Anjungan

Hai sayang, bolehkah aku memegang tangamu?

Angkuh gelora wanita yang kusayangi

Mungkin kerena masih dalam kategori baru dan malu

Antara malu dan mau

Bahkan ingin tetapi hilang ditiup angin

Sayang, kamu lihat tempat itu?

Indah bukan, sepertinya kita harus mencobanya

Cuih, selalu diabaikan hingga tak dipedulikan

Haruskah aku menyerah?

Ataukah aku mengalah?

Kebanyakan lelaki mengalah karena ingin permasalahan selesai dengan cepat bukan?

Sayang, senyumlah

Lihatlah tempat itu, aku mengenalmu disana dan berpisah disana

Apa kamu masih mengingat kejadian itu?

Bak seorang binatang, bodoh tak mengakui kesalahan

Nyata, kamu berbohong

Sudahlah, kenangan hanya bisa diingat

Tanpamu aku kuat

Walaupun pada akhirnya merana

Dan akhirnya selalu bertamasya sendiri dengan apa adanya

Penampungan hewan

Perjalanan ditempuh karena bosan telah datang

Akhir minggu akhir bulan sama saja

Dompet andalan teriak bukan kepalang

Yang indah ya apa adanya

Pemerasan ataukah ketergantungan?

satu rupaah hingga duit bulanan lenyap seketika

mulai dari tatapan hingga berpegangan

jurus ampuh penggodaan jurus andalannya

seperti sapi yang terus diperas

bukannya pelit atau tidak ingin

hanya saja penyimpanan menjadi keras

tak selalu cair seperti kecap asin

aku ingin dirimu yang apa adanya

bukan mencari ada apanya

hal indah bisa kita raih dengan cara menerima satu sama lain

mulai dari hal kecil hingga besar

mulai dari rasa garam hingga enaknya keratin

aku hanya ingin bersamamu

tanpa pemerasan

tanpa adanya penyesalan

Lautan Kebohongan

Perjalanan demi perjalanan dilakukan

Hingga akhirnya memutuskan untuk mencari keindahan dan kesegaran

Memang benar, deburan ombak membuat hati tenang

Tapi hati-hati keseret indahnya yang dibungkus senyuman

Pasir pantainya memang indah

Hanya saja pengunjungnya tak tau apa itu indah

Perkelahian dan kesenangan terjadi disana

Entah apa yang menyebabkan

Antara kejujuruan sudah menjadi kebohongan

Ataukah bohong telah berubah menjadi kebenaran?

Teralu sering hingga akhirnya kering

Sudah terbiasa dan akhirnya ya sudahlah

Tak mengerti kenapa menjadi formalitas

Apa adanya toh sangat indah bukan?

Entah kenapa semua orang benci dibohongi

Dosamu sebanyak air laut di bumi

Yang membedakannya ialah

Bohongmu abadi dan pahit rasanya

Kota tua

Krl merupakan saksi perjalanan indah kita berdua

Transit demi transit dilakukan demi mencapai tujuan

Kota tua dan kenangan muda

Dua hal berbeda tapi memang ya seperti itu

Perjalanan menjadi tua tentu saja banyak kenangan

Mulai dari dibangun dan akhirnya setia

Menjadi tua toh setia bukan?

Semoga kita seperti kota tua

Berdiri kokoh dan mengukir kenangan bersama-bersama

Hanya saya aku juga benci kepada kota tua

Sekarang ia sudah menjadi ramai

Banyak yang berdatangan

Kemudian pergi kembali karena kebutuhan telah dicapai

Dan semog kita abadi

Layaknya tua seperti kota tua

Warkop

Bukan wisata

Tapi tempat ini memberikan banyak kisah

Aku kira kamu tak mau menerimanya

Ataukah dengan terpaksa?

Maaf, aku hanya bisa mambawamu ke tempat itu

Maaf juga karena hasil make-upmu telah kotor dengan asap rokok

Tapi terima kasih telah menerimaku

Beginilah aku

Tidak sempurna dan tidak bisa apa-apa

Yang aku bisa

Mencintaimu dengan sederhana

Mencintaimu sampai aku tak bisa berkata-kata

Terima kasih telah bersama

Selamat menua

Warkop dan indomienya menyatukan kita

Kisah perjalaan

Kala itu diujung tahun kelahiranku

Sepasang suami istri bahagai sentosa

Mengandung seorang putra yang entah kapan lahirnya

Terus berjalan dan mencari tempat tinggal

Membawa seorang putra dengan sabar dan tabah

Kesatria keluarga sibuk mencari biaya lahiran

Tuan putri sederhana mengeluh kesakitan

Apakah putra itu bencana atau rencana?

Meraka bahagai atau sengsara?

Tidak punya rumah

Tidak punya tempat tinggal

Tidak punya apapun

Tapi mereka tetap ingin seorang anak

Baik putra maupun putri

Mereka terima dengan lapang dada

*

Kala itu hari senin kliwon

Sekitar pukul enam sore

Tuan putri melapor kepada pangeran rumah

Kebingungan dan akhirnya mencari hutang

Apakah benar ini bencana?

Ataukah rencana yang akhirnya ditinggalkan?

Sang putra dalam perut terus memberontak

Katanya sebentar lagi ia akan melihat bumi

Nanti dulu kataku

Bumi terlalu jahat untuk kau tempati

Pergi saja ke suraga

Hidup tenang disana

Bersama malaikat yang terus menjagamu

Hingga akhirnya kau menemukan orang tuamu

Yang bisa menjagamu di surga

Denang tenang tanpa hutang

*

Kala itu minggu ketiga bulan Desember

Akhrinya si putra ingi keluar dari kurungan kelahiran

Tuan putri kesakitan

Sementara pangeran rumah kebingungan

Sudah ingin keluar kata tuan putri

Panas dingin pangeran rumah

Bagaimana kelahirannya?

Tidak punya kendaraan

Tidak punya uang untuk persalinan

Yang ia punya hanya tuan putri yang mengandung putra

*

Kala itu putra memilih pilihanya

Ia baik karena tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya

Putra bimbang untuk memilihnya

Tapi akhirnya

Putra memilih untuk menunggu tuan putri dan pangeran rumah

Di surga bersama malaikat yang telah menjaga dia.

Berau, 2018