Pelajar itu penuh dengan derita. Bukan hanya pelajar, sih. Bagi orang yang merasa masih bisa bernapas pasti belum terlepas dari yang namanya derita. Pernah dengar ungkapan "ah, ayo cepat lulus dong, udah gak tahan di sini atau enakan zaman ini ya"? Semua itu namanya derita.  

Di zaman TK, SD, SMP, SMA, sampai jadi mahasiswa pun punya deritanya masing-masing. Sepakat, mungkin saja derita pelajar itu umumnya sama saja, ya? Kita yang pernah jadi anak bandel di tingkat TK sampai anak yang penuh mimpi di zaman SMA paling-paling sudah merasa dipusingkan oleh PR yang terasa lebih menggemaskan namun begitu penuh derita.

Eh, tapi gimana kalau deritanya mahasiswa? Mahasiswa itu sudah masa-masanya penentuan nasib pasti deritanya lebih gurih, mungkin saja lebih gurih disebut paket “Double Combo”. Kalau double ombo-nya mahasiswa beda dengan double combo-nya si paket-paket makanan restoran itu.

Namanya juga mahasiswa. Ah, tapi bosan ngomongin peran mahasiswa. Kita pasti sudah menjalankan kewajiban kita, tapi kenapa hak masih belum terpenuhi, ya? Pusing deh. (Catatan: Kalau penulis udah stop menulis, berarti sudah hilang dari peradaban)

Adik-adik, kawan-kawanku, dan para pembaca yang budiman, bagi kamu yang mau siap-siap memasuki dunia mahasiswa atau yang sedang berjuang keluar dari derita mahasiswa atau yang sudah mau melepas status mahasiswanya, coba deh simak derita mahasiswa sejarah yang mungkin kelak akan kamu temui, kamu tanyakan, atau sekadar sudah kamu tonton.

Mari, para pembaca yang budiman, walaupun namamu bukan Budiman atau nama ayahnya bukan Budiman, siapkan tisu, bukan untuk mengusap air mata, tapi mengusap keringat karena akan terasa membosankan.

Derita #1: Mahasiswa Sejarah katanya sering hafalan

“Hey, kamu kuliah di mana? Jurusannya apa?" Kemudian seorang mahasiswa menjawab “Kuliah di jurusan sejarah.” Lalu terdengar jawaban yang membuat senyu terasa masam, “Wah, pasti sering hafalan ya?”

Here we are, hal itu sudah sangat sering terjadi. Tenang, kawan, ini gurihnya belum begitu terasa. Bagaimana para mahasiswa sejarah? Yap, pasti pertanyaan itu sering kamu lontarkan ke mahasiswa sejarah atau kamu mahasiswa sejarah sering kali mendapatkan pertanyaan itu.

Mari, akan saya bawa ke ruang konferensi pers untuk melakukan klarifikasi atas pernyataan itu. 

Jadi begini, kawan-kawan, mahasiswa sejarah itu memang harus mengenal konsep ruang dan waktu, di mana kamu harus tahu persitiwa dengan detail tempat dan juga detail waktu dari persitiwa sejarah itu karena tidak akan lepas dari hakikat sejarah itu sendiri. Nah, berarti benar harus dihafalin, dong? Jawabannya tidak.

Mahasiswa sejarah yang diharuskan mengetahui secara detail ruang dan waktu tidak pernah mengalami kewajiban menghafal. Bapak dan Ibu Dosen pada umumnya akan memberikanmu pemahaman terlebih dahulu terkait materi yang dibawakan, selebihnya akan diwajibkan mencari infornasi sendiri dan akan diberi tugas sebagai timbal balik atas pemahaman kita.

Mungkin anggapan materi sejarah yang penuh dengan hafalan itu terbawa dari materi sejarah di tingkat SMA. Pembaca yang budiman, saya pastikan menjadi mahasiswa sejarah tidak penuh dengan hafalan. Justru akan menyenangkan belajar dari masa lalu untuk masa depan yang lebih baik. Jiah, mantap.

Derita #2: Mahasiswa Sejarah Katanya Sulit Mendapatkan Pekerjaan

Kamu tahu stigma? Yap, bagi kamu para pembaca yang membaca tulisan ini dan berpikiran bahwa mahasiswa sejarah sulit mendapatkan pekerjaan itu adalah stigma yang sering muncul di lingkungan sekitar. Betul atau benar? Bahkan, ketika kamu atau kalian yang sudah menjadi mahasiswa ketika akan dan sudah memutuskan memilih jurusan sejarah akan mengalami hal demikian.

Bagi kamu yang akan memutuskan memilih jurusan sejarah, rekan, orang tua, dan bahkan keluarga besar akan mengeluarkan pernyataan, “mau jadi apa?” atau “kenapa tidak jurusan lain yang prospeknya jelas?” dan bahkan bagi kamu yang sudah memilih jurusan sejarah pasti masih sering mendengar kata-kata itu. Lebih buruk lagi ada pernyataan bahwa prospek kerja lulusan sejarah hanya akan menjadi penjaga museum. Yang benar saja, wahai Kisana?

Justru sebaliknya, menjadi mahasiswa sejarah itu terasa akan lebih menyenangkan dan memiliki prospek pekerjaan yang secerah kasih ibu sepanjang masa bagai sang surya yang menyinari dunia. Mengapa demikian?

Mari, tatap tulisan ini sambil bayangkan wajah mahasiswa yang mendekati semester akhir namun tidak ingin disebut mahasiswa tua ini. Jadi, mahasiswa sejarah itu akan membuat prospek kerja kamu jelas dan bahkan bisa beragam. Kenapa begitu?

Pertama, mahasiswa sejarah sering kali diberi suguhan ilmu bantu lain seperti sosiologi, antropologi, politik, ekonomi, geografi, dan lain-lain karena ilmu-ilmu tersebut merupakan sumber ilmu bantu sejarah yang akan membantu melihat kondisi di masa lalu sehingga pandangan akan ilmu lain lebih luas.

Kedua, jika tekun, kamu bisa menguasai bahasa sumber. Apa itu bahasa sumber? Bahasa sumber secara sederhana bahasa induk dari sumber sejarah yang ditemukan seperti arsip, koran, dan dokumen lain yang berbahasa asing seperti Belanda, Inggris, Jepang, atau bahkan bahasa Sansekerta.

Ketiga, kemampuan dasar ini mungkin akan dibutuhkan di berbagai profesi, yaitu kemampuan menulis serta berbicara segala hal dengan analisis ilmiah dan kekuatan imajinasi sastra. Mengapa demikian?

Jika kamu benar-benar serius menekuni ilmu sejarah, maka kamu akan terbiasa dengan menganalisis suatu kejadian masa lalu dengan dikaitkan dengan kondisi saat ini dan lagi bagi mahasiswa sejarah pasti akan dibekali kemampuan berimajinasi karena bagi para pendengar atau pembaca sejarah akan terasa bosan jika menyampaikan sejarah terasa bosan. Sehingga, mahasiswa sejarah selalu terbiasa dengan imajinasi-imajinasi yang menghibur agar sejarah yang disampaikan tidak membosankan.

Nah, sudah mendapatkan gambaran, kan, wahai Kisana? Lalu, bagaimana dengan prospeknya? Tenang saja, kamu yang ingin masuk jurusan sejarah atau yang sudah masuk jurusan sejarah mari kita menata niat untuk apa belajar sejarah?

Ubah pandangan bahwa apa yang ingin kamu capai dengan berorientasi pada kepentingan ilmu sehingga pekerjaan itu sendiri yang akan mendatangi kamu. Bosen ya diceramahin terus?

Ya, justru menjadi lulusan sejarah itu akan membuka banyak peluang dan tenagamu akan dibutuhkan di instansi pemerintah seperti kepariwisataan dan cagar budaya, serta wartawan, tengara pengajar, penulis di bidang sejarah, praktisi sejarah, dan bahkan profesi lain yang membuka peluang kerja sama pengembangan keilmuan dengan negara-negara lain.