Satu per satu kawan seperjuangan menghilang. Lenyap tertelan mulut besar perut buncit para birokrat. Entah mereka lenyap hanya karena sekedar takut atau mereka memang telah dilenyapkan bersama kegondrongannya.

Hari-hari ini pundakku terasa lebih berat. Memikul beban juang yang tak kenal waktu apalagi penat. Siap sedia bertempur dengan para birokrat, tentang benar salah rambut panjang yang selalu kurawat.

Setiap hari, perkuliahan kujalani bagai gerilyawan yang keluar masuk hutan belantara. Bertindak layaknya tawanan yang telah lama tertatih di kamp-kamp konsentrasi. Memakai tupluk di setiap mata kuliah sambil berjaga-jaga, apabila dekan beserta jajarannya melakukan razia. Maklum, aku belum pernah terciduk sebelumnya.

Yahhh! Itulah keseharianku. Bertempur melawan ganasnya birokrat kampus. Kerap pula kudapati tatapan sinis, jijik, ataupun takut staf-staf kampus dan segelintir mahasiswa. Seakan-akan aku adalah preman cap kakap alumni nusakambangan, atau paling buruk, dianggap predator yang kerap mengincar selangkangan gadis-gadis muda.

"Heyy brother, heyy sister, aku bukan preman, apalagi seorang kriminal! Aku hanyalah seorang pria biasa. Gondrong ku ini adalah simbol perlawanan atas kesewenang-wenangan para penguasa. Itu saja!" Teriakku dalam diam.

Seperti biasa, sebelum ke kampus aku menyeduh kopi arabica kesukaanku. Aromanya kuat, meskipun tak setajam excelsa, rasanya rada-rada asam, lebih nikmat dari robusta,  dan terpenting dapat membuat mata melek tak karuan bila meminumnya. Belum lagi bila kuisap rokok kretek sehat tentrem yang menambah kenikmatannya. Sungguh pagi yang indah.

Tepat pukul 7.45 WITA ku telah berada di kampus tercinta. Gondrong-gondrong begini aku tetap mahasiswa yang selalu datang tepat waktu. Apalagi, mengingat biaya kuliah yang sangat membebani orang tua. Menambah gunda gulana ku sebagai mahasiswa.

Kumasuki ruang 201 dengan niat mantap menimba ilmu. Ku menunggu sekitar 30 menit sambil bercerita dengan kawan sejawat. Akhirnya, pak Dayat, seorang dosen muda, dengan gaya nyentriknya, telah hadir di depan mata, dengan segera membawa mata kuliah bentuk dan estetika.

"Adik-adik, menurut kalian indah itu apa sih?" Tanya pak Dayat.

"Indah itu cantik, pak."

"Indah itu enak dipandang, pak." Sahut beberapa murid.

"Indah itu luka, pak." jawabku.

"Yahh dari semua pendapat kalian, tidak ada yang benar maupun salah. Sebab, setiap orang mempunyai arti tersendiri mengenai keindahan. Tergantung dari perspektif apa yang kalian gunakan. Contoh saja, tak ada seorang pun yang dapat memungkiri kecantikan seorang Agnes monica, bila kita melihatnya melalui perspektif manusia. 

Tapi, apabila kita melihatnya dari perspektif katak, burung ataukah semut masih yakinkah kita bahwasanya dia masih secantik layaknya pada perspektif manusia? Oleh karena itu, jangan pernah memaksakan standar keindahan kalian kepada orang lain yahh!" Tandas pak Dayat.

Belum selesai pak Dayat menjabarkan teorinya, pak dekan dengan raut wajahnya yang sudah keriput tiba-tiba masuk ke ruang kelas, lalu seraya berkata "Maaf pak Dayat, saya ambil waktunya sebentar."

"Silakan, pak." Kata pak Dayat.

"Saya barusan mendapatkan info, mahasiswa fakultas sebelah kedapatan tidak mengikuti aturan kampus yang ada. Sekedar menyegarkan ingatan adek-adek kembali, di kampus ini dilarang gondrong, dilarang merokok, dilarang memakai baju kaos, dilarang bawa sajam dan masih banyak lagi aturan-aturan yang tidak boleh kalian langgar, sesuai dengan formulir pendaftaran yang kalian tanda tangani pada saat kalian masuk ke kampus ini."

"Jadi bagi siapa saja yang melanggar, harap maklum bila kalian dikeluarkan dari kampus." Sahut pak dekan sambil berjalan-jalan mengitari kami.

Dengan mata tajam disertai gerak-gerik bak Sherlock Holmes nya, ia mencari bukti. Bukti yang menunjukkan bahwa di kelas ini tidak ada satupun mahasiswa melanggar aturan yang telah ditandatangani. 

Melihat gerak-geriknya yang seperti itu aku seakan akan paralyzed, tubuh ku gemetar, tak teratur pola nafasku, dan bercucuran keringatku. Maklum aku belum pernah terciduk sebelumnya dan sialnya di kelas ini, hanya aku saja yang melanggar.

"Heyyy kamu!" Kata pak dekan seraya tiba-tiba menunjukku.

"Coba buka tupluk mu itu,"

"Wadduhh, taamatlah riwayatku." Kataku dalam bisu sambil menepuk jidat indahku.

"Kamu budeg yaa, saya bilang buka tupluk mu itu!" Tandas pak dekan.

Seluruh mata yang ada di kelas tertuju padaku. Tatapan mereka seakan-akan memberikan ku sugesti untuk membuka tupluk legendaris ku, dan pada akhirnya dengan berberat hati lepaslahh tupluk legendaris itu.

Gontaian panjang rambut hitamku mulai berguguran jatuh ke bumi. Setiap helainya menunjukkan kilau hitam nan indah.

"Kurang ajar! Berani-berani nya kau gondrong di sini."

"Kamu mau dikeluarkan?" Tegas pak dekan.

Dengan lidah yang latah ku menjawab "tititidak pak."

"Bila kau tidak ingin dikeluarkan, setelah perkuliahan ini, temui saya di ruangan dekan." Kata pak dekan sambil memotret wajahku.

Sehabis mata kuliah, dengan hati yang berat, ku langkahkan kaki ku menuju ruangan para birokrat. Papan ruangan bertuliskan Dekan, kumasuki dengan langkah yang lusuh. Aku buka pintunya lalu ku ucapkan salam untuk pemilik wajah keriput yang selalu kujauhi itu.

"Assalamualaikum pak."

"Ehh, kau yang gondrong tadi kan?"

Tamat sudah rambut panjang yang selalu ku rawat. Maaf kawan, kuharus mundur dari pertempuran ini. Bukannya aku takut dengan birokrat bangsat itu, tapi aku hanya mundur. Mundur untuk mengatur siasat baru. Kawan, tunggu saja. tunggu tanggal mainnya.