bahasa Marx, “revolusi”.

Pertentangan terjadi dalam kegiatan ekonomi masyarakat dikarenakan alat-alat produksi dan bahan-bahan material dikuasai oleh kelas borjuis. Sementara, individu-individu yang tergolong kelas proletar tidak memiliki hak milik atas alat-alat produksi dan bahan material. 

Kelas proletar lebih rendah derajatnya daripada kelas borjuis, sebab kelas proletar bekerja pada kelas borjuis. Kelas proletar disebut sebagai buruh karena untuk mendapatkan hidup, mereka harus bekerja atau menjual tenaga mereka kepada orang-orang yang memiliki modal dan alat-alat produksi.

Persoalannya, Marx menemukan hubungan kerja yang tidak sehat antara kelas borjuis dan kelas proletar. Menurutnya, pemilik modal telah melakukan eksploitasi terhadap para pekerja, yaitu dengan cara mengganji mereka secara sewenang-wenang. 

Para buruh diupah tidak sesuai dengan apa yang telah diproduksi mereka. Dengan kata lain, gaji mereka dipotong. Hal ini dilakukan oleh pemilik modal untuk memperkaya diri dan memperbesar sistem ekonominya. Oleh karena itu, Marx menyimpulkan bahwa para buruh bekerja bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk para kapitalis.

Untuk menghentikan eksploitasi tersebut, tiada ada cara lain kecuali dengan menghapus hak milik pribadi. Namun, hal ini sangat sulit dilakukan, karena kelas borjuis tidak akan rela hak miliknya dihapus.

Maka dari itu, Marx meramalkan, ketika kaum proletar makin besar dan tidak kuat menahan penderitaan akibat dieksploitasi secara terus-menerus, niscaya akan terjadi revolusi, yaitu pemberontakan kelas proletar terhadap kelas borjuis, yang pada akhirnya akan dimenangkan oleh kelas proletar. Ujung pertentangan ini akan berakhir dengan ditegakkannya masyarakat tanpa kelas.