Your mind must be bare if you would dare to think you can love more than one lover. (David Rovics - American indie singer)

Angin membawa kumbang hinggap di bunga kenikir. Bergoyang. Putik tumpah ke benang sari. Sejenak sang kumbang diam. Lalu terbang, hinggap lagi di putik lain. Setelah beberapa bunga, hembus angin menumbuknya. Lalu kumbang tertarik gravitasi, kemudian jatuh tersungkur di Nista Mandala.

Dari kerajaan langit matahari bola menggantung menebar terik di ubun-ubun. Pada tepi jalan yang penjor atau janur berjejer melambai-lambai. 

Di antara rimbun bunga jepun, aster, dan pisang-pisangan, seorang lelaki tua duduk di undakan rumah yang warga menyebutnya angkul-angkul. Tatapan lelaki tua hinggap pada lalu-lalang orang-orang tak dikenalnya.

Kami sedang berada di timur laut kota, sekitar 45 km dari Denpasar. Tak jauh dari Kintamani, tepatnya di pakraman Desa Adat Penglipuran. Desa yang sejak 1995 ditetapkan sebagai desa wisata.

Desa adat dikelilingi adat adat lainnya di Kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli. Ada Desa Adat Kayang, Desa Adat Kubu, Desa Adat Cempaga, dan Desa Adat Cekeng.

Yang membedakan dengan desa sekitar, pada 2016, Majalah Boombastic menobatkan Desa Penglipuran sebagai desa terbersih di dunia, selain Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India.

Setelah meraih predikat tersebut popularitas Penglipuran kian menjadi. Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bangli di mana Desa Penglipuran berada terus meningkat.

Desa Penglipuran merupakan desa berciri permukiman Bali Aga (Bali Kuno) yang telah ada sejak zaman Kerajaan Bangli tujuh abad lalu. Panglipuran berasal dari Pengeling Pura alias mengingat leluhur

Ada pula menyebutnya pelipur lara. Konon pada masa kerajaan, Raja Bangli kerap datang ke desa ini untuk mencari penghiburan di kala gundah hati.

Di desa seluas 112 hektar ini hidup sekitar 985 jiwa dalam 200 kepala keluarga di dalam rumah-rumah berarsitektur serupa. Ada satu rumah paling tua di mana bambu adalah bahan utama bangunannya.

Kami memasuki satu tangga pintu di mana seorang perempuan paruh baya menyambutnya. Ia menawarkan loloh cemcem, minuman khas diramu dari daun kloncing.

Minuman loloh cemcem dikemas dalam botol air mineral. Dalam ukuran 600 ml minuman dihargai Rp5.000. Saat meneguknya terasa pergulatan asam, asin, manis, sedikit pahit segar, dan melayangkan rasa dahaga.

Melayang juga kami ke hutan bambu yang memagari desa ini. Di Desa Panglipuran buluh-buluh itu dibiarkan tumbuh, tak hanya sebagai pemasok udara atau air bersih, tetapi sebagai tanda keseimbangan manusia dan alam. Menurut penjelasan pemandu terdapat lebih dari 10 jenis bambu yang tumbuh di Desa Penglipuran.

Setelah berabad lama bertahan, para leluhur desa barangkali mengira penerusnya menikmati ketenangan bebas dari gundah-gulana. Tapi tak selalu demikian. 

Selain pencapaian yang telah diraih desa, tekanan untuk terus berbuat lebih baik selalu ada. Isu kebersihan pernah menerpa desa. Tak mudah bertahan damai di tengah media sosial adalah kekuatan.

Di Desa Panglipuran, aturan hidup warganya bersandar pada awig-awig cerminan Tri Hita Karana. Letak desa berangkat dari konsep Trimandala di mana terdapat tiga zona bertingkat dengan fungsi dan kesucian berbeda. 

Ada Utama Mandala sebagai zona suci, Madya Mandala zona pemukiman, dan Nista Mandala sebagai tempat terburuk di mana kuburan dan penjara berada.

Jika diibaratkan sebagai tubuh manusia, zona-zona tersebut seolah menggambarkan bagian kepala, bagian tubuh, dan kaki. Pada satu sudut ujung selatan Desa Penglipuran terdapat tempat di mana sanksi adat berlaku. 

Tempat ini disebut Karang Memadu. Karang memadu berupa lahan kosong seluas 9 x 21 meter sebagai tempat isolasi suami-suami yang melakukan kasi poligami.

Bagi masyarakat Karang Memadu adalah leteh (tempat kotor). Bahkan apa yang tumbuh di atas lahan tersebut dianggap tidak suci. Sehingga hasil bumi seperti palawija, sayur mayur, atau buah-buah dari tanah itu tak bisa dihaturkan sebagai bahan upakara atau sesaji.

Konon, lahirnya awig-awig tentang poligami karena pada suatu masa perselisihan keluarga yang pemicunya adanya istri baru kerap terjadi. Setelah itu, dibuat kesepakatan dan sanksi sosial bagi pelaku poligami di antaranya tidak boleh bergabung melaksanakan upacara adat, dilarang masuk pura, bahkan dikucilkan.

Begitulah desa pakraman Panglipuran dengan tradisi warisan leluhurnya yang pantang berpoligami. Di mana pun tempat dan apa pun keyakinannya, isu memiliki isteri lebih dari seorang dalam waktu bersamaan masih menjadi perdebatan panjang dan sulit menemui titik temu.

Bagi pendukungnya ada alasan poligami sebagai ladang amal di mana surga adalah balasannya. Sementara ada yang mempertanyakan jika toh poligami ibadah apakah si objek harus menderita sesakit itu.

Nun jauh di sana, di perbatasan Utah dan Arizona, di padang tandus yang tak istimewa. Sekte poligami FLDS pernah menggegerkan dunia. Dalam Stolen Innocence, sebagai korban Elissa Wall mengungkapkan kisahnya: hampir tiap malam aku diperkosa atas nama kewajiban sebagai anggota jemaah yang baik.

Ref:

https://jakartaglobe.id/vision/cleanest-village/

https://www.youtube.com/watch?v=d3_hPhIX_Js