Rintik hujan mulai membasahi area pemakaman tempat di mana sahabatku, Lavina dimakamkan. Orang-orang yang mengantarkan Lavina ke tempat peristirahatan terakhirnya sudah pulang, menyisakan aku dan keempat sahabatku, Akasia, Nelsi, Rega dan Aldo. Kami berlima masih setia menatap batu nisan Lavina yang masih baru, menahan sesak di dada masing-masing dalam diam. Sesekali suara isakan terdengar di antara kami. Suasana berkabung benar-benar sangat terasa, membuat kami tidak tersadar hujan kian lebat.

“Udah,” Rega memecah keheningan. “Kita ikhlasin kepergian Lavina. Dia gak bakal seneng liat sahabat-sahabatnya sedih kayak gini.”

Aldo mengangguk membenarkan, Akasia mengusap matanya yang memerah, Nelsi tersenyum sedangkan aku menatap keempat sahabatku satu persatu dengan tatapan sendu.

“Bener kata Rega, kita nangis pun udah terlambat. Lavina udah pergi. Kita cuma bisa doa yang terbaik buat dia.”

Aldo mengawali berdiri. “Ayo pulang. Kita udah basah gini.”

Kami berempat mengikuti langkah Aldo. Aku berjalan paling belakang dengan Rega yang merangkulku. Aku kembali menoleh ke makam Lavina dan menggumamkan kata selamat tinggal tanpa suara.

Sesampainya di rumah Akasia, kami berempat memutuskan untuk menginap disana. Kami tidur di kamar yang berbeda tentunya. Aldo dan Rega di kamar sebelah kamar Akasia yang merupakan bekas kamar kakaknya yang sudah menikah, sedangkan aku, Nelsi dan Akasia berada di kamar Akasia.

Setelah berganti pakaian, kami memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga milik Akasia. Suasana hening tidak seperti biasanya. Dan jujur, sebagai satu-satunya orang yang mempunyai kemampuan khusus, aku merasa ada yang janggal. Tapi, aku menepis perasaan itu dan memutuskan untuk istirahat sejenak di sofa bersama keempat sahabatku.

“Perasaan baru kemarin kita makan bareng di kantin sama Vina. Kenapa bisa secepet itu.” Nelsi menatap kosong layar ponselnya yang menampilkan foto kami berlima.

“Aku kaget banget denger Vina kecelakaan tadi malem. Gak tega aku liat jasad dia yang udah gak berbentuk itu.”

Aku hanya diam tidak ingin berkomentar.

“Kangen banget sama Vina. Andai dia ada di sini,” celetuk Aldo.

“Iya, aku pengen Vina di sini sekarang. Kita canda bareng kayak kemarin kemarin,” sahut Nelsi yang diangguki Akasia.

 Aku dan Rega masih diam. Rega itu firasatnya kuat sekali. Aku tau dia diam karna mungkin dia merasakan hal yang sama denganku. Mungkin saja efek dari suasana berkabung masih menyelimuti kami.

“Udah. Kasian Vina kalo kita ngomongin dia terus. Dia udah tenang di sana,” kataku mencoba menghentikan pembicaraan tentang Lavina.

Akhirnya kami semua terdiam memendam unek-unek masing-masing. Aku semakin mengeratkan hoodieku dan mencoba memejamkan mata. Sehari ini mataku benar-benar berat karna lelah menangis.

Tiba-tiba dering telfon berbunyi. Kami semua menatap Akasia yang asal mengangkat telfon dari seseorang di seberang sana.

“Halo, siapa?”

Tapi tiba-tiba Akasia ngedumel karna si penelefon yang hanya diam tidak bersuara. Hanya suara berisik air hujan yang keluar dari telepon tersebut.

“Siapa sih?”

“Gak tau. Orang iseng kali.”

Beberapa detik kemudian ponsel Akasia kembali berdering. Kali ini kami semua terdiam. Tadi ketika mengangkat telfon pertama, Akasia tidak memperhatikan nama kontak si penelefon. Baru setelah telfon kedua, Akasia baru sadar jika penelefon adalah sahabat kami yang baru saja dikebumikan beberapa jam yang lalu.

“L-lavina?”

Kami bergeming. Dengan cepat Aldo merampas ponsel Akasia dan mengangkat telfon itu.

“H-halo?”

Halo Nak. Ini tantenya Lavina. Maaf tadi tiba-tiba telfonnya dimatikan oleh Nak Akasia, padahal tante udah bilang halo halo berulang kali.

Kami semua menghela nafas lega. Akasia menggumamkan maaf ke Aldo karna sudah lalai asal mematikan sambungan telfon.

“Maaf Tante. Akasia gak sengaja tadi. Ada apa ya, Tante?”

Apa kalian menginap di rumah Akasia?

“Iya, Tan.”

Tante mau anter titipan dari mama nya Vina. Ada sedikit makanan ringan, mubadzir kalo gak kemakan.

“Oh iya Tan. Tante mau kesini?”

Ini masih di rumah Vina, kok. Mungkin jam 7 aja ya tante nganternya. Udah dulu, ini lagi sibuk soalnya, Assalamu’alaikum.

“Wa’laikumsalam.”

Sambungan terputus. Kami semua yang awalnya tegang kini mulai lega. Aku menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 6. Masih satu jam lagi. Selang beberapa detik, tiba-tiba sebuah ketukan di pintu membuat kami saling tatap. Aku kembali melirik jam, pukul 06.02. Akasia siap beranjak dari duduknya namun dicegah oleh Rega.

“Jangan dibuka dulu.”

“Kenapa, Ga? Siapa tau itu tante Vina udah dateng.”

Rega terdiam. Dering telfon kembali berbunyi dan masih dari penelfon yang sama.

“Kayanya tantenya Vina udah dateng deh.”

“Lah, tadi bilang jam 7 kok. Lagian rumah Vina jauh dari sini.”

“Bentar aku angkat dulu,” kata Akasia.

“Halo?”

"Dingin...."

Kami semua terdiam. Siapa ini?

"S-siapa ini?" tanya Akasia dengan suara lirih.

Kalian tidak mengajakku gabung?" Aku dan Rega saling berpandangan, begitu pula yang lain. Kami memberi sinyal seakan-akan 'ada yang tidak beres' saat ini.

Aldo akhirnya merampas ponsel Akasia yang kini mematung dengan raut wajah takutnya.

"Halo, siapa ini?!" tanya Aldo sedikit membentak.

"Jahat banget. Bukain pintunya, aku di depan nih, dingin banget.

Aldo tiba-tiba menjatuhkan ponselnya. Dia terduduk begitu saja. Aku langsung mengambil ponselnya yang jatuh dan mendekatkannya ke telingaku.

“I-ini tante Vina kan? T-tante udah sampe?”

Hey! Aku di depan, Syeril. Bukain, dingin banget. Aduh, aku kesusahan ini. Maaf ya lantai rumah Akasia jadi kotor. Aku jalan kaki susah payah, jauh banget sampe kesini. Kalian kenapa tadi ninggalin aku. Aku kan juga pengen ikut nginep di rumah Akasia.

Aku mematung di samping Rega. Suara ketukan itu masih terdengar. Kami berempat mendengarnya, tadi tidak sengaja jariku menekan loudspeaker. Ponsel Akasia jatuh begitu saja di tengah-tengah kami. Sambungan telfon masih menyala dan suara gerutuan si penelefon yang sangat familiar itu masih terdengar.

Bukain pintunya, aku capek. Apa aku masuk aja? Tapi pintunya kalian kunci. Aku lompat lewat jendela kamar ya? Tunggu, byebye.”

"J-jangan gang--"

Tut…tut…tut…

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sambungan telepon sudah terputus secara sepihak. Kami semua sudah bergetar. Keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuh masing-masing. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan untuk berbicara pun rasanya tidak mampu. Rega semakin memelukku, firasat kami bersatu. Aldo yang sedari tadi duduk lesehan di bawah melompat ke sofa. Alhasil kami berlima duduk berhimpitan dan saling memeluk satu sama lain.

"I-itu Lavina?" bisik Nelsi yang sedari tadi hanya diam mematung. "D-dia disi-ni?"

Kami semua saling mengeratkan genggaman kami.

Srakk…srakk…srakk…

Lampu rumah Akasia berkedip-kedip. Aldo, Nelsi dan Akasia saling mengeratkan pelukan dan menangis bersama. Aku yang terbiasa melihat hal-hal seperti ini jujur tetap merasa deg-degan. Bau amis mulai tercium di hidungku.

Aku melirik Rega. “Dia disini,” bisik Rega di telingaku.

Ruangan semakin hening. Hanya terdengar suara hujan lebat disertai petir dan kilat menambah suasana semakin tegang. Aku bisa merasakan hawa disekitarku semakin tidak nyaman.

“Susah banget cuma punya satu kaki. Liat nih tangan aku kayak mau putus, jelek banget. Guys, maaf ya aku ga sempurna kaya dulu. Aku berusaha selalu ada buat kalian makanya aku kesini. Oh ya, katanya kalian kangen sama aku? Aku disini karna kalian manggil aku."

Sebuah suara cempreng masuk dalam indra pendengaran kami membuat kami seketika mematung. Gemuruh jantung kami saling bersahut-sahutan. Dalam keadaan ruangan sehening itu, tentu suara sekecil apapun akan terdengar walaupun hujan deras tengah mengguyur kota kami.

Aku dan Rega memberanikan diri melihat ke ujung tangga. Dan benar saja. Disana, tepat di ujung tangga, ada sosok yang terlihat kesusahan menuruni anak tangga. Kedua bola matanya menggantung hampir terlepas dari tempatnya. Tangan kanan yang terpisah dari lengannya terhimpit di tangan kiri yang masih utuh serta kaki kiri yang berada di genggaman tangan kirinya. 

Darah yang keluar dari tubuhnya mengalir menuruni tangga. Aku shock berat. Tanganku refleks menggenggam erat tangan Rega yang juga gemetaran. Sosok itu mendongak menatap kami dengan memperlihatkan wajah yang sangat menyeramkan. Dia tersenyum riang seakan menyapa kami. Namun, dimata kami itu sangat sangat mengerikan.

"K-kam-u?"

Seketika jeritan memenuhi ruang tamu rumah Akasia seiring dengan hilangnya kesadaran kami. Pandangan kami menggelap bersamaan dengan langkah sosok itu yang semakin mendekat.

Kalian tau siapa itu?

Benar, dia Lavina, sahabatku yang tewas mengenaskan akibat kecelakaan mobil yang dialaminya.

Dia disana.

Iya, disana.

Dia mendekat ke arah kami.

Semakin dekat.

Atau mungkin saja, dia juga di belakangmu?

"Kalian merindukan aku kan?"

#The End