Mahasiswa
2 minggu lalu · 77 view · 4 min baca · Hiburan 15722_26361.jpg
Foto: Ibu Ketut Sutini-salah satu responden saya.

Destinasi dalam Debu

Pada suatu hari yang baik, saya dipertemukan dengan sebuah kegiatan yang mengantarkan saya sampai pada suatu tempat yang berkesan baik pula. Sebuah kegiatan untuk melakuka survei langsung ke masyarakat. 

Ada beberapa kecamatan yang terpilih di Provinsi Sulawesi Tengah untuk disurvei, kemudian mengerucut lagi menjadi hanya beberapa desa saja yang akan dijadikan sampel.

Untuk survei yang berhubungan dengan pemerintahan kali ini, kami terdiri dari beberapa orang dalam satu tim. Semuanya ditempatkan di masing-masing tempat yang berbeda-beda. Kebetulan di antara beberapa teman tim yang mendapat lokasi terpencil, atau jauh dari perkotaan, saya adalah salah satunya.

Saya sendiri ditempatkan di sebuah desa yang bernama Panca Mukti. Salah satu desa yang berada di Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala.

Untuk menjangkau desa ini, dari pusat pemerintahan Kota Donggala, kita mesti menyeberangi Provinsi Sulawesi Barat. Sebab, tiada akses jalan lain yang layak dilalui selain dari melewati provinsi lain untuk memasuki kecamatan tersebut.

Titik awal perjalanan saya menuju daerah tersebut adalah Kota Palu. Kurang lebih 5 Jam lamanya saya di perjalanan, setelah itu saya pun sampai di Desa Panca Mukti, desa tujuan saya. 

Perjalanan yang saya lalui tidaklah mudah, sebab saya mesti beberapa kali salah mengambil jalur. Jalan-jalan di areal perkebunan kelapa sawit banyak bercabang.


Kebingunan saya mencari jalan diperparah oleh tampilan antara persimpangan yang satu dengan yang lainnya yang hampir-hampir mirip, hingga sulit dibedakan jika baru dilalui. Belum lagi jika saya berpapasan dengan kendaraan-kendaraan besar, kepulan debu bukan main tebalnya, sehingga membatasi jarak pandang saya berkendara. 

Jalan-jalan di areal perkebunan sawit memang cukup luas, namun belum ada pengaspalan di sana. Jadi, wajar saja jika jalanan menjadi berdebu ketika dilalui kendaraan, apalagi di musim kemarau, debunya makin menjadi-jadi.

Sebelum sampai di Desa Panca Mukti, saya mesti melalui beberapa desa yang ada di pedalaman Rio Pakava. Perjalanan ke dalam sana rasa-rasanya cukup melelahkan. Belum lagi matahari sedang panas-panasnya. Ah! Buat apa pula saya mengeluhkan panas? Bukankah itu lebih baik daripada hujan, kan? Ya sudalah, syukuri saja.

Setibanya di Desa Panca Mukti, saya merasa lega. Kemudian saya pun langsung menanyakan letak Kantor Desa pada salah seorang warga yang kebetulan saya temui di jalan. Saya pun diarahkan untuk berjalan lurus saja ke depan, kemudian berbelok ke arah kiri setelah menemui persimpangan yang jaraknya sekitar seratus meter di depan.

Di Kantor Desa, kedatangan saya disambut baik oleh beberapa staf yang sedang bekerja. Saya pun menjelaskan dengan baik maksud kedatangan saya.

“Pak Kepala Desa sedang keluar. Sedang menghadiri acara nikahan,” tutur salah seorang staf.

Saya pun kemudian mohon izin untuk menunggu saja, sembari merapikan kembali berkas yang saya bawa. Sekitar satu jam lamanya, pak kepala desa pun datang. Ternyata beliau orangnya sangat terbuka dan ramah. Bahkan saya dijamu makan siang bersama para staf di kantor desa.

Sekitar dua jam lamanya saya di Kantor Desa tersebut untuk mengurus data-data dan berbincang-bincang mengenai warganya. Setelah memperoleh data-data yang diperlukan untuk keperluan survei, serta izin yang telah saya kantongi, saya pun berpamit untuk segera menemui beberapa orang kepala keluarga yang terpilih menjadi sampel saya.

Responden yang saya butuhkan hanya berjumlah 10 orang saja, terdiri dari 2 RT, dan masing-masing RT berjumlah 5 orang responden.

Seperti halnya desa-desa lain di Kecamatan Rio Pakava, Desa Panca Mukti juga adalah daerah transmigran yang dihuni oleh masyarakat yang sifatnya heterogen. Masyarakat di desa ini terdiri dari beberapa suku bangsa, seperti Jawa, Bali, Bugis, Kaili, dan lain sebagainya.


Siapa sangka, di daerah yang masyarakatnya memililki ragam kepercayaan (agama), suku, dan lain sebagainya, ternyata sudah lama dapat hidup dengan harmonis.

Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang paham betul artinya hidup rukun dan damai dalam masyarakat, di saat beberapa daerah besar lainnya di tanah air begitu rawan terhadap konflik yang mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya primordial. Tidak jarang pula mereka yang berkonflik adalah orang-orang yang barang tentu lebih berpendidikan daripada kebanyakan warga di sini.

Salah seorang responden yang saya temui awalnya terlihat cemas dengan kunjungan saya ke rumahnya. Sebab, sulit juga rasanya memahamkan mereka maksud dan tujuan serta kuesioner yang saya bawa, dikarenakan cara berbicara saya yang sedikit berbeda dengan bahasa dan logat mereka yang masih kental bersifat kedaerahan.

Sehingga saya pun berusaha menerjemahkan bahasa dalam kuisioner yang saya bawa ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, sesuai dengan cara-cara masyarakat Donggala berkomunikasi sehari-harinya. Karena kebanyakan warga Desa Panca Mukti adalah mereka yang putus sekolah, dan sehari-harinya bekerja sebagai petani kebun kelapa sawit.

Meskipun begitu, mereka adalah orang-orang yang ramah. Sering kali saya menanyakan pada mereka tentang kondisi antarwarga. Dari bahasa yang mereka keluarkan, dapat saya simpulkan penuh dengan rasa toleransi dan humanis.

Kalaupun ada warga yang menolak untuk saya wawancarai, bukan karena mereka tidak mau menolong saya dalam tugas survei ini. Walakin alasan mereka hanyalah sebatas merasa tidak percaya diri karena pendidikan.

“Tidak tau saya, maaf, saya ini orang bodo. nda tau begituan,” tutur seorang warga yang saya temui. Hingga karena hambatan serupa itu, beberapa kali saya harus bergeser ke calon responden yang lain, sebab saya juga rasanya tidak tega kalau-kalau nantinya mereka terpaksa untuk saya wawancarai, atau merasa tertekan.

Meskipun begitu, saya adalah orang beruntung pada hari itu. Sebab saya masih dihadapkan pada kesempatan untuk belajar. 

Dari mereka saya dapat belajar bahwa hidup lagi-lagi tentang perjuangan panjang. Baik dan buruk mesti dijalani dengan rasa syukur. Dengan rasa syukur, selalu ada kelebihan yang kita rasa. Tentunya, pada lain waktu, saya akan merindukan kegiatan serupa ini.

Terima kasih pada orang-orang baru yang selalu menjadi destinasi yang lebih dari sekadar tempat-tempat eksotik. Pada mereka selalu tersimpan keramahan yang diam-diam bertautan lewat komunikasi, kemudian menjadi seperti keluarga.

Artikel Terkait