Oktober 2015

Dring...“.

Pesan/ SMS masuk di gawaiku yang berada di atas tempat tidur tepat di samping aku berbaring. Ku lihat jam dinding di kamar kost menunjukkan pukul 20:15 WIB. Tidak terlalu aku hiraukan SMS yang masuk itu. Aku masih terbaring lelah melepas penat. Aku baru saja pulang dari pantai bersama teman-teman kampus dalam agenda liburan bersama dosen tercinta, yaitu wali kelasku. Namanya pak Gusti. Orangnya baik, ramah dan Humble, mirip seperti Abah ku.

Sudah lama sekali kami tidak liburan untuk sekadar melepas penat dari rutinitas kuliah yang begitu padat karena sudah semester 5. Aku adalah mahasiswi DIII Keperawatan di POTEKKES KEMENKES Pontianak Jurusan Keperawatan Singkawang. Biasanya aku selalu pulang kampung setiap minggu. Tetapi untuk minggu ini, aku memang sengaja tidak pulang (Sungai Kunyit, Mempawah) dan tetap di kota perantauan Singkawang karena memang rencana teman sekelas dari sebulan yang lalu untuk liburan bersama.

Pakaianku masih belum ku ganti setelah pulang dari pantai. Sambil membersihkan baju yang masih tertempel sedikit pasir pantai menggunakan tangan, aku meraih gawai yang tidak aku hiraukan dari 10 menit yang lalu. Ku buka pesannya,

 Dik, bisa pulang?” 

SMS dari kakak kandungku yang ada di Sungai Kunyit. Dalam hatiku bergumam, seumur-umur baru kali ini dapat SMS dari kakakku dengan kata kata seperti ini. Padahal aku sudah bilang tidak dapat pulang minggu ini. Apalagi aku sangat tahu, kakakku adalah kakak yang cuek. Dia hanya berbicara saat memang ada perlu, apalagi lewat handphone. Tapi kenapa ini, Hati ku membatin.

Masih dengan pikiran yang bingung, ku balas pesan itu.

 Kenapa memangnya kak?”

Jawabku sok tenang. Aku semakin penasaran dan  berusaha membuang fikiran negatif, walaupun hal itu tergambar di benakku dan berkecamuk. Tiba-tiba ada balasan lagi,

 Pulang saja dik, nanti kamu akan tahu”.

Aku pun semakin membatin dan jantungku ikut berdetak cepat. Ku balas dengan cepat karena penasaran,

Sebenarnya ada apa? Haruskah aku pulangbesok aku ada mata kuliah.” 

Aku menjawab seperti itu agar kakakku mau memberikan keterangan dengan jujur dan segera. Tetapi ku tunggu, lama sekali, sekitar 20 menit tidak ada jawaban. Aku gusar dan semakin tidak tenang. Menelepon juga tidak berani. Aku terus membayangkan sosoknya dan terus berdoa agar apa yang ada difikiranku tidak benar.

Dring....

SMS masuk dan dengan segera aku buka,

Abah sudah tidak sadarkan diri dan kritis dek.” (deggg.....).

 Seketika tangan dan kakiku layu. Layu seperti tidak ada penyangga. Lama aku terdiam dan tidak terasa air mata ini menetes sedikit demi sedikit sambil aku membalas pesan.

Apakah masih bernafas normaldan apakah sudah dibawa ke RS (Rumah Sakit)”?

Dengan cepat kakakaku membalas.

Sudah tidak bisa dik, Abah sudah tidak sadarkan diri dari pukul 5 sore”.

Yaa Allah, apa ini. Detakan jantungku semakin parah degupnya. Air mataku semakin deras mengalir. Lalu Aku balas pesan itu lagi.

Kenapa tidak dibawa ke RS dari tadi saat pertama kali tidak sadarkan diri? 

Tidak lama berselang waktu, kakakku langsung menelfon. Aku angkat telepon tersebut dengan nada serak dan  kecewa serta marah.

 Tolong bawa Abah sekarang ke RS di dekat tempat aku kuliah, aku yakin Abah masih bisa diselamatkan.”

Ibu pun sontak menjawab dengan suara menahan tangis.

Tidak bisa dik, kamu saja yang pulang. Abah hanya perlu kamu di sampingnya di sini, bukan di Rumah Sakit.”

Aku menjawab dengan nada sangat kesal dan suaraku gemetar.

 Tidak bisa bu, aku perawat, mana mungkin aku membiarkan abahku sekarat sedangkan tidak dilakukan apapun.

Ibu menjawab lagi.

 Tadi sudah dipanggilkan (sebut saja namanya Ki Gedeh, dengan pengobatan tradisional) kata Ki Gedeh, jika sudah begini tidak boleh memasukan cairan melalui jarum infus, jadi diurut saja.”

Aku geram. Aku merasa tidak berguna seketika. Bagaimana bisa ibuku masih percaya terhadap hal seperti itu, daripada aku anak kandungnya seorang mahasiswi keperawatan yang sudah mau selesai. Aku bergumam di dalam hati, mahasiswi tingkat akhir yang tak berguna bagi Abahku yang sedang kritis, itulah aku.

 Tanpa pikir panjang langsung ku katakan.

 “Jika Abah tidak dibawa ke rumah sakit sekarang, aku tidak akan melanjutkan kuliahku.” Aku langsung mematikan telepon itu. Sudah tidak sanggup rasanya mendengar percakapan tidak berguna dari ibu dan kakak ku. Aku tau mereka sakit mendengar perkataanku itu. Tapi aku tak tau apalagi yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan nyawa Abahku selain mengancam mereka. Aku sangat tahu ajal itu urusan Allah. Tapi berdiam diri tanpa usaha itu sangat memukulku. Ibu, kakak, maafkan diriku, aku harus melakukannya. \

Selang beberapa waktu, Alhamdulillah  dapat balasan dari kakak lewat SMS.

 “Iya dik, kami akan membawa Abah ke rumah sakit sekarang.“

Akupun bergegas langsung pergi keluar kos menggunakan motor tanpa mengganti pakaian yang masih tertempel pasir pantai itu.

Aku sungguh tidak tenang dan sangat khawatir. Aku langsung melaju saja tanpa memikirkan bajuku yang lusuh. Di perjalanan menuju Rumah Sakit Vinsen, aku tidak dapat memikirkan apa-apa selain kesembuhan abahku. Aku sengaja menganjurkan abah dibawa ke rumah sakit itu karena aku merasa pelayanannya lebih baik daripada Rumah Sakit lainnya yang ada di Singkawang.

Di perjalanan itu, aku teringat saat abah dan ibu menghadiri acara Caping Day Keperawatan (acara pelepasan mahasiswa baru menuju ke tingkat 2 atau semester 3), aku sangat bahagia karena kedua orang tuaku bisa mendampingiku pada saat itu, dan aku mendapatkan prestasi terbaik juga. Ya Allah, izinkan hamba merasakannya kembali saat wisuda. Tapi sekarang, harapanku terasa sangat hampa. Air mataku menetes lagi bagai air yang mengalir deras tanpa sekat. Yaa.. benar, aku sangat cengeng soal hati walaupun aku kuat secara fisik seperti laki laki. Itu gelar yang ditujukan terhadapku, tomboy berhati hello kitty.

Tapi, walaupun rasa sedih itu memang tidak dapat aku ingkari, aku tetap optimis Abah bisa diselamatkan. Walaupun aku begitu kecewa dengan ibu dan keluargaku di kampung. Mereka membiarkan abah begitu saja. Tidak membawa abah ke Rumah sakit, dan lebih mendengarkan orang yang menurutku tidak tau apa-apa tentang sakit yang abah derita dan malah semakin memperburuk keadaan. Sungguh sangat menyakitkan dengan posisiku sebagai anaknya dan sebagai mahasiwa keperawatan, tidak ada gunanya sama sekali. Gerutuku dalam hati.

***

Akhirnya aku sampai di Rumah Sakit Vinsen. Ku parkirkan motorku dan aku langsung menunggu di ruang tunggu. Aku meraih handphone yang ada di tasku, ternyata ada pesan dari Fitri sepupuku.

 Kami sudah di mobil ambulan, sudah berada di sungai duri”

 aku pun dengan segera menelponnya.

“Kalian sudah di mana? Bagaimana kondisi abah?”

Fitri menjawab.

 “Sudah lewat sungai duri, masih bernafas tapi ada bunyi seperti orang mendengkur”. Mendengkur? Sebagai mahasiwa keperawatan, aku tahu, itu adalah tanda bahwa sudah ada penumpukkan lendir/cairan di saluran pernapasan, dan jika penanganannya lambat akan fatal.

Ya Allah aku membatin lagi, ini sudah jam 10 malam, Abah sudah tidak sadarkan diri dari jam 5 sore. Sudah sekitar 5 jam. Hatiku menangis dalam diam, air mataku tidak dapat keluar lagi, hatiku kian hancur. Bagaimana bisa ini terjadi. Lama aku termenung. Adik sepupuku bertanya kembali.

“Gimana kak? Apa yang harus kami lakukan?”

Aku menjawab dengan sambil menenangkan diri.

 “Itu ambulan apa? Apakah ada tabung oksigen?”

 “Tidak ada kak, ini ambulan yang tidak lengkap peralatannya.”

 Yaa Allah apa lagi ini. Aku sudah tidak bertenaga lagi untuk mengomel dan akhirnya aku hanya berkata

“Ya sudah, pastikan saja tetap bernafas dan hubungi aku jika terjadi apa-apa.”

 Sepupuku mengiyakan, dan ku matikan teleponnya.

Aku terus saja menunggu hingga pukul 11 malam. Akhirnya ada ambulan yang datang. Aku yakin itu adalah ambulan yang membawa abahku. Aku pun bergegas dari tempat duduk. Abah langsung diturunkan dari ambulan itu. Aku mengusap air mata dan berusaha seperti tidak terlalu bersedih dan tegar walau sebenarnya hatiku sangat hancur. Abahku langsung diantar ke ruang IGD dan bertemu dokter jaga di ruangan. Keluargaku langsung menceritakan kronologinya, dan aku menambahkan untuk memperjelasnya.

Ternyata kata-kata yang tidak diharapkan keluar dari lisan dokter jaga.

 ”Dokter spesialis syaraf tidak ada, sedang cuti, pasien ini harus di CT-Scan dengan persetujuan dari dokter spesialis syaraf.”

 Yaa Allah aku merasa ingin memukul diriku sendiri. Bagaimana bisa aku begitu yakin bahwa di rumah sakit itu pasti ada dokter yang lengkap, dan aku pun tidak ada inisiatif untuk bertanya. Sungguh aku hanya semakin memperlama dan memperburuk kondisi abahku. Aku merasa sangat berdosa. Akhirnya dokter di Rumah Sakit Vinsen menyarankan untuk di bawa ke Rumah Sakit Abdul Aziz. Karena disana  ada dokter spesialis syaraf. Tanpa fikir panjang kami langsung membawa abah kesana. Ku pacu kencang motorku mengiringi ambulan menuju Rumah Sakit Abdul Aziz.

Di Rumah Sakit Abdul Aziz abahku langsung ditangani dengan segera. Aku menghantarkannya sampai ke ruangan IGD. Tiba-tiba ada suara yang menyapaku. Dia Clinical Instruktur/ CI (pembimbing mahasiswa saat praktik) di IGD, ketika aku magang disana sekitar 3 bulan yang lalu dalam stase gawat darurat.

”Eh.. Uni, ini ayahmu?” Ia bertanya dengan ramah.

 “Ehmm iya bu.” Jawabku dengan nada yang datar dan suara yang pelan.

“Sabar ya Uni, banyak-banyak berdoa, kami akan melakukan yang terbaik. Sambil berdoa, silakan tunggu di luar ya Uni.”

Beliau menghiburku dan mencoba menabahkanku. Terimakasih sudah mencoba menabahkanku, walaupun itu tidak dapat mengubah suasana hatiku dengan seketika. Gumam hatiku pilu.

Aku lihat Ibuku, ia begitu sangat sedih dan bingung dengan keadaan. Begitu juga dengan kakaku. Tampak sekali di raut wajahnya penyesalan dan harapan yang kuat tetapi begitu pasrah. Kakakku hamil 7 bulan dan ini kali pertamanya. Aku bersyukur sekaligus khawatir ia ikut ke rumah sakit menghantar abah. Selain itu, tampak wajah sepupuku Fitri dan serta tetanggaku yang menemani saat abahku diantar ke rumah sakit. Hanya aku saja yang mencoba tenang dan berusaha menabahkan diri, walaupun hatiku begitu dipenuhi dengan gemuruh yang berombak seperti air pasang laut, tak dapat terbendung aku benar-benar patah. Langkah kakiku lunglai dan pasrah menuju arah parkir. Ku tatap langit itu dengan hiasan bintangnya yang berkedip sambil berbicara dengan diriku sendiri.

Bintang, engkau tampak indah, andaikan malam ini seindah sinar redupmu. Tapi apalah daya segelap semesta malammu.

Tak lama sekitar 10 menit, tiba-tiba terdengar suara dari ruangan IGD. Langkah kaki perawat dan dokter pun semakin cepat. Aku berlari dan masuk kedalam.

 “Ada apa? Apa yang terjadi dengan Abah?”

Tanyaku. dan sahut salah satu perawat yang menangani pasien lain yang tidak terlalu darurat di IGD.

 “Itu ayahmu ya dik, dia mengalami henti jantung dan tim kami sedang melakukan tindakan medis untuk menyelamatkannya, kamu harap bersabar ya.” 

Apa? Apakah saya boleh masuk? Saya adalah mahasiswa keperawatan yang pernah magang disini, Saya ingin melihatnya.”

 Perawat itu pun mengangguk tanda mengizinkan, walaupun sebenarnya berat. Itu tampak dari raut wajahnya yang iba kepadaku dan keluargaku.

Sebelum aku masuk melihat abahku yang sedang dilakuakn tindakan dengan di tutupi tirai, aku melihat ke arah luar. Ibu, kakak, dan sepupuku sudah cemas dan hanya duduk terdiam. Lalu aku masuk ke dalam bilik tirai. Sesuatu yang tidak pernah aku sangka dalam hidupku, dan aku menyaksikannya di depan mataku. Aku melihat sendiri orang tuaku, abahku, dilakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP), di tempat aku pernah magang, dan sekarang aku tidak dapat melakukan apa apa, hanya melihat saja. Ya Allah pemandangan apa ini. Abahku di pijat jantungnya, diberi bantuan oksigen, di pasang infus di tangan kiri dan kanan, ditekan dadanya, diberikan oksigen lagi, begitu terus berulang kali, sampai aku sudah tidak sanggup lagi untuk melihatnya karena kakiku yang gemetar. Aku keluar dari tirai itu. Berdiri tersandar di dinding yang tidak jauh dari tempat tidur abahku dilakukan tindakan.

Tiba-tiba, ada yang menepuk punggungku dari belakang.

 “Unni, yang kuat yaa, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan abah kamu sudah tidak dapat diselamatkan. Beliau meninggal pukul 00:30 dengan diagnosa Stroke Haemoragic.”

Sungguh, pernyataan dari CI ramah itu, sangat merontokkan hati dan jiwaku seketika. Hilang, lenyap, seperti mimpi. Aku keluar dari ruangan itu, melangkah berjalan kedepan menemui keluargku, tanpa ekspresi apapun dan tanpa satu katapun. Ibu dan kakaku sepertinya sudah tau dengan apa yang terjadi. Sehingga mereka hanya memelukku dan menangis tersedu-sedu. Serta aku, yaaa aku, masih tanpa ekspresi dan tanpa air mata. Tapi sungguh, ada jiwa yang hilang di hati ini, dan yang pastinya, wisuda bersama kedua orang tua yang lengkap hanya tinggal angan dan mimpi semata.

***

September 2020

Ternyata itu pertemuan dan kata-kata terakhir dari beliau sebelum kepergiannya untuk selamanya. Sejujurnya aku sudah tidak sanggup menceritakan kisah ini karena begitu menyakitkan. Tapi aku merasa perlu untuk membagikannya dengan para pembaca agar kita lebih menghargai dan menghormati, serta mencintai dengan setulus hati orang tua kita ketika mereka masih ada.

Aku termasuk anak yang tegas dan manja karena aku anak perempuan bungsu dari dua bersaudara. Sekarang usiaku sudah 24 tahun. Abahku meninggal saat usiaku 20 tahun. Tegas, itu adalah didikan abahku soal prinsip hidup. Beliau mengajarkan aku untuk tegas dalam prinsip hidup yang kita pegang agar kita tidak terbawa arus kehidupan yang negatif. Hanya terkadang ketegasanku itu di anggap keras oleh mereka yang tidak mengerti dan memahami kondisinya. Abah adalah sosok yang sangat membanggakan di dalam hidupku. Beliau selalu ada dan selalu mensupport pendidikanku. Aku selalu bergantung kepadanya dalam setiap urusan. Hanya terkadang, saking manjanya, aku akan marah dan kecewa saat keinginanku tidak terpenuhi sewaktu aku kecil bahkan sampai SMA. Betapa menyesalnya aku, mungkin aku telah membebaninya.

Saat ini, aku telah sendiri dan kehilangan sosok hero dalam hidupku yang mengajarkanku arti kuat dan tangguh. Abah sudah wafat, dan aku harus mandiri. Ada satu doa dan mimpi yang diharapkan beliau padaku. Beliau mengatakan “Anakku, nanti kalau sudah jadi perawat buka praktik mandiri ya.” Alhamdulillah sekarang aku telah menjadi perawat dan bermanfaat bagi orang lain. Walaupun tidak seberapa, setidaknya untuk lingkungan tempat tinggalku. Walaupun dengan peralatan seadanya, tapi aku merasa bermanfaat sekali karena telah berguna bagi masyarakat.

Terima kasih abah atas semangatnya dan nasehat kehidupanya. Terima kasih sudah menjadi Abah yang luar biasa dalam hidupku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mengharumkan namamu. Itu semua atas bakti ku padamu walau engkau telah tiada. Untuk orang tua ku satu-satunya yaitu ibu, aku berjanji akan menjaganya dan berusaha tidak akan menyakitinya.

Jiwa ku yang suci telah diisi dengan rangkaian kisah-kisah kehidupan penuh cita rasa. Begitu banyak problematika hidup yang aku alami terutama saat engkau sudah tak lagi di sisi. Pahit manis hidup itu memang terasa sangat getir, tapi semakin getir tanpa kehadiran sosok ayah di hidupku lagi. Tak dapat ku bayangkan bagaimana seorang yang masih belia telah kehilangan sosok ayahnya sejak dini, sedangkan aku yang sudah menginjak dewasa saja merasa begitu kehilangan.

Air mata itu selalu mengalir bahkan hanya pada saat aku mengingat sedikit momen hidup bersama. Terlintas saja, tapi air mataku sontak keluar. Apalagi dengan menuliskan kisah ini, tak henti-henitinya aku menyeka air mata.

Aku melalui banyak waktu bersamamu. Berbagi tawa dan cerita sampai aku lupa bahwa ada waktu di mana engkau akan pergi selamanya. Engkau mahkluk Tuhan, begitu juga aku. Salam rindu dari anak bungsumu _oenni_.