Desa Sitengit, sebuah desa pedalaman di lereng Gunung. Desa yang hanya berjarak 10 KM dari arah puncak Gunung. Desa ini merupakan pemukiman terakhir bagi para pendaki Gunung.

Desa yang selalu memberikan wangi basah dalam setiap hirupan udara. Segar dan tak pernah tercampur dengan polusi bak kota metropolitan. Semua hijau dan menyegarkan sejauh mata memandang.

Air yang selalu jernih, dingin bagaikan embun yang menjadi satu dalam sebuah bak. Begitu menyegarkan ketika bersentuhan dengan kulit ini.

Tidak hanya suasana alam yang begitu indah, desa ini juga memiliki tatanan sosial yang begitu menyenangkan. Bagaimana tidak, sebuah desa di penghujung lereng gunung yang memiliki penduduk dengan bermacam-macam agamanya.

Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha lengkap ada di desa ini. Memang benar desa ini adalah desa yang sejuk alamnya begitu pula dengan keadaan masyarakatnya.

Di desa ini, agama bukan menjadi penghalang untuk saling bergandengan. Masjid berada di depan Vihara dan tidak jauh dari Gereja. Sungguh menyenangkan melihat keakraban mereka.

Malam ini adalah malam pertama rombongan KKN mengunjungi desa Sitengit. Seluruh mahasiswa diberikan tiga rumah penduduk yang masing-masing terdapat 6 atau 7 orang.

Sebelum memasuki desa Sitengit, seluruh mahasiswa telah dijelaskan mengenai keragaman dan keberagamaan di desa ini. Masih banyak dari mereka yang takut dengan kehidupan antar agama.

Mereka berfikir bahwa hidup dalam perbedaan apalagi dalam hal agama adalah sebuah beban mental yang tidak mudah untuk mereka lakukan. 

Setelah memasuki desa, semua mahasiswa diwajibkan memakai jas almamater sebagai tanda pengenalnya. Serah terima antara penitia pelaksana dan para warga yang diwakili oleh kepala desa telah dilaksanakan.

Mereka para mahasiswa telah diperbolehkan memasuki area perkampungan menuju rumah masing-masing. Jarak antara rumah satu dan rumah lainnya memang agak berjauhan.

Rumah pertama dengan pemilik orang Islam, rumah kedua orang Kristen dan ketiga adalah rumah orang Hindu. Hal ini tidak lain agar setiap mahasiswa mengenal dan merasakan tinggal bersama agama lain.

“Monggo, Silakan masuk mas dan mbak”, Sapa pemilik rumah.  Pemilik rumah ini beragama Budha dan semua mahasiswa rombongan kami adalah Islam.

“Iya Ibu, Bapak, terima kasih.” Jawab kami serentak.

“Ini kamar untuk tempat istirahatnya mas dan mbak. Mohon maaf hanya satu kamar yang bisa kami siapkan untuk mas dan mbak. Dengan ruangan dan kasur seadanya.” Lanjut pemilik rumah.

“Tidak apa-apa Bapak Ibu, kami sudah sangat berterima kasih sudah diterima di keluarga Bapak dan Ibu.” Jawab Nadira, ketua kelompok kami.

Nadira memang pantas jadi ketua kelompok. Dia sangat cerdas dan berwibawa. Sosok yang tidak pernah absen dalam setiap even-even kampus. Tahun kemarin, dia terpilih menjadi presiden mahasiswa di kampus kami.

Bersyukur bisa menjadi satu kelompok dengan orang yang berprestasi seperti Nadira. Semua akan terlaksana dengan sebaik-baiknya.

“Mohon maaf Bapak dan Ibu, kami akan sangat merepotkan selama 40 hari kedepan.” Nadira mulai berbincang dengan pemilik rumah.

“Tidak apa-apa mbak, kami sangat bahagia dengan kedatangan mbak dan mas semua.”

Memang menjadi budaya tersendiri jika kita bertamu di daerah  Jawa khususnya Jawa Tengah. Tuan rumah akan menerima tamunya dengan sangat halus dan apa adanya.

“Bapak dan Ibu, kami satu rombongan ini semuanya beragama Islam. Kami akan meminta bantuan Bapak dan Ibu membangunkan kami di pagi hari. Jangan sungkan untuk membangunkan kami semua.” Nadira mulai mencoba akrab dengan keluarga.

“Mbak dan mas pasti lebih rajin daripada saya to. Kalau saya tidak punya kewajiban sholat di pagi hari. Berbeda dengan mbak dan mas yang selalu bangun pagi untuk menjalankan kewajibannya.” Jawab Ibu pemilik rumah.

Rasanya malam itu adalah sindiran bagi kami untuk bisa bangun pagi dan melaksanakan kewajiban sebagai umat Muslim. Sangat mengejutkan memang jawaban dari Ibu.

Sambil tertawa Nadira melanjutkan obrolannya. Sedikit agak malu dengan jawaban Ibu. Kami semua muslim tapi belum tentu melaksanakan kewajiban sholat setiap hari. 

Malam sudah larut, kamipun masuk kamar dan beristirahat.

Suara gemercik air semakin terdengar. Malam yang sangat sepi, dingin begitu terasa sampai ke tulang. Selimut tebalpun masih kalah hangatnya. Desa ini benar-benar sepi di kala malam semakin larut.

Tepat jam 3 pagi. Suara alarm handphone beberapa mahasiswa berbunyi saling bersautan. Tidak ada yang terbangun kecuali Nadira. Memang panutan sekali anak ini.

“Lho mbak sudah bangun?.” Sapa Ibu yang sudah bekerja di dapur.

“Ibu sudah bangun dari jam berapa?” tanya Nadira.

“Kegiatan Ibu setiap hari bangun jam 2, mbak. Menyiapkan dagangan bapak dan bekal untuk sekolah Fajar, anak Ibu yang masih SMK. Sekolahnya lumayan jauh mbak, 20 KM dari rumah ini.” Jawab Ibu.

Nadira hanya memandang Ibu lebih dalam dan mendekatinya untuk membantu Ibu.

“Masih kurang apa Ibu?, biar saya bantu.” Nadira menawarkan jasanya.

“Sudah mbak. Mbak pergi sholat saja. Adakan sholat malam sebelum subuh?. Ibu memang orang Budha tapi Ibu tau sedikit tentang Islam. Kalau saya pribadi mbak, saya jarang sekali pergi Vihara untuk sembahyang.” Ibu mulai banyak bercerita.

“Menurut keyakinan saya, sembahyang itu memang wajib tapi lebih diwajibkan lagi berbuat baik dengan sesama manusia. Jika kita sudah baik dengan manusia, Tuhan juga akan memberikan kebaikan kepada kita.” Lanjut Ibu.

Nadira hanya tersenyum sambil memikirkan kata-kata Ibu tadi. Beranjak dari kursi yang didudukinya menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Memang benar, kebaikan kepada sesama manusia adalah kunci dari tertatanya sebuah kehidupan yang saling berdampingan. Kali pertama hidup dengan berbeda agama yang sebenarnya mereka juga diajarkan untuk saling mengasihi sesama manusia. 

Sungguh indah kebersamaan ini. 

Sepenggal kisah yang membuat rindu untuk kembali.

Mewujudkan toleransi tak hanya dengan teori.

Menjalin kebersamaan meski di tengah keberagaman.