Di pagi itu
Suara burung bernyanyi di dahan pohon basah
Air embun berjatuhan lewat daun-daun hijau
Desaku. Ibu-ibu dengan suara riang berjalan dihalaman depan rumah
Sehabis subuh dengan mukena putih bersih
Merdu; dipadukan suara burung dipagi hari dengan gesekan sandal yang turun dari surau

Itu tanda bahwa aku harus bangun.
Dengan mata kecil setengah sadar
Menuju sumur atau sungai tergantung mauku
Mandi tak beraturan asal basah dan ibu tidak marah

Kenangan itu, mengguratkan kisah manis saat masih bocah
Berlarian dijalan yang sepi saat kendaraan tidak sepadat saat ini
Pepohonan besar nan rindang di tiap jalan.
Aku rindu desaku
Desaku saat aku masih bocah


Bermain Layang - Layang

Pulang sekolah
Aku bergegas melepaskan pakaian seragamku
Sawah-sawah membentang luas telah memanggilku
Cuaca siang dan angin kencang telah menanti para bocah bermain layang-layang
Muka kucel dan ingus tak henti-hentinya mengalir dari hidung
Bersiap-siap dengan benang dan layang
Ada layang dengan corak bendera Belanda, Indonesia, Prancis dan macam-macam

Bertarung saling memutuskan layang-layang
Berlari, berjatuhan di tanah kering
Berebut layang-layang yang putus
Luka, memar, kulit hitam terbakar tak peduli
Anak-anak bermain layang-layang hingga sore hari
Adzan Maghrib mulai berbunyi
Itu tanda kami harus pulang


Lampu Minyak

Ibu selalu membeli minyak tanah menjelang malam
Karena ibu tahu di desaku sering kali listrik padam
Ibu khawatir jika aku tidak bisa belajar
Ayah akan marah jika satu malam saja aku tidak belajar
Ayah sangat tahu kemampuanku
Aku anak yang paling bodoh dan bungsu

Lampu minyak menyala memancarkan cahaya redup
Aku was-was ia bakalan Padam sebelum PR ku usai.
PR Bahasa Indonesia tentang anak dengan nama Budi
Dengan cepat aku menulis sebelum ia mati

Lampu minyak yang sendu
Menghitamkan tembok rumah dan langit-langit kelabu
Menciptakan bayangan kenangan masa kecilku
Membawaku hanyut dalam tangis