1 bulan lalu · 134 view · 5 min baca menit baca · Saintek 46581_84566.jpg
Dok. Pribadi

Desain Wajah Transportasi Ibu Kota Jakarta

Desain transportasi dan tata kota sangat penting untuk menciptakan integrasi atau kolaborasi antarjenis transportasi agar level of service pada masyarakat dapat ditingkatkan. Di samping itu, hal ini efektif untuk mengurai kemacetan ibu kota.

Saat ini, ada berbagai jenis transportasi di Jakarta, seperti kereta, angkutan umum, busway, ojek online, dan lain sebagainya. Namun ternyata berbagai mode transportasi tersebut belum bisa menyelesaikan permasalahan mengenai kemacetan. Karena sebenarnya letak masalah itu adalah belum terbangunnya metro sistem yang baik yang berasal dari tata kota yang benar.

Metro sistem yang baik akan dapat mengurangi biaya pembangunan secara keseluruhan karena apabila hanya melihat pada segi finansial analisis semata, maka biayanya terlihat sangat besar, sedangkan apabila kita melihat pada manfaat ekonomi dan sosial, maka proyek infrastruktur serta pembangunan MRT Jakarta yang sangat megah dan menghabiskan waktu yang cukup lama itu akan memberi dampak positif karena bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Timbul pertanyaan di benak kita bersama, apakah LRT Jabodebek dapat mendulang kesuksesan yang sama dengan pembangunan MRT Jakarta?

Apabila kita membaca media bahwa telah dilakukannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi V dengan Kementerian Perhubungan pada tanggal 12 Juni kemarin, tampaknya masih ada tebersit keraguan terhadap proyek tersebut.

Yang pertama, disebutkan bahwa jumlah kapasitas penumpang kereta LRT Jabodebek hanya sekitar 140 ribu sehingga dianggap masih kurang daya tampung penumpangnya. 

Marilah kita menggunakan metoda 'think globally' dalam berpikir, maka otak kita akan muncul skeptis dengan mempertanyakan apakah dengan begitu banyak alternatif transportasi, jumlah penumpang akan menjadi lebih besar dari angka 140 ribu orang dalam waktu yang bersamaan itu? Belum lagi, masih banyak warga ibu kota yang menggunakan kendaraan pribadinya sendiri.

Andaikata 'ya' lebih dari 140 ribu penumpang, maka kita dapat strategikan mengenai berbagai penyelesaiannya, yaitu:


1. Jumlah penumpang kereta dapat displit dengan jadwal keberangkatan yang dapat diatur berdekatan waktunya.

Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kecepatan kereta di atas 50 km/jam sehingga jangka waktu antar kereta bisa dipenuhi dengan tepat waktu serta efektif untuk menyerap seluruh penumpang.

2. Menciptakan perbaikan tata kota yang baik sebagai kunci untuk mendistribusikan banyak orang ke berbagai alternatif pilihan transportasi yang sudah ada. 

Secara logis dapat dilihat indikator belum sempurnanya tata kota kita, misalnya sudah ada busway sejak lama, namun ibu kota masih tetap macet. Kuncinya adalah memang perbaikan pada tata kota, bukan terletak pada mode transportasinya semata.

Sorotan yang kedua adalah mengenai lebar rel kereta yang mencapai ukuran 1.435 disebutkan sebagai salah desain karena diperuntukkan bagi kereta dengan kecepatan 200 km/jam.

Menurut opini saya, justru dengan ukuran tersebut kita dapat meningkatkan kecepatan kereta hingga 200 km/jam di mana hal itu menjadi opsi solusi pada poin 1 yang membutuhkan kecepatan lebih dari 50 km/jam supaya bisa mengejar ketepatan dalam waktu.

Adapun apabila desain itu dianggap salah, maka yang perlu kita lakukan adalah berinovasi dalam perbaikan desain dan aspek teknis lainnya agar dapat sesuai dengan requirement.

Justru kalau kita melakukan observasi lebih teliti, kita bukan cuma akan memperoleh benefit dari peningkatan kecepatan kereta saja, namun juga pada desain nose depan atau maskara LRT Jabodebek yang berbentuk lancip atau mancung, tidak berbentuk datar, seperti kereta-kereta lainnya. 

Bentuk mancung seperti ini memang digunakan untuk kereta LRT, MRT dan kereta cepat atau Shinkansen yang sedikit banyak memiliki kemiripan dengan segi aerodinamisnya pesawat.

Selain itu, apabila terjadi tabrakan, maka maskara yang berukuran datar akan mengalami tingkat kerusakan yang lebih parah karena langsung terkena hantaman, sementara dengan maskara yang mancung tumbukan lebih dalam akan bisa diminimalisasi karena nose depannya akan kena terlebih dahulu, sebelum sampai ke bodi kereta.


Ketiga adalah mengenai diperlukannya kapasitas penumpang yang lebih besar sehingga ada opsi untuk beralih ke Commuter Line atau KRL. Menurut saya, hal ini justru akan memantik polemik dan menciptakan problematika yang lebih krusial lagi karena diketahui bahwa LRT Jabodebek buatan INKA saat ini harus segera dikirimkan.

Apabila proyek yang sudah berjalan di tengah-tengah mendadak diganti dengan proyek lain, justru hal ini akan menimbulkan pemborosan yang sangat besar karena Pemerintah harus menggelontorkan kembali investasi untuk membangun pengadaan aliran listrik jaringan atas di lintasan utama kereta api.

Sudut pandang DPR yang saya baca adalah bahwa daripada coba-coba, mendingan yang pasti-pasti aja karena untuk LRT ini merupakan sesuatu hal yang baru buat masyarakat kita, sedangkan untuk KRL, masyarakat kita sudah terbiasa karena familiar untuk digunakan.

LRT yang pertama adalah LRT Palembang dan yang kedua, apabila bisa direalisasikan adalah LRT Jabodebek. Kemudian, kita akan cenderung memberi perbandingan, kalau LRT Palembang saja kapasitas penumpang untuk naik kereta masih sangat sedikit, apakah hal itu nanti terjadi juga pada LRT Jabodebek?

Saya rasa, kita bisa menyamaratakan hal tersebut karena jelas saja Kota Palembang berbeda dengan Jakarta dalam berbagai segi. 

Jakarta dengan penduduk yang padat banyak yang memilih untuk menggunakan kereta api karena dapat menghindari kemacetan ibukota serta menghemat waktu, ketimbang menggunakan kendaraan lainnya. LRT Jabodebek kemungkinan mempunyai lebih banyak peminatnya.

Sedangkan KRL yang beroperasi dirasa kurang dalam ketepatan waktunya, misalnya karena adanya masalah aliran listrik sehingga molor waktunya dan menyebabkan pembludakkan pada jumlah penumpang di jadwal keberangkatan kereta berikutnya. 

Sedangkan di LRT, hal ini cenderung dapat dihindari karena tidak menggunakan aliran listrik di atas jaringan untuk menggerakkan bodi kereta. LRT dengan kecepatan yang sedang diperkirakan lebih sedikit mengalami hambatan teknis sehingga dapat memenuhi ketepatan waktunya sesuai dengan jadwal.

Di negara-negara maju saat ini sudah meninggalkan KRL dengan tenaga listrik. Kereta-kereta banyak berganti menjadi MRT, LRT, bahkan Kereta Cepat dengan teknologi yang sangat tinggi.

Kita harus belajar untuk mengikuti tren perkembangan teknologi tersebut. Sebab, jika tidak, kita akan tertinggal jauh dari mereka. Belajar itu bisa dilakukan dengan melihat, meminta diajarkan kepada yang sudah bisa dan kemudian diaplikasikan.


Kita melakukan alih teknologi atau transfer of technology dari industri yang lebih maju sehingga kita mendapatkan ilmu baru untuk diaplikasikan. 

Namun kita jangan sampai terjebak dengan retorika murahan bahwa alih teknologi telah dilakukan atau mudah untuk didapat, padahal realitasnya yang diberikan mungkin adalah hal yang bersifat introduksi saja atau hal yang dasar sehingga kurang untuk memperoleh ilmu yang baru. Maka, kita harus pandai-pandai membaca situasi dan berstrategi.

Kita juga dapat menjalin sinergitas satu dengan yang lain karena melalui bersinergi antara industri lokal, maka kita tidak akan merasa saling bersaing karena menyadari segmen bisnis masing-masing dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. 

Sorotan yang terakhir adalah belum adanya depo untuk LRT dan jarak terminal bus tipe A yang masih sangat jauh dengan LRT ini. Saya rasa solusi penyelesaian ini adalah kembali pada membangun tata kota yang baik.

Kunci keberhasilan dari semua permasalahan ini adalah bagaimana kita bisa bersinergi, baik sinergi dalam membentuk metro sistem sehingga masing-masing jenis transportasi tidak berlomba untuk saling berebutan penumpang, maupun sinergi antar industri untuk tidak saling bersaing dalam bisnis sehingga dapat saling mendukung satu sama lain.

Artikel Terkait