Ketika memutuskan untuk kembali domisili ke kampung halaman Kota Kendari, hal pertama dalam impian sederhana saya adalah memiliki sebuah ruangan khusus semacam perpustakaan mini pribadi yang berisikan buku, cd, kaset pita, lukisan, majalah, serta vinyl dan turntable.

Keinginan tersebut didasari atas diri yang sering teledor ketika habis menggunakan barang. Belum lagi, saya dulu ada pengalaman ketika membawa pulang buku berdos-dos.

Dua tahun kemudian saat mudik, saya menjumpai semua buku-buku itu ludes dimakan rayap dan jamuran. Hal itu disebab kondisi ruangan yang kurang layak. Hal lain adalah soal etetika ruangan. Saya mengimpikan barang-barang yang saya cintai berada di sebuah ruangan yang juga penataannya enak saat saya pandangi.

Pada 2017, mimpi sederhana itu pelan-pelan mulai kuwujudkan di sebuah ruangan berukuran 1,5 X 3 meter yang dulunya merupakan bekas gudang penyimpanan alat musik. Pembangunan tata ruang dan konten berjalan tahap demi tahap hingga kini.

Awal membangun, untuk interior, saya memajang 2 vinyl bekas yang tak lagi bisa diputar di atas rak-rak buku. Sebagai tanda bahwa buku memang utama, tetapi musik di atas segalanya.

Kini, walau wujud ruangan tersebut sudah bisa terlihat, namun mimpi sederhana itu rasanya belum sepenuhnya mewujud. Why? Dari semua isi perpus, saya belum berhasil menghadirkan vinyl dan turntable. Sebabnya adalah setiap memiliki rezeki, buku-buku bertema musik selalu menjadi prioritas utama. Vinyl dan turntable jadi semacam kutukan album kedua yang juga belum kesampaian dalam perjalanan musik saya.

Tentang Vinyl, buku karya Wahyu Acum, gitaris sekaligus vokalis dari Bangku Taman adalah panduannya. Bukunya berjudul #GILAVINYL; Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam. Buku ini sebetulnya sejak jauh hari telah masuk dalam daftar perburuan. Namun, saya memilih untuk memprioritaskan buku lain. Sebab, saya takut tersiksa ketika membacanya.

Dari review yang saya baca di internet, saya belum sanggup menyisihkan ruang di hati melihat asyiknya penulis melakukan hunting dan bagaimana dia menikmati hasil perburuannya. Tetapi karena salah satu algoritma saya yang terbentuk adalah sebagai kolektor dan pemburu buku-buku musik, maka buku ini mendatangi saya secara cuma-cuma lewat tangan seorang kawan. 

Jadi, mau tidak mau, walau sudah memprediksi bagaimana pahitnya tersiksa melihat orang lain lebih dulu mewujudkan mimpi saya, saya musti membacanya. Demi menambah pengetahuan. Atau hitung-hitung, siapa tahu dari membaca dan mengabadikan hasil bacaan dengan menuliskannya, buku lain berikutnya datang juga dari kawan-kawan yang ceria ketika melihat saya bahagia. Bhahahahaha... kode keras.

***

Buku #GILAVINYL tidak sekadar menyajikan curhat penulis dalam mengumpulkan vinyl. Penulis mengawalinya dengan edukasi vinyl. Memperkenalkan apa itu vinyl, terbuat dari bahan apa, perbedaan sensasi memutar vinyl dengan medium lainnya, hingga jenis-jenis ukurannya.

Apakah teman-teman tahu bahwa ada salah satu jenis vinyl yang diproduksi dari bahan shellac, sejenis bahan yang berasal dari air liur serangga yang tumbuh di hutan-hutan India dan Thailand? Keren, kan, isi bukunya

Perjalanan penulis hunting vinyl di Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Malang, Bali, Surabaya, hingga Singapure, Thailand, Malaysia dan daerah lainnya  disajikan secara renyah. Tiap daerah yang dijejakinya menyimpan keunikan dan khasnya masing-masing. Kita juga jadi tau bagaimana trik untuk mendapatkan vinyl yang bersembunyi di sudut-sudut perkotaaan.

Penulis juga memperkaya sudut pandang dan pengalaman dari kolektor vinyl lainnya dengan menghadirkan wawancara bersama narasumber dari beragam latar belakang. Mulai dari artis, jurnalis, hingga penjual vinyl, seperti Arian Seringai, Andien, Aprilia Apsari, Soleh Solihun, Ryan D’Masiv, Vincent Rompi, Samson Pho, tiga personil Nidji dan beberapa nama lain.

Di bagian akhir, penulis memberikan bonus dengan menunjukkan Direktori Kios/Toko/Spot Vinyl di Indonesia.

Oh iya. Membaca buku ini, saya juga seperti melihat diri saya saat di perantauan. Impresi hunting vinyl ternyata hampir sama dengan hunting buku dan barang loakan.

Metode dan sensasi penulis saat digging (istilah yang dipakai saat mencari vinyl) mirip dengan metode saya dan teman-teman saat hunting buku. Saya jadi ingat bagaimana sensasi di hari minggu pagi menjejaki Pasar Comboran Malang yang juga menjadi salah spot penelusuran penulis. Bagaimana serunya hunting buku di pasar buku wilis dan bazar-bazar buku seperti di Aula SKODAM Malang. Huh! Buku ini menggali ruang rindu di tanah rantau.

***

Namun, di balik semua keseruan cerita penulis, saya melihat kegilaan hobi ini bisa berdampak pada penderitaan jika kita tak tahu bagaimana cara memulai, cara menjalani, dan pada titik mana musti menahan diri.

Dari riwayat penulis dan juga narasumber dalam buku, hampir semua mereka kalap menyalurkan kegilaannya nanti pada kondisi keuangan yang stabil. Toleransi dari keluarga juga amat penting. Mari kita berhitung. Taruh saja misalkan harga sebuah vinyl 200 ribu. Ini hanya asumsi. Jadi, dengan koleksi minimal 200 buah vinyl saja, artinya seseorang sudah membakar uang 40 juta. Bagaimana jika harga dan jumlah koleksinya di atas itu?

Tapi, bukankah tidak semua hal bisa dinilai sebatas rupiah? Di sisi lain, vinyl adalah tentang cinta. Berani mencintai harus berani juga menerima dampak dari cinta. Ada sensasi lain mendengarkan musik lewat vinyl tinimbang yang lain. 

Rasa-rasanya tidak ada cinta yang didapatkan tidak melalui pengorbanan. Pada pengorbanan pasti ada penderitaan. Namun penderitaan adalah kebahagiaan itu sendiri. Apa pun aral yang melintang, hasrat cinta akan jadi penyakit jika tidak tersalurkan.

Nafsu memang jadi semakin menggebu-gebu saat membaca buku ini. Hasrat yang sudah lama terpendam jadi ingin segera kusalurkan. Tapi saya tahu diri. Biasanya, jika memulai sesuatu, saya tidak akan berhenti pada batas maksimal yang saya miliki. Terima kasih, buku #GILAVINYL. Saya jadi tahu apa yang musti dipersiapkan dan bagaimana cara memulai.

Saya bersyukur tinggal di Kendari. Setidaknya saya memiliki jarak dengan spot yang ditunjukkan oleh buku tersebut. Walau dengan internet bisa terhubung, tapi menatap jauh lebih bikin larut ketimbang mengetik. Lagian, di kota ini juga masih jauh untuk sebuah gelaran event Record Store Day, hari di mana semua pecinta musik merayakan kembalinya rilisan fisik.

Masih ada dua belas bulan untuk memenuhi gizi tabungan sebelum memulai di tahun ini.