Hey, Muba. Apa kabarmu di sana?

Ingin jempolku mengetikkan sapa itu ke nomor WhatsApp-mu. Tapi, beragam 'tapi' pun mengalahkan niatan itu. Tapi kan aku cewek, masak aku duluan yang tanya; tapi kan dia gitu; tapi kan aku gengsi; tapi kan ... Hiyah, akhirnya tak jadi.

Sebenarnya sih gampang banget! Hanya memencet keyboard sambil tidur-tiduran, tekan 'kirim'. Selesai. Tidak butuh usaha seektrem melintasi jarak berkilo-kilo jauhnya.

Hahaha, betapa konyolnya aku. Ingin menyapa saja jadi serumit ini. Ternyata benar, usia tak menjamin paham tentang percintaan. Cinta tidak ada rumus pasti, dan "perihal cinta kita semua pemula" (Mohammad Ali Ma'ruf).

Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. "Apakah dari niat menyapamu?" Kurasa juga tidak bisa dikatakan memulai. Entah bagaimana memulai, tahu-tahu sudah berakhir saja. Ya, Desember adalah bulan urutan terakhir di kalender.

Desember dan hujan adalah karib. Mungkin mereka sudah berkonspirasi untuk melatari luruhnya kisahku, seperti menemani suka-sukaku Desember lalu. Desember kali kita masih bersama, waktu itu.

/1/ Desember

Peristiwa yang tinggal terbingkaikan. Ya, apalagi namanya kalau bukan kenangan. Desember yang kubingkaikan sedemikian rapi, yang kupandang-pandang sebagaimana meratapi.

Ah, ingin rasanya kumusnahkan bingkai itu. Aku tidak pernah ingin kita 'abadi' dalam sebuah kenangan. Aku ingin kita abadi sebagaimana kau dan aku, bukan foto yang tergeletak di pojok meja itu.

Aku menjadi patung, kau menjadi patung, dan kini aku pun mematung menatapinya. Kita benar-benar abadi dalam bingkai indah yang hanya bisa ditatap, bukan dirasakan. Bukankah itu maumu?

Kau sedemikian rupa mengagungkan seremoni, sedangkan aku benci segala bentuk perayaan. Apa yang dirayakan jika ujungnya kenangan? Mungkin kau sudah berfirasat jika kita hanya akan 'terbingkai'.

Desember yang akhirnya kubingkai juga di pojok meja itu, hanya bisa kuratapi diam-diam. Agar tidak ada yang tahu, jika aku paling muak dengan kenangan yang bisa kapan saja menusukku.

Kenangan berwujud 'bingkai' memang lebih ampuh mematikan daripada kenangan di kepala. Kau tahu kenapa? Karena bingkai itu menceritakan ke'ada'an yang sebenarnya tiada. Orang-orang yang membingkai tiap kenangan adalah orang-orang yang tak percaya dengan ingatannya sendiri.

Kau tak percaya ingatanmu! Pantas saja kau ingin membingkaikan aku di foto itu. Apa hatimu saja tidak cukup? Oh, atau aku tidak pernah mendiami hatimu? Pantas saja.

Huh, Desember yang pernah menjadi saksi bisu pelataran kala itu, yang pernah kunanti-nanti kedatangannya dengan tak sabar. Aku belajar darimu, segala sesuatu pasti berakhir.

Ini perihal paling menyakitkan dari sebuah foto. Jika segala semoga terwujud, maka itu akan menjadi kenangan manis. Tapi, jika segala semoga gagal adanya, maka tiada ubahnya mimpi buruk yang nyata. What the f*ck!

Muba, pandangilah foto-foto itu. Kita memang telah berubah menjadi abadi sekaligus mematung. Ada dan tiada tidak ada lagi bedanya. Dan, Desember kali ini bukan lagi gula-gula yang kusesapi rasanya, Desember kali ini pecahan empedu yang pahit sekali.

/2/ Hujan

Momen-momen kita ditemani rintik hujan, dingin malam, dan jauhnya perjalanan waktu itu terfoto di ingatan. Bisa saja sewaktu-waktu tersaji tanpa dipesan. Tentu, sebelum perasaan kita sekelam sekarang.

Hujan, tetes-tetesmu kala itu adalah berkah perjalanan. Berbeda dengan saat rangkaian kata ini terbaca, kau seperti tangisku yang tak pernah tersuarakan. Menangisimu dalam diam.

Setiap awan yang jatuh ke bumi tanpa penolakan, seperti penyerahanku pada takdir yang tanpa menunggu kuiyakan. Mari kita menari, hujan!

Hujan, pelataran sempurna untuk tiap keadaan, kerinduan, dan keterasingan. Semua keadaan yang sejauh Januari-Desember, semua kerinduan yang fana tapi abadi, dan keterasinganku darimu.

Kau sudah menjadi asing bagiku. Kau sudah hilang bersama debu yang dienyahkan hujan. Dan, kau sudah berlalu bersama Desember itu.

/3/ Desembe(rain)

Entah apa yang terjadi, semua begitu tiba-tiba mengagetkanku. Kau dengan semua keanehan yang tak bisa kupahami lagi, aku yang kau bilang bukan yang dahulu lagi. Kita saling membunuh perasaan.

Kita, saling melemparkan pisau ke jantung masing-masing. Tertancap. Susah termaafkan. Berlari ke sana-sini mencari pengobatan, tapi tak kunjung sembuh.

Muba, ternyata ada yang lebih rumit dari sekadar luka yang membekas. Kau tahu, ada cinta yang tak pernah usang. Aku sering memanggil namamu tiap mulai terjaga dan hampir lelap.

Bagaimana caranya mengenyahkan luka atau cinta yang porsinya sama? Atau, minimal salah satunya, agar aku bisa melangkahkan kaki. Kau tahu, tidak mudah mencintai sekaligus membenci.

Sering, kita tak bisa memilih dengan siapa jatuh hati. Bahkan aku tak pernah menyangka mengalaminya. Aku mengira jatuh hati bisa kepada orang yang sudah kubidik sebelumnya. Tapi apa?

Cerita Desember dan hujan ini tak bisa mengakhiri segala yang tak pernah berakhir: kerinduan!

Aku sudah meninggalkan ragamu. Aku bebas! Aku tak perlu pusing lagi memikirkan segala ulahmu yang kadang menyakitkan hatiku. Kupikir, mencintaimu itu terlalu rumit.

Mencintai seseorang tidak selalu harus memiliki raganya. Hahaha, klise sekali, bukan? Dahulu, aku selalu mengejek ungkapan lucu itu. DAMN! Aku semacam terkena tulah dari kekonyolanku itu.

Pun ketika aku sudah tak mau pusing lagi bersamamu, cinta tak mau juga pergi bersama ragamu. Ini lebih menyebalkan! Oh, God.

Muba, Desember dan hujan kita sekarang sudah masing-masing. Aku memang masih dipenuhi kerinduan, tapi bukan untuk kembali lagi.

Segala sesuatu yang retak tidak akan kembali lagi seperti semula. Pun ketika aku tahu kau bisa mencintai orang lain selain aku. Sempurna sudah keputusanku pergi.

Kita tak harus berdebat banyak hal lagi. Kau tak perlu repot mencari alasan dan aku juga tak perlu ribet mencari penjelasan. Berakhir, ya sudah. Merindukan, ya dinikmati.

Tahukah kau? Mencintai orang lain terkadang lebih mudah, daripada mencintai lagi orang yang pernah kita cintai yang ternyata telah mencintai orang lain. Bekas di ingatan itu tak bisa di-'delete' begitu saja.

Apa pun yang berakhir memang selayaknya begitu. Untuk apa diakhiri jika memang masih ingin melanjutkan? Aku tidak selabil itu. Aku sudah lelah dengan semua keklisean kita.

Jika manusia mati, tidak akan pernah kembali kecuali mati suri. Dan, jika perasaanku kau buat 'mati', kurasa ini juga tidak mungkin mati suri.

Sudah, kita tidak perlu saling menjelaskan. Biar Desember dan hujan saja yang membingkai penjelasan itu. Aku tidak bisa mengenyahkan bekas-bekas luka yang ada, sebagaimana tak bisa seperti dahulu lagi.

Aku sudah tahu, kau bisa mencintai orang lain selain aku. Dan, sebagaimana Desember dan hujan bercerita kepadaku bahwa bukan kau yang kucari.

Yang akan mencintaiku meskipun aku pernah membunuhnya sedemikian rupa. Aku tahu, kau tidak sebodoh itu. Kau telah membalas serupa pembunuhan itu. Kau selalu membalas apa pun kepadaku.

Kau tak hanya membalas cintaku, kau juga membalas membunuhku. Terima kasih, ya.

Aku akan terus mencari orang bodoh itu. Dan, sayangnya kau tak mungkin sebodoh itu!

Selamat malam, Muba. Hujan malam ini dingin sekali, ya. Terasa semakin membekukan hatiku.