Wiraswasta
1 bulan lalu · 24 view · 3 min baca menit baca · Wisata 62060_21621.jpg
GoodNews From Indonesia

Denting Palu Gamelan Wirun

Pukulan palu terdengar. Di dalam ruangan hawa cukup panas. Ada semburan bara api cukup tinggi, memanggang kuningan agar lunak hingga mudah dibentuk menjadi instrumen gamelan.

Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo punya sembilan dukuh: Dukuh Pabrik, Gendengan, Wirun, Kangungan, Mertan, Ngambakalang, Kebak, Godegan, Sono Sewu. 

Karena Dukuh Wirun menjadi dukuh yang pertama kali berdiri, semua dukuh masuk dalam lingkup Desa Wirun.

Desa Wirun punya kisah masa lalu yang bersejarah, berawal dari pasca runtuhnya kerajaan Majapahit. Banyak keluarga istana tercerai-berai, terpencar-pencar hijrah ke berbagai tempat. Salah satunya adalah seorang pelarian dari keraton memilih menjadi seorang pertapa di wilayah hutan, tempat cikal bakal Desa Wirun berdiri. 

Suatu hari muncul seekor banteng besar, menyerang pelarian yang bertapa. Dadanya terluka parah. Dengan sisa tenaganya, ia berusaha melawan. Dengan sekali pukul, banteng tersebut mati seketika. Nahas, luka yang dideritanya tak bisa diobati hingga ia kehabisan darah dan tewas.

Peristiwa itu tersiar ke penduduk pinggiran hutan. Mereka bermusyawarah untuk menguburkan pertapa tersebut. 

Kepala adat berpendapat bahwa pertapa yang meninggal dunia ini bukan orang biasa atau memiliki kesaktian. Untuk mengenang peristiwa itu, si pertapa dijuluki sebagai Tujah Banteng. Nama ini tertera sebagai makam di lingkungan warga sekitar.

Untuk menghormatinya, penduduk setempat mencanangkan wilayahnya dengan nama Wirun. Wi artinya linuwuh, dan Run artinya keturunan. 

***


Dulunya Desa Wirun punya banyak pengusaha kerajinan gamelan. Namun kini hanya bertahan beberapa orang saja. Surutnya diakibatkan produksi gamelan bergantung pada banyak sedikitnya pementasan budaya seni tari dan pewayangan yang hidup pada masyarakat Jawa. Gamelan merupakan instrumen musik khas Indonesia.

Kini gamelan made in Desa Wirun bertahan karena masih ada permintaan gamelan untuk kebutuhan suvenir.

Gamelan sendiri merupakan ensembel musik yang menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Gamelan diambil dari istilah gamel yang artinya memukul atau menabuh. 

Cara memainkannya dilakukan oleh beberapa pemain yang masing-masing piawai memainkan alat musiknya, kemudian dimainkan bersamaan hingga membentuk kesatuan nada dan irama. Gamelan hidup tidak hanya di Jawa saja, tetapi juga Madura, Bali, dan Lombok.

Asal gamelan sendiri diawali dengan budaya Hindu-Buddha. Bukti keberadaannya terdapat di relief Candi Borobudur yang telah berdiri sejak abad ke-8, mulai dari suling bambu, lonceng, kendhang berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai baik digesek maupun dipetik. 

Kemudian sejarah gamelan dimulai dari semula minim berbahan metal menjadi metal. Perubahan ini terjadi ketika teknik metalurgi dikenal baik di Indonesia. Desa Wirun melestarikan kemampuan metalurgi Nusantara dengan memproduksi peralatan gamelan tersebut. 

Keberadaan kerajinan gamelan Desa Wirun dimulai sejak 1956 oleh rintisan Reso Wiguno. Latar belakangnya adalah keahlian dan dorongan ekonomi. 

Ditilik dari geografisnya, Desa Wirun adalah wilayah di tengah persawahan luas Sukoharjo. Mata pencaharian masyarakatnya, mulai dari bertani, perajin genteng, hingga perajin gamelan. Tiga profesi tersebut saling melengkapi dan saling mencukupi.

Kerajinan gamelan di Desa Wirun ini terbilang berkemampuan modern meski cara pengerjaannya masih tradisional. Teknologi mengolah metal dilakukan dengan cara sederhana. 

Misalkan saja, untuk memasak bahan lempengan serta memanaskannya, digunakan pemanas berbahan bakar. Ketika memasuki proses pembentukan dan pembuatan nada, didominasi oleh tenaga manusia, melalui proses pengentengan (memalu).

Bahan timah atau tembaga diolah dengan cara dimasak di dalam wadah tanah liat hingga meleleh agar menghasilkan campuran yang pas. Saat cair, dituangkan ke dalam cetakan sesuai ukuran gamelan yang akan dibuat. Setelah didinginkan, menjadi plat dan dipanaskan lagi berulang-ulang untuk dibentuk dan mendapatkan nada yang diharapkan. 

Proses pengerjaannya bisa berjam-jam dan melibatkan 7-9 orang pekerja. Dalam sehari, satu kelompok kerja para perajin mampu menghasilkan satu buah gamelan besar (gong) atau dua gamelan kecil.


***

Jangan kaget ketika menuju Desa Wirun akan mudah ditemui gubuk tepi jalan raya, bertuliskan Sate Jamu. Ini kata lain dari Sengsu atau Tongseng Asu, daging anjing yang diolah menjadi bahan baku makanan khas Solo. 

Desa Wirun sendiri dekat dengan Desa Bekonang, masih satu wilayah Kecamatan Mojolaban. Dan Bekonang sendiri punya sentra pembuatan alkohol kesehatan yang sering disalahgunakan sebagai minuman keras. 

Ketika menemui salah-satu pembuatnya, ia agak takut-takut untuk menceritakan perihal alkohol kesehatan Bekonang. Secara teknis, alkohol kesehatan Bekonang dibuat untuk kebutuhan kesehatan dan kosmetik. Kadar alkoholnya seperti yang tertera di produk alkohol kesehatan umumnya, 70%.

Saat ditanya kenapa bisa disalahgunakan sebagai minuman keras, ia mulai memberanikan diri bercerita bahwa banyak oknum masyarakat datang ke Bekonang, mengambil produk alkohol kesehatan disalahgunakan untuk minuman. "Secara proses fermentasi, alkohol buatan kami hanya bisa digunakan untuk bagian luar tubuh. Bukan diminum," jelasnya.

Alkohol kesehatan Bekonang berubah menjadi oplosan minuman keras. Produk miras terkenalnya dijuluki Ciu dan Cap Tikus. Produksi alkohol kesehatan Bekonang menjadi negatif akibat gara-gara oknum masyarakat tersebut hingga merenggut nyawa konsumennya.

Artikel Terkait