Peneliti
6 bulan lalu · 175 view · 4 menit baca · Wisata 40442_67481.jpg
Koleksi Pribadi

Desa Risa, Sepercik Surga dari Tanah Bima

Merayakan hidup di desa itu menyimpan seribu satu macam kebahagiaan. Kadangkala timbul rasa kangen ketika sesekali hijrah ke kota (besar). Suasana kebatinan penghuni alam desa yang tenang, disertai atmosfir yang sunyi mengandung sensasi tersendiri. Pemandangan alam yang hijau memanjakan mata, hembusan angin yang menyapu jagad desa, beserta kicauan burung benar-benar menghadirkan pesona yang mengasyikkan.

Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa menikmati surga dunia itu, ya di desa. Kali ini, saya akan mengabarkan sebuah desa nan imut dari Tanah Bima (Dana Mbojo), yakni Risa (bisa juga dibaca Raisa, hehe). Desa Risa terletak di sentral Kabupaten Bima – Nusa Tenggara Barat (NTB). Posisinya lumayan berdekatan dengan Kantor Bupati Bima yang baru, di Desa Godo – Kecamatan Woha. Di kampung halaman ini pula, saya pertama kali menatap dunia, tempat lahir dan dibesarkan dengan serapan “energi” tanah, api, udara dan air pedesaan.

Dalam dimensi religio-kultural, sebagaimana kebanyakan orang Bima (dou mbojo) lainnya, masyarakat Risa beragama Islam dengan corak yang beragam. Ada masyarakat sarungan yang diasosiasikan sebagai Nahdliyin, juga Muhammadiyah, termasuk kelompok kebatinan fitua (Bimanese mysticism). Mereka cukup harmonis, dan saling memperkaya cita rasa kerohanian masing-masing.

Selain masjid, mushola dan majelis pengajian, ada juga semacam “makam tersembunyi” yang dikeramatkan oleh sebagian kecil masyarakat di Risa. Konon, salah satu makam itu merupakan tapak jejak dari seorang da’i pengelana, lalu tersebutlah Doro Karama (gunung keramat) yang terletak di dusun doro lopi (kalau diindonesiakan kira-kira berarti gunung perahu).

Sebagian besar wilayah Desa Risa berupa persawahan, peternakan, perkebunan, dan perbukitan. Bila kita berbicara seputar desa wisata yang sedang jadi narasi besar dalam diskursus kepariwisataan saat ini, desa yang berpenduduk sekitar tujuh ribu lebih ini dapat diproyeksikan sebagai desa wisata. Sumber daya dan potensi keindahan alam pun tak kalah dengan desa-desa lain di Bima.

Kelompok pecinta alam, kelompok ekonomi kreatif, termasuk kelompok seni budaya sadar wisata sudah muncul, namun perlu dioptimalkan performa-nya, serta memerlukan dukungan stakeholders. Yang menarik, luasnya areal persawahan Desa Risa membuat roda pertanian berputar kencang. Di atas tanah gembur Risa, tumbuh berbagai macam tanaman. Dari padi, jagung, tomat, cabai, lebih khusus bawang merah yang memang menjadi produk unggulan di Kabupaten Bima.


Tak sedikit penggiat bawang merah yang datang dari berbagai desa/kecamatan di daerah Bima untuk bertani atau berinvestasi di Risa. Tak ayal, muncul lah elite ekonomi baru dari kalangan juragan bawang merah di Risa. Memang sangat menggiurkan, baik sebagai petani maupun pedagang (bawang merah).

Di sektor peternakan, tersedia kuda, sapi, kerbau, dan kambing. Beberapa tetangga rumah saya di Desa Risa, ada yang memproduksi susu kuda, selain diikutkan kudanya dalam arena pacuan (pacoa jara) yang berpusat di Desa Panda, Kec. Palibelo, Bima. Adapun sapi, uniknya tidak hanya dikandang, tapi juga diberikan ruang kebebasan berekspresi di savana, mencari makan secara mandiri. Tercatat sapi-sapi Risa di kala ‘idul kurban tiba, cukup laris manis di Bima, bahkan dapat menembus pasar ibukota Jakarta.

Kisah kerbau lain lagi. Kalau dulu kerbau kadangkala dieksploitasi tenaganya untuk membajak sawah secara tradisional. Seiring dengan perkembangan zaman, kerbau tak sesibuk dulu, lantas petani jaman now beralih menggunakan traktor. Sedangkan kambing biasa dikandang dan diamankan di garasi rumah panggung (raba).

Selain itu, di Risa terdapat ahli pandai besi. Pasalnya, penduduk Dusun Kumbe yang berada di Desa Risa memang cekatan menempa parang, pisau, golok, keris dan sebagainya. Dari bengkel seadanya, mereka menempa besi, mengukir sarung “senjata” itu dari bahan kayu sesuai pesan orang yang mau beli. Keahlian mereka sangat mengagumkan. Saat pembuatan perkakas besi itu, sekalipun percikan api kadang menyentuh badannya, tampak biasa saja bagi mereka.

Salah satu objek wisata andalan di Desa Risa adalah Air Terjun Kalate Mbaju, berlokasi di sekitar lereng gunung, ndundu jara. Dulu, sapi-sapi Risa yang mau dibiarkan bebas berkeliaran oleh pemiliknya, biasa dilepas di ndudu jara ini. Pada tahun 2013, area sekitar ndundu jara dipilih sebagai salah satu lokasi Latihan Gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di sana pula pasukan TNI Angkatan Udara berlatih serangan udara berupa penembakan mortar dari pesawat udara Super Fulcano.

Objek wisata Air Terjun Kalate Mbaju berjarak sekitar 10 kilometer dari dusun “pandai besi” Kumbe – Risa. Menuju ke sana, kita bisa berjalan kaki, berkendaraan benhur, sepeda motor dan mobil. Air Terjun Kalate bertingkat-tingkat seperti tangga, berupa bongkahan batu besar. Dari Kalate ini, kita bisa menatap eksotisme air terjun dan aroma pegunungan yang berhawa sejuk.

Wisatawan dapat mendokumentasikan ketampanan dan keanggunan masing-masing dengan latar air terjun yang aduhai. Bila mau menulis puisi atau buku, Kalate ini sangat kondusif sebagai tempat berkontemplasi. Jangan lupa sediakan kopi hitam, sembari mendengarkan musik. Aliran air yang deras dengan ketinggian sekitar 10 meter mengalirkan embun kedamaian, dan bisa merelaksasi jiwa raga.

Kendati lokasi Kalate sangat terisolir, namun akses menuju lokasi cukup bagus. Tenang saja. Jarak antara Air Terjun Kalate dengan pemukiman penduduk tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan menuju lokasi, kita akan melewati beberapa perbukitan yang indah. Sebut saja, doro amaso. Bahkan ada juga kuburan “orang asing”, dan benda-benda artefak bernilai sejarah. Di sekelilingnya, kita akan melihat pemandangan hutan yang lebat dan alami.

Lebih dari itu, di Risa terdapat banyak perkebunan seperti mangga, kelapa, dan lain-lain. Bahkan di sini ada satu kampung, namanya kampo nggaro, dusun nggaro (kampung kebun). Maka sangat lah cocok didesain sebagai desa agro wisata.

Masih banyak kepingan-kepingan surga lainnya di Desa Risa yang bisa Anda nikmati kalau misalkan mengunjungi Bima, ujung timur Pulau Sumbawa. Selamat datang di Desa Risa, sepercik surga dari Tanah Bima.


Artikel Terkait