Sebagai penyangrai kopi, saya harus bisa merasakan berbagai rasa di dalam satu jenis kopi. Supaya ketika saya menyangrai kopi bisa mengatur rasa apa yang ingin dibentuk. Proses sangrai kopi sangat menentukan karakter rasa kopi yang muncul ketika diseduh di meja bar.

Untuk dapat mendeteksi banyak rasa dalam satu jenis kopi, kita harus mengkalibrasi lidah dengan standar rasa yang sudah ditetapkan oleh Speciality Coffee Asociation. Dibutuhkan banyak eksperimen juga latihan mecicipi kopi untuk mencapai tujuan tersebut.

Masalahnya ketika saya berkunjung di tempat teman atau kerabat, biasanya disuguhi kopi kemasan yang memiliki rasa negatif dari standar tersebut. Saya tidak menyukai rasa kopi tersebut tetapi saya tidak mau menolak suguhan tuan rumah. Sebagai tamu sebaiknya kita menghormati tuan rumah, yakni dengan menikmati suguhan yang diberikan.

Selain disuguhi kopi, beruntung saya memilik banyak teman yang mengetahui bahwa saya suka minum kopi. Mereka memberi saya oleh-oleh kopi ketika habis berkunjung ke kota lain. Hampir seluruh kopi dari seluruh nusantara pernah saya dapatkan. Namun, saya tidak suka rasa kopi tersebut karena rata-rata disangrai pada tingkat sangat gelap.

Untuk mengatasi masalah tersebut, saya berlatih menikmati kopi-kopi hitam yang sering didapatkan dari teman-teman saya. Seperti saya berlatih mencicipi kopi sesuai standar yang ditentukan. Bedanya kali ini kopi yang dilatih untuk dicicipi adalah kopi yang tidak saya sukai.

Seiring berjalannya waktu, saya sudah bisa menikmati kopi-kopi kemasan itu. Saat itu pula saya mulai sering ke angkrigan. Saking seringnya kesana saya sampai dibuatkan kopi secara cuma-cuma. Kata pemilik angkringan, anggap saja saya sedang betamu dan secangkir kopi itu adalah suguhannya.

Saya tidak bisa membayangkan jika belum bisa menerima rasa kopi kemasan seperti di angkringan. Ketulusan yang diberikan pedagang angkringan melalui secangkir kopi mungkin tidak bisa saya rasakan. Untung saja saya bisa mengatasi masalah tersebut dengan berlatih mencicipi kopi yang sebelumnya tidak saya sukai.

Setelah melewati itu semua, saya mendapatkan sesuatu yang berharga. Yakni, tidak ada kopi yang tidak enak jika kita bersyukur. Tentu anggapan ini tidak bisa berlaku untuk semua orang. Hal itu karena besyukur selalu memiliki cara dan waktunya sendiri.

Ada yang bilang bahwa ketika seseorang sedang depresi disebabkan kurang bersukur. Saya rasa pendapat tersebut kurang tepat. Karena ketika depresi, seseorang mengalami banyak distraksi secara psikologis. Bagaimana bisa bersykur jika ia sedang mengalami masalah tersebut?

Begitu pula saat saya memiliki pendapat tentang tidak ada kopi yang tidak enak seperti diatas. Bukan berarti yang bilang tidak semua kopi itu enak adalah orang yang kurang bersyukur.

Bersyukur memang serumit itu saat ini. Tidak hanya di dunia maya, di angkringan tempat saya dibuatkan kopi secara cuma-cuma pun demikian. Bersyukur menjadi topik pembicaraan yang sering mucul disana.

Wajar saja karena angkringan menjadi sarana masyarakat akar rumput untuk mengungkapkan kegelisannya. Di saat tekanan hidup semakin sulit, angkringan adalah harapan untuk tetap bertahan hidup.

Bagi pengunjung, angkringan adalah sarana untuk berkeluh kesah. Bagi pedagangnya adalah cara mendapatkan penghasilan untuk membayar kebutuhan hidup.

Seperti kopi yang disuguhkan kepada saya, banyak minuman cepat saji yang disajikan di angkringan saat ini. Sisi belakang angringan biasanya dihiasi oleh gantungan kemasan-kemasan minuman cepat saji ini. Praktis hanya teh yang disajikan bukan minuman instan. Hal itu mempermudah pedagang angkringan untuk menjalankan usahanya.

Di tempat wisata seperti angkringan yang sering saya kunjungi, ada usaha sejenis seperti wedang ronde, jagung bakar, warung lesehan, dll. Mengingat bahan baku yang digunakan untuk makanan yang disajikan di usaha tersebut relatif murah. Terkadang pengunjung menggerutu ketika harga yang diberikan relatif mahal, bahkan bisa tiga kali lipat dibandingkan tempat lainnya. Lalu biasanya masalah ini sampai di media sosial dengan banyak makian.

Yang tidak mereka sadari adalah latar belakang mengapa para pedagang itu bisa memberikan harga yang mahal. Memang tidak sepantasnya "makanan rakyat" diberi harga mahal apalagi dengan cara berbohong. Jika saya amati, para pedagang kecil ini kesulitan membayar kebutuhan hidup seperti yang saya sebut diatas.

Memberikan harga mahal adalah upaya memenuhi target sejumlah uang yang harus segera dibayarkan. Bukan untuk gaya hidup, melainkan biaya tempat tinggal, biaya sewa tempat berjualan. Ada pedagang yang terpaksa tinggal di tempat berjualan karena tidak punya tempat tinggal.

Biaya pendidikan yang katanya gratis tetapi selalu ada saja yang harus dibayar, entah kegiatan sekolah atau inisiatif gurunya. Biaya transportasi yang mahal, katanya harga turun tetapi ternyata untuk jenis bahan bakar tertentu. Mereka memakai bahan bakar yang tidak turun harganya.

Biaya untuk berobat, banyak dari mereka yang sakit. Mereka keberatan membayar biaya iuran kesehatan. Kata orang biar selalu sehat harus kerja santai, banyak olah raga, meditasi, yoga, dll. Bagaimana mau olahraga, jika mereka harus melakukan lebih dari satu pekerjaan untuk membayar biaya itu semua? Waktu untuk mencari uang saja rasanya tidak cukup apalagi untuk olahraga.

Ada orang yang bilang makannya makan makanan yang bergizi. Bagaimana bisa mereka makan makanan bergizi, jika makanan sehat, makanan organik mahal harganya? Bagaimana bisa mereka memasak untuk menghasilkan makanan yang sehat jika waktu untuk memasak tidak ada?

Lalu saat ini pemangku kebijakan akan memberikan cukai untuk minuman-minuman kemasan yang mereka jual. Katanya minuman itu tidak sehat, pemicu diabetes. Katanya rakyat diminta hidup sehat dan hasil cukai itu untuk menambal kekurangan di iuran kesehatan.

Minuman-minuman itu sangat membantu, tidak hanya pedagang angkringan tetapi juga pedagang-pedagang kecil lainnya. Untuk para peminumnya, minuman tersebut adalah oase yang setidaknya meredakan masalah yang mereka hadapi walaupun hanya sesaat.

Para peminum itu rata-rata juga rakyat kecil, memiliki masalah dengan biaya seperti diatas. Kita mau minum apalagi yang bisa membahagiakan juga terjangkau selain minuman tersebut? Apa jadinya jika harga minuma itu naik?

Di sekitar angkringan tersebut ada semacam preman yang dikelola oleh pemilik kawasan. Biasaya jika preman itu sedang butuh uang, mereka memalak pedagang dengan embel-embel uang listrik lah, uang kebersihan lah, uang keamanan lah, dll. Seakan-akan preman tersebut petugas resmi dari sebuah otoritas.

Tugas pemangku kebijakan adalah membantu meringankan beban-beban biaya diatas. Namun kenyataannya rakyat kecil justru dipalak melalui biaya-biaya seperti cukai minuman tersebut. Hal itu persis seperti yang dilakukan preman kepada para pedagang.

Di sisi lain, pemangku kebijakan membukakan pintu keran untuk investasi sebesar-besarnya. Melalui kekuasannya, pemerintah membuatkan peraturan yang mempermudah investor tersbut. Padahal banyak investor yang tidak memiliki masalah-masalah biaya seperti diatas.

Tidak heran saya melihat banyaknya rakyat yang tergusur karena pembangunan dari investor tersebut. Saya melihat salah satu yang terkena dampaknya, harus bertahan hidup dengan berdagang angkringan disana.

Bagaimana dengan masyarakat bertempat tinggal di hutan yang harus tergusur karena hutannya dibabat habis untuk investasi. Adakah yang melindungi mereka? Karena pemangku kebijakan menghapus aturan dampak lingkungan untuk investor.

Sepertinya mereka perlu belajar mencici kopi pahit seperti yang saya lakukan. Kopi yang awalnya tidak saya sukai. Agar rakyat tidak dipalak juga disalah-salahkan. Atau sebaiknya kita bersama-sama bergerak meruntuhkan kekuasaan? Karena keadaan ini sudah sangat jelas bahwa kita dipermainkan. Saya tahu memang tidak semudah itu karena mungkin hidup senikmat kopi yang pahit.