Ketika ada orang yang menderita mental illness, kadang banyak yang suka menyepelekan hal tersebut. Entah dibilang lemah iman, jarang mengaji, bahkan sampai dikata jauh dari Allah. Saat ingin pergi ke psikiater, dianggap syirik atau tidak percaya dengan Allah. Hal itu pada akhirnya akan membuat penderita semakin tertekan. Padahal penderita butuh rangkulan dari orang sekitar. Apalagi depresi dan penyakit mental berat lainnya yang butuh bantuan dari tenaga ahli.

 “Kuatin iman kamu biar nggak depresi!”

Sebelum mengatakan hal tersebut alangkah baiknya cari tahu dulu, apa sih depresi itu? Depresi bukan sekedar rasa sedih biasa yang kerap kita alami. Gangguan suasana hati yang berkelanjutan mungkin bisa menjadi gambaran kecil seperti apa depresi itu. 

Perasaan tidak berharga, sedih, hingga putus harapan juga bagian dari depresi. Namun kita tidak boleh asal mendiagnosis penyakit mental dan wajib pergi ke psikiater jika merasakan gejalanya. Apalagi jika sudah terasa efeknya pada kegiatan sehari-hari.  

Seperti halnya penyakit yang perlu berobat ke dokter, penyakit mental juga perlu pengobatan dengan dokter yang mengatasi hal tersebut, yaitu psikolog. Perlu digaris bawahi bahwa penyakit mental merupakan hal yang manusiawi yang dapat diderita oleh siapa saja. Bahkan orang yang religius sekalipun dapat terkena yang namanya penyakit mental.

Manusia biasa dapat mengalami depresi.

Apakah kalian pernah mendengar kisah tentang Maryam yang melahirkan Nabi Isa di tengah gurun pasir. Kala itu, Maryam yang mengasingkan diri pun berusaha untuk melahirkan seorang diri. Dan pastilah keadaan tersebut membuatnya tertekan dan frustrasi.

Dalam Surah Maryam ayat 23, diceritakan bahwa saat melahirkan, Maryam berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Bahkan wanita penghulu surga saja pernah merasa ingin mengakhiri hidupnya, apalagi manusia biasa seperti kita. Namun, Allah memerintahkan Jibril untuk menghibur Maryam dan tidak mencatatnya sebagai dosa. Bahkan Allah selalu memberi jalan untuk hambanya di setiap ujian.

Selain Maryam, dalam Al-Quran juga dikisahkan mengenai nabi Yakub a.s yang bersedih karena kehilangan anaknya, Nabi Yusuf a.s. Dalam Al-Quran surah Yusuf ayat 84, Allah bersabda, “Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya).”

Saat kehilangan Yusuf, Nabi Yakub ditimpa kesedihan yang mendalam. Beliau selalu memikirkan Yusuf dan selalu sedih ketika memikirkannya. Sampai-sampai dalam ayat di atas, dituliskan bahwa mata nabi Yakub menjadi putih akibat sedih. Hal itu menggambarkan betapa sengsaranya Nabi Yakub ketika peristiwa itu terjadi.

Kalau seperti ini, apakah Nabi Yakub kurang iman dan jauh dari Allah? Tentu saja tidak. Mengingat kembali bahwa setiap manusia bisa saja mengalami kesedihan yang mendalam hingga depresi. Sehingga depresi tidak ada kaitannya dengan iman seseorang. Seorang yang mulia seperti nabi saja bisa mengalami depresi, apalagi manusia biasa seperti kita.

Al-Qur’an itu compatible loh dengan kita.

Kalian perlu tau, bahwa Al-Quran bukanlah tutorial untuk kita menjadi malaikat atau menjadi sok suci. Bukan pula berisi dosa dan neraka saja. Namun, Al-Quran sudah Allah desain sedemikian rupa sesuai dengan manusia seperti kita. Karena Allah lah yang paling mengerti hambanya, yang bisa saja sedih, tertekan, maupun depresi. Jadi sesulit apapun ujian yang diberikan oleh Allah, pastinya akan ada jalan untuk melaluinya. 

Seperti halnya ketika kita tertekan secara mental, Allah memfasilitasi kita dengan adanya psikolog yang dapat membantu. Meminta kepada Allah pun tidak ada salahnya. Tapi berdoa dan meminta saja tanpa usaha belum lah cukup.

Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d, ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Jadi dalam menghadapi segala hal, sebaiknya dimulai dengan usaha atau ikhtiar, kemudian berdoa, dan yang terakhir adalah tawakal atau menyerahkan semua yang sudah diusahakan kepada Allah. Jadi semua harus seimbang.

Mencari bantuan psikolog bukan berarti tidak percaya Allah. Hal ini adalah bentuk usaha yang dapat dilakukan sebagai manusia. Pada hakikatnya manusia diciptakan untuk saling membantu dan bergantung satu sama lain. Setiap keberadaan manusia pun pasti memiliki tujuan dan manfaat.

Tidak apa untuk mencari bantuan.

At the end of the day, kita cuma manusia biasa, bisa sedih ataupun depresi. Pada hakikatnya kita bisa saja mengalami hal-hal itu padahal sudah berdoa setiap hari, shalat teratur sampai shalat malam dan shalat sunah lainnya. Mungkin saja Allah mau melihat seberapa besar usaha kita, atau memang kita benar-benar butuh orang lain.

Tapi, dengan begitu bukan berarti dekat dengan Allah itu useless, ya. Manusia pasti memiliki masalah jasmani, emosional, dan spiritual. Kalau sakit jasmani pasti ke dokter, dan jika ada masalah spiritual bisa di bicarakan dengan Allah ketika beribadah. Sedangkan masalah emosional, pasti butuh bantuan dari yang berada di bidangnya.

Saat ada masalah, pikirkan terlebih dahulu apakah itu emosional atau spiritual. Kemudian tentukan solusi yang cocok untuk masalah itu. Jika merasa bingung dan bimbang sebaiknya tanyakan langsung kepada ahlinya. Walaupun cuma sedih aja, pergi ke psikiater juga tidak masalah. Karena terkadang seseorang yang depresi tidak menyadari jika dirinya mengalami depresi. Jadi jangan takut untuk reach out ahlinya.

Kalau masih bingung, kalian bisa bertanya dengan orang terdekat. Jika orang tua masih belum mengerti mengenai kesehatan mental, bisa ditanyakan kepada teman. Nah, di sinilah pentingnya memilih lingkup pertemanan. Dimana pertemanan ini bisa membawa hal positif dan ada ketika kamu butuh bantuan.

Teman-teman yang mengerti mengenai kesehatan mental juga merupakan poin penting, karena jika suatu saat ketika kamu ingin bercerita, temanmu akan membantu dengan cara yang tepat. Jika temanmu saja ignorant atau tidak tahu menahu perihal itu, ditakutkan akan memperburuk keadaan.

Bukan berati harus memusuhi, ya. Hanya saja pilih tempat yang tepat untuk bercerita. Jika pada akhirnya tidak ada orang di sekitar yang bisa diajak untuk bercerita, maka datanglah ke psikolog dan kamu dapat bercerita tanpa takut.

Belakangan ini, banyak sekali gerakan mengenai isu kesehatan mental. Mulai banyak pula orang yang melek akan kesehatan mental. Jadi akan lebih mudah jika kamu membutuhkan bantuan karena sudah bisa di akses dimana-mana. Mulai dari rumah sakit terdekat, hingga pelayanan online yang mudah dijangkau.

Dan yang terakhir, sebagi penulis, saya ingin mengatakan it’s okay not to be okay. Kamu boleh merasa tidak baik-baik saja. Jika kamu butuh bantuan, ingatlah bahwa kamu tidak sendiri. Selain orang lain, ingatlah jika Allah selalu bersama hambanya.