Inter Milan memang kalah pada derby d’Italia pertama musim 2018/2019 ini (6/10). Juventus unggul lewat gol Paolo Dybala (4’) dan Gonzalo Higuain (80’). Lautaro Martinez (18’) hanya sanggup membalas lewat satu gol via titik penalti.

Catatan enam kemenangan bersih Inter Milan musim ini terhenti. Anak asuhan Antonio Conte pun kehilangan puncak pimpinan klasemen. Peringkat pertama Serie A kini diduduki Juventus. Dalam seminggu pun Inter sudah kalah dua kali. Pertama, oleh Barcelona (3/10) di ajang Liga Champions. Kedua, saat melawan Si Nyonya Tua di kompetisi Serie A.

Lalu, apakah Inter sudah selesai?

Bila melihat rekam jejak Antonio Conte, semua kompetitor Inter Milan harus waspada. Terutama Juventus di Serie A Italia. Conte punya catatan membawa Chelsea juara Liga Inggris setelah dua kali kalah beruntun. Itu terjadi pada musim 2016/2017.

Chelsea Musim 2016/2017

Antonio Conte memulai debutnya mengasuh Chelsea pada musim 2016/2017. Ia mencari tantangan di Liga Inggris setelah menangani timnas Italia. Musim sebelumnya, Chelsea terjerembab di peringkat 10. Musim itu The Blues mengganti manajer Jose Mourinho dengan Guus Hiddink di pertengahan musim. Tepatnya sejak Desember 2015.

Tiga laga awal Conte bersama Chelsea sangat mengesankan. Chelsea menyapu bersih sembilan poin. Pada Agustus 2016 mereka memuncaki klasemen. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai bulan September.

Pada bulan itu, Chelsea hanya sekali imbang lalu menderita dua kekalahan. Mereka terjerembab ke peringkat delapan. Eden Hazard dan kawan-kawan kalah dua kali berturut-turut. Liverpool menghantam Chelsea 2-1 di Stamford Bridge (16/9/16).

Saat laga melawan Arsenal (24/9/16) di stadion Emirates, Chelsea kebobolan tiga gol sekaligus pada babak pertama. Dalam kamar ganti, Conte segera mengubah formasi empat bek menjadi tiga bek dengan dua bek sayap. Chelsea tetap kalah sampai akhir pertandingan.

Namun, pertahanan solid pada babak kedua memberi sinyal kebangkitan Chelsea. Conte menemukan susunan tiga bek ideal. Trio David Luiz, Gary Cahill dan Cesar Azpilicueta mengisi jantung pertahanan. David Luiz berperang sebagai bek pengalir bola. Azpilicueta digeser dari bek kanan menjadi bek tengah sebelah kanan.

Bek sayap kiri diisi Marcos Alonso. Victor Moses mengisi bek sayap kanan. Moses tadinya bermain sebagai gelandang kanan. Kekuatan tenaganya untuk menyerang dan bertahan sepanjang pertandingan, dimaksimalkan Conte sebagai bek sayap kanan.

Sejak kekalahan melawan Arsenal, Chelsea merangkak naik ke peringkat empat klasemen sampai akhir Oktober. Kemudian, mereka merajai puncak klasemen dari November hingga akhir musim. Total dalam 38 kali pertandingan, Conte membawa Chelsea memenangkan 30 laga, seri tiga kali dan kalah lima kali.

Keberanian Conte mengubah formasi empat bek menjadi tiga bek ternyata merevolusi sepakbola Inggris kala itu. Sebelum itu, belum ada tim di era Liga Utama Inggris yang berhasil juara bermodal susunan tiga pemain belakang. Timnas Inggris Piala Dunia 2018 pun menggunakan formasi tiga bek. Anak asuhan Gareth Southgate berhasil mencapai empat besar. Pertama kali sejak Piala Dunia 1990.  

Derby d’Italia

Saat meladeni Juve, Inter Milan bermain menekan. Mereka cukup baik membuat peluang lewat tendangan dari luar kotak penalti. Bahkan Stefan De Vrij dan kawan-kawan memenangkan penguasaan bola sebanyak 51%.

Inter rajin menyerang lewat sayap kiri. Tercatat 44% serangan mereka berasal dari sayap kiri. Sedangkan serangan dari tengah dan sisi kanan masing-masing 28%. Permainan umpan-umpan pendek vertikal Juventus diladeni dengan agresif juga oleh Inter. Inter melakukan 15 tekel pada pemain Juve. Sementara Juve hanya 11 kali menekel pemain Inter.

Permainan Inter menurun sejak Stefano Sensi keluar lapangan. Para pemain Inter kehilangan kontrol setelah Sensi menderita cedera pada menit ke-33. Matias Veccino yang masuk menggantikannya jelas bukan pengganti fungsi Sensi.

Bila Sensi selama ini mampu melindungi pertahanan, mengalirkan bola dari garis tengah bagian belakang ke lini depan bahkan mencetak gol, Veccino masih ceroboh memegang bola dalam pertandingan melawan Juve.

Secara umum, Inter memang kalah dibanding Juventus. Dari 10 tembakan Inter, cuma tiga yang tepat sasaran. Sementara enam dari 18 tembakan Juve tepat sasaran. Dalam duel udara melawan para pemain Inter, Juventus menang 63%.

Sekalipun menguasai bola 51%, Inter kalah dalam kesuksesan operan dan menggiring bola dibanding Juventus. Inter mencatat 83% sukses mengoper bola, sementara Juventus 86%. Si Nyonya Besar 13 kali berhasil menggiring bola, Inter hanya 11 kali.

Pelajaran Yang Diambil

Bek tengah Milan Skriniar menganalisis bahwa dalam bertahan, Inter harus lebih agresif dalam bertahan di kotak penalti. Kala bertahan, mereka harus lebih dekat dengan pemain menyerang lawan. Laga melawan Barcelona menjadi referensi Skriniar. Operan pendek para pemain Barcelona yang sangat berbahaya, menjadi alasan bek timnas Slovakia tersebut agar lebih beringas menekan lawan.

Sedangkan dalam menyerang, Inter harus lebih lebih klinis mencetak gol. Alasan Skriniar tersebut berdasarkan observasi bahwa dalam pertandingan melawan Barcelona dan Juventus, para pemain Inter cukup baik mengalirkan bola dan membuat peluang. Namun masih gagal mencetak gol.

Observasi Skriniar mirip dengan analisis Conte. Ia juga menilai timnya banyak memproduksi peluang. Namun harus lebih baik dalam penyelesaian akhir. Conte juga menyebut perlunya memperbaiki pertahanan.  

Satu faktor lagi yang diamati Conte sebagai penyebab kekalahan saat melawan Juve adalah faktor Stefano Sensi. Baik Conte maupun Skriniar menilai timnya sudah bermain cukup seimbang saat melawan Barcelona dan Juventus. Mereka berdua menyadari, tim Inter masih harus mengambil pelajaran dan berkembang lagi.

Peluang Kebangkitan Inter  

Bila memperhatikan dua faktor, sangat mungkin Inter akan bangkit lalu makin ganas bermain setelah ini. Pertama, rekam jejak Conte di Chelsea. Sejarah di klub London Selatan membuktikan, Conte mampu dengan cepat mengidentifikasi masalah kemudian menemukan solusinya setelah dua kekalahan beruntun.

Jika di Chelsea Conte menemukan problem lalu menemukan solusi setelah kekalahan melawan Liverpool dan Arsenal, bukan tidak mungkin Conte dapat mengulanginya di Inter pasca kekalahan melawan Barcelona dan Juventus.

Kedua, semangat pemenang. Baik Conte maupun pemainnya menegaskan semangat untuk bangkit dan terus berkembang setelah dua kekalahan beruntun. Pemain dalam hal ini direpresentasikan opini Milan Skriniar.

Mental para pemain Inter tampaknya tidak jatuh setelah kekalahan melawan Barcelona dan Juventus. Mungkin saja setelah ini, mereka akan merancang formasi alternatif tanpa Stefano Sensi. Pilihan lain, Conte bisa membeli pemain dengan arkatipe mirip Sensi pada bursa transfer pemain Januari 2020 nanti.

Pasca kekalahan melawan Juventus, CEO Inter Giusseppe Marotta sedang serius mempertimbangkan transfer Sergej Milinkovic-Savic dari Lazio. Pemain tengah timnas Serbia tersebut adalah gelandang terbaik Serie A musim lalu. Sebuah pilihan yang masuk akal bagi Inter guna memperdalam skuad. 

Juventus (19) saat ini memang menguasai puncak klasemen Serie A dengan keunggulan tipis satu poin atas Inter (18). Namun melihat rekam jejak Conte yang dapat membawa Chelsea juara Liga Inggris setelah tercecer hingga di peringkat kedelapan, pacuan juara Serie A dipastikan masih seru. Conte sangat mungkin membangkitkan Inter sebagaimana dulu yang ia lakukan kala melatih Chelsea

Sumber: