Seperti kemarin, sore ini hujan kembali mengguyur kota. Tidak terlalu deras, namun mampu mengubah warna pakaian menjadi lebih gelap jika harus berlama-lama di luar tanpa pelindung. Pelindung ya? Untuk tempat yang bahkan keadilan saja tak bisa ditemukan. Dikelilingi para militer yang menodongkan senapan secara sembarang ke warga yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Mugkin kata pelindung disini perlu dipertanyakan. apakah puing-puing bangunan yang runtuh masih bisa dijadikan tempat berlindung? Entahlah. Bahkan untuk sekadar berjalan saja diperlukan kewaspadaan penuh,  mengerikan. Jika salah-salah melangkah Ranjau darat yang tertanam didalam tanah mampu menghancurkan tubuh hingga berkeping-keping.

Sudah 2 bulan sejak pembantaian terakhir yang menghabiskan hampir setengah penduduk kota. Malam-malam yang penuh rintihan serta tangisan, tak bisa melepaskan rasa ketakuan yang terus-menerus menghantui mereka hingga pagi menjelang. Berjuang untuk bertahan pun rasanya tidak pantas. Jika orang-orang tersayang sudah tidak bisa diselamatkan. Apalagi sekarang, tak ada lagi bantuan yang dikerahkan, ah, atau mungkin memang tidak pernah ada, ya?. Bergantung pada bahan-bahan yang tersisa. Makanan, dan tempat tinggal kini menjadi sesuatu yang diperebutkan. Namun, bagi beberapa orang, memiliki pasokan obat-obatan yang memadai dan bisa mengenggam erat tangan orang-orang tersayang lebih dikedepankan saja sudah lebih dari cukup.

Seorang anak Laki-laki sekitar 16 tahun dengan pakaian yang berukuran seperempat lebih besar dari ukuran tubuhnya tengah berteduh di bawah pohon yang hampir tumbang. Celananya lepek terkena cipratan air saat berlari mencari tempat berteduh. Tangannya menggenggam kain yang diikat sambil memasukannya kedalam baju. Entah sekadar untuk mencari kehangatan atau sedang berusaha melindungi benda yang tersimpan didalam kain tersebut agar tidak kehujanan. Karena baginya, benda itu teramat penting.

Tidak jauh dari tempatnya berteduh terlihat seorang anak perempuan di dekat timbunan tanah. Umurnya mungkin setahun lebih tua darinya. Tanpa payung. Tanpa pelindung. Terduduk dia dengan bunga layu dihadapannya. Tak peduli jika hujan semakin deras. Matanya tertutup, tangannya menengadah didepan dada dengan mulut berkomat-kamit. Seolah sedang berada di tempat ibadah. Anak laki-laki itu dengan seksama menyaksikan hal tersebut. Sudah biasa. Saat berlari ke tempat ia berteduh sekarang pun banyak dilihatnya hal serupa. Baginya itu merupakan hal biasa yang sering dia lihat.

“Ali?” teriak seseorang sambil memastikan orang yang dipanggilnya benar. Anak laki-laki yang diketahui bernama Ali tersebut menoleh ke sumber suara. Mengubah fokus dari perempuan  yang dilihatnya tadi.

“Mang Ari” gumam Ali ketika melihat orang yang menyebut namanya. iya, dia mengenal orang itu. Orang itu Mang Ari yang merupakan tetangga yang tinggal di samping rumah Ali. Dulu, hampir satu tahun yang lalu.

Mang Ari mendekat ke pohon menghampiri Ali. “Dari mana kamu?” tanya Mang Ari sedikit berteriak berusaha mengalahkan suara hujan.

Ali mengeluarkan kain yang sejak tadi berada didalam bajunya dan membuka ikatan kain tersebut.

“Pos kesehatan? Ya ampun, kamu seharusnya sudah ada dirumah sekarang. Itu obat untuk ibumu kan?” ujar Mang Ari sedikit terkejut. Ali mengangguk dan kembali mengikat kain tersebut dan memasukkannya lagi ke dalam bajunya.

“Ayo sini ikut denganku, aku akan antarkan ke tempat ibumu” ajak Mang Ari lalu menarik lengan Ali agar masuk kedalam payung.


                                                                       ~~~~~~


“Keadaan ibumu semakin parah. Kita tidak bisa menunggu lama, dia harus segera di operasi” ujar mang Ari setelah memeriksa kesehatan bu Rosa saat ini. Ayu, kakak Ali, langsung terhuyung tak mampu menyeimbangkan tubuhnya untuk beberapa detik) badannya langsung lemas ketika mendengar hal itu. Operasi. Itu jelas bukanlah berita baik. Pikirannya kacau sejenak. Kemungkinan dan harapan di otaknya terasa di blockade lewat kenyataan-kenyataan yang dijejalkan pada otaknya. Membuatnya pusing. Sempat terlintas di pikirannya untuk menyerah. Matanya mulai berembun. Menatap kosong bawah kakinya. Ayu mencoba mencari pegangan, berusaha menyeimbangi tubuhnya yang kian melemas. Terasa seperti dia kehilangan tulang-tulang yang seharusnya menopang.

“disituasi seperti ini?” gumam Ayu yang masih terdengar.

Mang Ari menghela napas besar, dia juga sedikit ragu mengenai hal itu. “Aku juga tidak yakin, para medis yang tersisa semakin sedikit. Sekalipun ada, permasalahannya ada ditempat operasinya. Semua ruangan pasti penuh.”

“Bagaimana dengan mang Ari? Mang Ari bisa kan? Untuk tempat, kita bisa memakai tempat ini. Aku akan membuatnya layak untuk digunakan.” Ayu menatap mang Ari, tatapan yang berharap lebih.

“aku hanya pernah bekerja sebagai perawat yu, tidak mengambil bagian dalam operasi”

“lalu aku harus bagaimana? Hanya melihat ibu berbaring kesakitan sambil menunggu ajalnya?” tatapan Ayu mulai serius, dia benar-benar frustasi saat ini. Ketidakmampuannya membuat dia hampir benar-benar pasrah. Dan itu membuat Ayu marah, karena tidak mampu berbuat apa-apa.

Mang Ari sedikit terkejut dengan penuturan Ayu, ada rasa bersalah karena tidak bisa mengatakan hal yang dapat menenangkan dan malah memperburuk keadaan. Keadaannya menjadi lebih hening. Ali yang berada diruangan yang berbeda dari tempat mereka ikut terdiam. Menatap masakannya yang kian mendidih di atas panci. Diam-diam ikut mendengarkan pembicaraan mereka dari awal. Ayu yang memintanya memasak makan malam. Niat awal memang tidak ingin membuat Ali cemas jika mengetahui keadaan Ibu Rosa (ibunya) yang sesungguhnya. Mang Ari akhirnya menghembus napas lagi perlahan sebelum berkata “akan kuusahakan untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan. Besok akan mang Ari kabari”

Setelah mengucapkan hal tersebut, mang Ari kemudian membereskan beberapa alat. Menepuk bahu Ayu yang masih stagnan di tempatnya, berusaha memberi pesan bahwa dia harus kuat. Karena yang mang Ari lihat, Ayu tidak mengeluarkan air mata. Lalu berpamitan dengan Ali untuk kembali ke tempatnya. Ali sempat menawarkan makan bersama dengan mereka, namun mang Ari menolak halus dan berkata bahwa mereka harus makan banyak jadi jatah mkanannya untuk mereka saja.

Mang Ari sudah pergi sejak beberapa menit lalu kini, Ayu dan Ali duduk berhadapan dengan sup di tengah-tengah mereka. Sudah beberapa hari ini mereka membagi makanan satu porsi untuk berdua. Keadaan semakin memburuk. Dan mereka harus menghadapi hal itu.

“Bagaimana keadaan ibu?” retorik. Ali menanyakan hal yang sudah ia dengar jawabannya.

Ayu menghentikan suapannya, mengalihkan pandangannya sejenak. Sedikit terkejut dan menimbang jawaban apa yang pantas ia ucapkan lalu menatap adik kesayangannya itu dan tersenyum.

“Apa kamu merindukan masakannya?” Ayu tahu ini bukanlah sebuah jawaban. Namun, mengalihkan topik agar lebih sesuai dengan keadaan, tidaklah buruk. Setidaknya dia bisa menahan sedikit perasaan hancurnya sejak tadi. Karena dia yakin jika memberikan jawaban yang seharusnya dapat memperburuk selera makan mereka dengan harus menelan lebih banyak kenyataan pahit.

“ya” jeda Ali sebelum lanjut berucap, “tapi lebih dari itu aku mengkhawatirkan keadaannya”

Tangannya mulai membelai rambut Ali penuh afeksi. Memberikan sedikit ketenangan. “Aku selalu yakin ada keajaiban yang datang di setiap harinya dan aku yakin ibu juga berusaha untuk itu”  

Ayu mendorong mangkuk makanan kearah adiknya “sekarang makanlah, maaf akhir-akhir ini kamu yang harus memasak”

Ali menggeleng lalu mulai menyendok sup yang mungkin sudah mulai mendingin “mbak juga harus jaga kesehatan”

Pernyataan Ali sepertinya membuat pertahanan dirinya mulai rapuh. Sesak yang sempat tertahan kembali hadir. Membuatnya sedikit kesulitan bernafas. “aku tidak masalah, kamu juga harus mengkhawatirkan dirimu”

Masih berusaha mengalihkan topik berat ini, Ayu kembali berujar “omong-omong masakanmu membaik” tapi bertebalikan dengan yang dia bicarakan, hatinya masih dipenuhi sesak. Tarikan napasnya memberat.

“benarkah?”

Ayu mengangguk dan tersenyum getir “enak, kamu semakin ahli membuatnya” pujinya.

Perempuan itu mengambil air minum. Berusaha meredakan rasa panas ditenggorokan. Matanya tidak bisa di ajak berkompromi sekarang. Air sudah menggenang di pelupuk matanya. “Sayangnya hari ini kamu memasaknya terlalu pedas” ucap Ayu sambil mengusap air matanya yang keluar. Suaranya bergetar.

Ali terdiam sejenak, menatap mata kakaknya yang memerah. Menahan tangis. “tapi aku sama sekali tidak menuangkan bubuk cabai didalamnya.”