2 tahun lalu · 169 view · 6 min baca menit baca · Cerpen 68522.jpg
Kompas.com

Derita Hidup di Negeri Kaya

Sekadar menyambung hidup memang tak mudah. Rasa was-was, bayang-bayang ketakutan dalam melangkah, tantangan-tantangan seperti itu terlalu sering menghampiri. Bahkan tak jarang jika kehilangan nyawa jadi resiko terberatnya.

Tapi itulah hidup. Banyak lika-liku yang memang harus manusia jalani. Takut, sama artinya berani hidup hanya untuk mati.

Hampir sudah 60 tahun aku hidup atas tanahnya. Bangka, pulau terpencil paling timur Sumatera ini, sudah banyak memberiku asam garam. Kehidupannya indah berselimut tragis. Timahnya melimpah-ruah, memberi gairah hidup untuk tetap konsisten bisa menahannya walau perih.

Cucur keringat dan tetesan darah sekali pun, kerap tak jadi masalah saat hasil setimpal bisa ditemui. Hidup benar-benar menuntut pengorbanan berlebih atasnya.

Saat berdiri di sini di usia yang masih seumur jagung, tanahnya masih sangat subur seperti sekarang. Hanya saja, lubang-lubang hasil galian nampak menganga di sana-sini. Sedang hasil tanahnya, tak beda sedikit pun di saat aku mulai menginjakkan kaki atasnya.

Bedanya, jika dulu ia dinikmati oleh hanya masyarakat setempat, sekarang orang-orang luar pun ikut nimbrung mencari nafkah di atasnya. Tak jarang, monopoli hasilnya diberlakukan semena-mena. Rakyat pun hanya mampu tumbuh ke bawah, sedang pemodal tumbuh ke atas dan melebar.

“Pak, kau tak berangkat kerja lagi? Sudah seminggu ini bapak hanya bisa menghabiskan waktu senggangnya hanya di rumah. Duduk, merenung, berbaring, lalu duduk lagi.”

Kata-kata istriku itu hanya bisa ku tangkap dengan samar. Aku heran, 40 tahunan sudah menjalin kasih, sampai detik ini pun tak pernah ia rasakan bagaimana rasanya seorang kepala rumah tangga kehilangan garapan hidupnya.

Jika pada kaum religius menganggap agama sebagai tiang kehidupan, bagi orang seperti diriku, tanah adalah landasan utama untuk bisa berdiri kokoh. Tak ada yang bisa menyangkal: siapa mampu hidup tanpa tanah?

“Pak, kok masih merenung aja? Mau sampai kapan bapak harus seperti ini? Kepulan asap di dapur sebentar lagi akan redup. Bekal makanan kita sehari-hari pun mulai menipis, pak. Belum lagi, Wawan dan Rohis akan bayar SPP. Kalau bapak tidak juga beranjak bekerja, kita mau menutup kebutuhan sehari-hari kita dengan apa, pak?”

Pertanyaannya hanya bisa ku jawab dalam hati. “Bu, semua orang tak ada yang tidak menghendaki dirinya bekerja. Semua butuh makan untuk hidup.”

Tak kuasa rasanya melontarkan keluar ke alam pendengarannya. Gairah hidup seolah sudah terbantai oleh kejamnya hidup itu sendiri. Tapi tetap berusaha mendengungkannya, dengan samar dan hanya dia seorang diri yang mendengarnya.

“Nah, tuh bapak tahu. Terus kenapa bapak tidak juga beranjak pergi bekerja sampai seminggu ini? Apa bapak tega lihat kami hidup kelaparan? Aku mah tidak masalah, tapi bagaimana dengan Wawan dan Rohis? Mereka masih ingusan untuk bisa menanggung kebutuhan hidupnya secara sendiri.”

Terdengar ibu dari dua anakku ini ngoceh terus tanpa batas. Aku paham, kesabarannya mulai tak bisa terbayarkan lagi. Aku paham, semua tuntutannya hanya hendak melihat keluarganya tidak hidup dalam keserba-kekurangan.

Ibu memang terkadang lebih mulia dari seorang kepala rumah tangga. Ia bisa merasakan jika keluarganya mulai terancam, apalagi hanya soal hidup-menghidupi. Mungkin ini jugalah tujuan Tuhan menciptakan Hawa. Tuhan memandang bahwa Adam tidak akan mampu menjalani hidupnya tanpa seorang Hawa. Hawa sebagai pelengkap atas kekurangan seorang Adam.

Mulia rasanya bisa hidup berdampingan dengannya. Meski makan pun hampir tidak, seolah tak jadi masalah buatku. Hanya saja, bagaimana dengan anak-anakku kelak?

Sedari tadi aku hanya bisa merenung. Berpikir entah apa, aku sendiri tak tahu lagi. Pesan yang disampaikan alam raya ini pada batinku, memaksaku untuk terus berlaku demikian. Seolah tak kuasa lagi memandang hidup yang kejam.

Tanah yang bertahun-tahun ku pijak ini, tak bisa lagi memberiku harapan hidup. Untuk sekadar menyambung sehari pun, sedikit terlihat mustahil. Ah, semua karenanya. Pemerintah korup itu, merampas semuanya dari sisiku.

Kasihan anak-anakku, sebentar lagi mereka akan putus sekolah. Pembayaran untuk sekolahnya sebentar lagi tak sanggup untuk aku lunasi. Mau kerja apa mereka kelak jika tanpa ijasah sebagai modalnya?

Kasihan istriku, dapurnya sebentar lagi juga akan berkepul tanpa asap. Aroma makanan dari bilik dapur, juga sebentar lagi menawarkan rasa tawar. Kasihan semuanya. Sungguh kasihan. Hanya itu yang bisa ku rangkai.

“Dasar koruptor keparat!” Tak tahu diri!” Sontak teriakan ini terdengung dengan lancangnya. Jangankan pada istriku, tetangga di samping kiri-kanan rumah pada berhamburan keluar menuju tempat di mana aku sedang berdiri.

Rumahku mulai dipenuhi warga setempat. Mereka tercengang, berbisik dari satu ke telinga yang lainnya. Wajahku yang memerah dengan geramnya, seolah terlihat oleh mereka ibarat iblis yang sedang mengamuk.

“Apa yang kalian lihat? Kalian setuju dengan kebijakan para elit kotor dan keparat itu? Pergilah, sampaikan salam tantangku dengan mereka yang tak tahu diri itu!”

Istriku yang sedari tadi mendandani wajannya dengan lauk yang tak seberapa itu, bergegas keluar menenangkan aku. “Sabar, pak. Masalah tidak akan pernah selesai hanya karena bapak berteriak histeris dengan emosi seperti itu. Sabar.”

Kejengkelanku reda segera setelah kepalan tanganku tertuju pada wajah salah seorang tetangga rumah yang mencoba menenangkan aku dengan perlakuan tanpa perasaan. Dia hanya pasrah, tak ada perlawanan yang telihat dari raut wajahnya. Wajahnya yang juga memerah, dibawanya lari dari hadapanku. Aku berdosa padanya. Aku mengakuinya.

“Sungguh bodoh!” makiku pada diri sendiri. “Semua karenanya, bu. Mereka harus bertanggung jawab atas semua yang mereka lakukan pada kita, pada anak-anak kita, juga pada tanah yang kita huni selama puluhan tahun ini.”

“Sudahlah, pak. Mereka orang besar. Segala cara akan mereka lakukan untuk membunuh kita. Kita tak bisa apa-apa. Kita kecil dan akan tetap kecil. Tidak seperti mereka. Biarlah Tuhan yang membalas semuanya.”

“Tuhan katamu? Aku tak percaya dengan Dia. Bagiku, Dia tak lebih dari seonggok sampah. Jika Dia punya kuasa, mengapa Dia justru membiarkan hamba-hambanya hidup terlantar seperti ini?”

Kata-kata itu hanya bisa terlontar dari mulut hatiku sendiri. Tak ada yang mendengar, bahkan istri yang di depan mataku ini pun tak sanggup mengintip perasaan kejengkelanku sendiri.

Pada Dia, aku tak pernah merasa berdosa sedikitpun. Beda dengan tetangggaku tadi yang sempat merasai kerasnya kepalan tanganku dengan amarah.

Aku masih bisa mengingat, bagaimana UU Minerba itu diberlakukan. Sejumlah pasal yang tertuang di dalam kebijakan bejat ini, jelas hanya menguntungkan para pemodal yang punya segalanya. Rakyat kecil, hanya akan menjadi penonton di atas tanahnya yang subur bergelimang harapan hidup.

Perusahaan besar seperti PT Timah itu, hanya mereka yang bisa melakukan monopoli atas kekayaan sumber daya alam Pulau kecil tapi besar ini. Kontradiktif dan diskriminasi, itulah pasal yang ada dalam UU ini. Menguntungkan, bukan? Jelas, hanya pada penguasa dan pemodal yang tak tahu diri di sana.

Sebenarnya, di gudang rumah masih banyak pasir timah yang bisa dikonversi jadi uang. Akan tetapi, masalahnya sungguh tidak sesederhana demikian. Siapa yang bisa membeli timah itu dengan harga yang cukup seperti yang dulu-dulu?

Kebijakan penguasa hanya bisa melanggengkan kuasa para pemodal untuk mengontrol urusan pasar. Harga pokok atas timah, seenaknya diputar-balikkan hanya bagi kepentingan dan kebutuhannya semata. Menguntungkan, bukan? Ya, hanya bagi si mereka yang lagi-lagi tak tahu malu itu.

Hidup sulit justru semakin dipersulit. Jika dulu masyarakat setempat masih bisa menikmati serta mengelolah tanah tambangnya sendiri, sekarang harus melalui perizinan perusahaan yang dianggap sah secara hukum. Adil tidak? Hanya mereka yang bodoh yang akan mengganggapnya demikian.

Tapi apa yang bisa aku lakukan dengan seorang diri? Yang lain justru tak pernah merasai hal yang sama. Mana bisa perjuangan kesejahteraan bisa berlaku tanpa kebersamaan? Omong kosong!

Timah, kasihan dirimu. Kau dikuasai dan dinikmati oleh orang-orang yang sama sekali tak berhak atas dirimu. Mereka tak bertanggung jawab, hanya menginginkan dirimu untuk kepentingan pribadinya.

Andai dirimu punya perasaan, aku yakin, kamu akan menangis melihat semua perilaku bejat itu. Dirimu ada tentu bertujuan untuk kemaslahan semua, bukan pada pribadi atau segelintir orang saja

Pulau Bangka, nasibmu juga sungguh malang. Dieksploitasi tanpa perasaan oleh mereka. Siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas kerusakan yang mereka perbuat atas dirimu ini?

 Penguasa hanya bisa mendengar jerit tangis dirinya sendiri juga keluarganya, terutama hanya bagi para pengusaha. Rakyatnya, dibiarkan luntang-lantung menanggung nasibnya sendiri di atas tanahnya yang berlimpah penghidupan itu.

Artikel Terkait