3 bulan lalu · 66 view · 5 min baca · Sosok 91745_90024.jpg
MAULA - WordPress.com

Des Alwi dan Etika Keutamaan Alasdair MacIntyre

Pada suatu kesempatan, Des Alwi (1927-2010) pernah mengungkapkan bahwa dirinya mempunyai cita-cita untuk menjadi nakhoda. Semua itu bermula semenjak bertemu dengan dua tokoh besar pergerakan kemerdekaan yang baru tiba dari Digoel, yaitu Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Des bertemu dengan kedua tokoh tersebut di pelabuhan Banda pada usia 10 tahun.

Di masa mudanya, Des berkesempatan untuk bersekolah di Europesche Lagere School (ELS). Pertemuannya dengan kedua tokoh membuka jendela wawasan pengetahuan. 

Des mendapat kesempatan memperoleh pendidikan privat yang diajar oleh Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Kegemaran kedua tokoh itu membaca buku, mulai dari filsafat hingga sastra. Lantas, kegemarannya, yang adalah kemewahannya itu, dibagikan pula kepada Des Alwi melalui buku bacaan. 

Adapun pelajaran bahasa asing diajarkan kepada Des Alwi. Tak heran, Des Alwi pandai dalam bercakap-cakap dalam bahasa asing saat studi maupun bekerja di luar negeri, bahkan memperjuangkan perdamaian antara Indonesia dan Malaysia.

Des Alwi merupakan cucu dari Said Baadila. Said Baadila dikenal sebagai “Raja Mutiara dari Timur”. Kakeknya ini seorang pebisnis kancing Mutiara. 

Kelebihan Said Baadila meliputi kemahirannya dalam berwirausaha dan menjalin relasi sosial. Relasi sosialnya pun sampai Kerajaan Belanda. Sebagai ketua Oranglima di Banda, ia mendorong pengembangan daerah baru di Ambon dan Ternate. Semangat dari kakeknya ini merambah pada cucu-cucunya. Salah satu cucunya adalah Des Alwi.

Des Alwi akrab dengan perjuangannya membangun pariwisata Banda Naira. Sejatinya, Des juga ingin meningkatkan aktivitas ekonomi melalui pariwisata agar kecantikan alam di Banda Naira diketahui oleh banyak orang, termasuk turis. 


Ia juga tidak mengharapkan kekayaan alam itu dikuasai oleh pihak asing secara penuh. Bisnis Des Alwi tidak digunakan untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk menjaga kelestarian daerah Banda.

Di sisi lain, Des Alwi mempunyai jiwa nasionalis yang tinggi berkat kedua tokoh besar pergerakan. Des Alwi menyadari pentingnya untuk berjuang mempertahankan Merah Putih, Indonesia Raya, dan Pancasila di usia remajanya. 

Aksinya yang menggugah adalah di saat Des Alwi memperjuangkan untuk menghentikan aksi ganyang Malaysia. Dari situ, Des Alwi mempunyai harapan yang mana generasi muda harus menghayati nilai-nilai perjuangan dan idealisme bangsa Indonesia. Ia menyalurkannya melalui film-film dokumenter yang dibeli dan dibuatnya.

Etika Keutamaan 

Dalam hal ini, penulis hendak membahas sosok Des Alwi dalam kacamata etika keutamaan Alasdair MacIntyre. Sebelum itu, penulis akan memberi gambaran umum tentang apa itu etika keutamaan secara sederhana. 

Etika keutamaan adalah suatu teori yang menjadi pokok bahasan di zaman Yunani Kuno melalui beberapa pemikir filsafat, yakni Plato dan Aristoteles, dan yang kemudian berlanjut di zaman Abad Pertengahan dengan tokohnya yang bernama Agustinus dan Thomas Aquinas. 

Pada kedua zaman tersebut, etika keutamaan sangat populer untuk dijadikan sebagai bahan diskusi oleh karena menyangkut seputar pencapaian manusia akan hidup yang baik.

Pada zaman berikutnya – zaman modern, etika keutamaan mulai ditinggalkan dan beralih pada etika kewajiban. Seseorang dapat dikatakan baik ketika bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku. 

Prinsip moral menjadi acuan bagi tindakan manusia (baik-buruk). Prinsip moral terus dikembangkan hingga memendam etika keutamaan. Beberapa tokoh pemikir yang mengembangkan etika kewajiban, yakni Imannuel Kant dan David Hume. 

Namun demikian, etika kewajiban tetap membutuhkan etika keutamaan. Salah satu tokoh yang berusaha mengembalikan etika keutamaan di zaman kontemporer adalah Alasdair MacIntyre.

Alasdair MacIntyre adalah seorang filsuf kelahiran Skotlandia yang berusaha mengembalikan etika keutamaan dari sudut pandang pemikiran Aristoteles dan Thomis. MacIntyre melihat bahwa perlu melembagakan kembali etika keutamaan di tengah persaingan beberapa pengagas etika. 

Persaingan yang dimaksud, yakni mengenai penentuan atas penilaian moral. Dalam hal ini, MacIntyre yakin bahwa tradisi Aristotelian bisa mencapai penilaian moral yang terbaik.


Kembali ke etika Aristoteles merupakan maksud dari Macintyre oleh karena manusia perlu merenungkan tentang pertanyaan “what should I be?” dan bukan “what should I do?” 

Pertanyaan yang pertama makin mengarahkan manusia untuk mencapai keutamaan-keutamaan. Itu artinya, kemampuan yang menguatkan manusia untuk mencapai apa yang baik baginya, tujuannya. Dalam hal ini, etika memiliki peran untuk menunjukkan jalan ke tujuan manusia. Bukan sebaliknya, etika keutamaan yang sekadar tunduk pada prinsip-prinsip moral.

Sejatinya, MacIntyre memperdalam pengertian “keutamaan” dan memasukkan tiga paham yang khas bagi manusia, yakni “kegiatan bermakna”, “tatanan naratif kehidupan seseorang”, dan “tradisi moral”. 

Pertama, “kegiatan bermakna” adalah kegiatan manusia kooperatif yang dimantapkan secara sosial. Harapannya, melalui kegiatan bermakna itu nilai-nilai internal dapat terealisasi. 

Kedua, tatanan naratif kehidupan seseorang adalah suatu kelakuan (behavior) lahiriah yang tidak dapat didefinisikan bilamana dikaitkan maksud tertentu dan maksud itu sendiri tidak bisa lepas dari sebuah situasi yang dimengerti dari deretan waktu. 

Ketiga, tradisi moral diartikan sebagai debat atau diskursus terus-menerus tentang manakah nilai-nilai yang sebenarnya. Lalu, tradisi yang masih hidup adalah suatu perdebatan yang berlangsung dalam sebuah komunitas dimensi sejarah, melalui banyak generasi, tentang apa yang baik dan buruk, wajib dan tidak wajib, bagaimana manusia sebaiknya hidup. 

Sederhananya, etika keutamaan MacIntyre membawa seseorang pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang menjadi tujuan internalnya.

Keutamaan dari Des Alwi  

Berangkat dari etika keutamaan MacIntyre, penulis dapat melihat beberpa keutamaan yang dimiliki oleh Des Alwi. Keutamaan dari Des Alwi dimunculkan lewat kedua perjuangannya, yaitu perujukan kembali RI dengan Malaysia dan dunia bisnis. 

Nilai-nilai internal yang tampil, antara lain: kebebasan, keadilan, kerukunan, perdamaian, keberanian, kejujuran, kemurahan hati, dan ketulusan. Kebebasan dan keadilan hadir pada kesadarannya memperjuangkan kemerdekaan. Kerukunan dan perdamaian hadir dalam perannya untuk menjaga stabilitas negara. 

Berikutnya, di dunia bisnis, keberanian tersirat dalam menyelamatkan Banda dari kerawanan pariwisata. Nilai internal kejujuran ditunjukkannya pada pemugaran 16 gedung bersejarah di Banda yang bukan milik pribadi. Kemurahan hati dan ketulusan tampak dalam kerelaannya memberikan penghasilan Hotel Maulana untuk proyek pemugaran.

Keutamaan dalam diri Des Alwi tidak bisa dilepaskan dari tokoh-tokoh atau pribadi-pribadi yang ada di sekitarnya. Hal tersebut seakan-akan terwariskan dalam kehidupan Des Alwi (dapat dilihat lewat secuil kisahnya pada paragraf di atas). 


Pendek kata, Des Alwi adalah “Raja Banda” yang “menakhodai” rakyat Banda menuju kebahagiaan. Keutamaan yang dimiliki oleh Des Alwi makin mengantarkan dirinya pada tujuan yang dikejarnya. 

Daftar Pustaka

Artikel Terkait