1 tahun lalu · 2217 view · 6 menit baca · Politik 86449_38241.jpg
Denny JA (kompas.com)

Denny JA dan Puisi Esai, Keributan yang Tak Pernah Usai

Salahkah jika ada seorang penulis (penyair/sastrawan) mengklaim karyanya berjenis puisi esai? Siapa berhak atau paling otoritatif menentukan genre sebuah karya sastra?

Apa pula masalahnya ketika ia (penulis) melakukan rekayasa politis demi sebuah pengakuan tokoh sastra? Jika alasannya karena gunakan kekuatan uang, sejak kapan alat tukar itu bisa jadi haram sebagai sarana meraih tujuan?

Awal tahun ini, Denny JA kembali jadi bahan perbincangan. Terutama di kalangan pegiat sastra, namanya nyaring menggema. Ide/gagasannya membuat ia diagungkan juga dilecehkan, dimuliakan sekaligus dicemooh. Ia, kini, jadi sosok yang kontroversial.

Tentu bukan kali pertama ini kontroversi seputar dirinya bergaung. Bukan pula hanya karena aktivitas perpuisian atau kesusastraannya belaka. Profesinya selaku konsultan politik, dulu, pun kerap jadi bahan debat paling mengenaskan.

Tetapi, dalam tulisan ini, saya tidak akan singgung soal survei-surveian manipulatif Denny JA. Biarlah itu jadi perbincangan di kalangan politisi atau para buzzer politik saja. Cukup soal kontroversinya di wilayah perpuisian atau kesusastraan yang Penyair Muda Indonesia gelorakan hebat di dunia-dunia maya sampai sejauh ini.

Gagasan yang Tertolak

Dulu, sekitar Maret 2012, Denny JA tampil di hadapan publik dengan buah pikirnya Atas Nama Cinta. Di bawah judul buku puisi ini, seperti tampak pada sampulnya, ia bubuhkan frasa Sebuah Puisi Esai. Maksudnya terang, frasa tersebut adalah penjelas jenis karyanya.

Sebagai penjelas, tentu Denny JA berusaha mengklaim bahwa Atas Nama Cinta adalah karya berjenis puisi esai. Ia punya kriteria tersendiri mengapa karyanya itu perlu dan patut ia jeniskan demikian.

Pertama, menurut Denny JA dalam Puisi Esai, Apa dan Mengapa?, sebuah karya sastra harus mampu menyentuh hati. Ia harus mengeksplor sisi batin serta mengekspresikan interior psikologi manusia konkret.

Kedua, karya sastra juga harus memotret kehidupan manusia dalam suatu event sosial, realitas yang terjadi dalam sejarahnya. Maka di sini, baginya, riset dibutuhkan dengan cantuman catatan kaki sebagai bukti akan kerealitasannya.

Ketiga, sebagaimana mestinya sebuah karya (populer), ia pun harus ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti. Publik, entah golongan terpelajar maupun yang awam, semua harus disuguhkan dengan bacaan-bacaan yang super sederhana. Tetapi, kelebihannya dari yang umum, ia wajib tersusun secara indah, enak dipandang mata.

Dan, yang keempat, karya sastra harus mampu menggambarkan suatu dinamika sosial atau karakter pelaku. Ini mensyaratkan wujud yang panjang lagi berbabak. Penggalian sebuah dinamika memang perlu melalui penarasian yang tidak pendek.

“Empat kebutuhan itu tak bisa dipenuhi dengan medium yang ada sekarang. Esai, makalah, atau kolom jelas tidak mengeksplorasi sisi batin manusia; sementara puisi yang ada juga tidak bercatatan kaki sebagaimana layaknya hasil riset atau makalah.”

Itulah sebabnya Denny JA kemudian mengembangkan medium impiannya sendiri. Ia idamkan ruang tulisan yang tidak hanya menyentuh hati sang pembaca, namun pula membuatnya mencapai pemahaman memadai tentang sebuah isu sosial sekitarnya. Ya, walaupun hanya secuplik.

Kini, medium darinya itu kita kenal dengan sebutan “puisi esai”—sebuah puisi bercita rasa esai, atau esai berformat puisi.

“Apakah ini sebuah genre baru dalam puisi Indonesia? Itu bukan urusan saya lagi. Di bawah langit di era sekarang memang tak ada apa pun yang sepenuhnya baru. Namun, ramuan empat kriteria yang saya masak itu memang lain. Ada catatan kaki layaknya makalah ilmiah dalam puisi itu.”

Berbekal gagasan barunya ini, nama Denny JA pun masuk sebagai salah satu dari 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia sebagai imbasnya. Karena memang, genre karyanya memancing perdebatan luas, terutama di kalangan pegiat sastra, yang bahkan sudah dibukukan. Pengaruh puisi esai dan sosoknya sukar terbaikan dalam dinamika sastra di negeri ini. Daya cengkramnya nyata.

Sadar akan pengaruhnya, terlepas kontroversi yang menyertainya, Denny JA kemudian menginisiasi program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional. Ia ingin jenis karya itu, puisi esai, tersebar luas dan merata sebagai sebuah movement.

Diajaknyalah para penyair, jurnalis, dan peneliti, dari pemula hingga senior, untuk ikut aktif mendinamisasi kegairahan dan penyegaran dunia perpuisian. Indonesia butuh mereka yang mau mendedikasikan diri di bidang literasi, dengan atau tanpa materi.

Yang disayangkan, di tengah geliatnya, program ini harus berhadapan dengan upaya penolakan. Atas nama Penyair Muda Indonesia, petisi untuknya dilayangkan ke instansi-instansi pemerintahan.

Terutama ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa, juga ke Komisi X DPR RI, isi petisi itu berinti pada penolakan program gagasan Denny JA tanpa syarat.

Penolakan yang Rapuh

Ada 4 (empat) poin utama yang mereka amati dan cantumkan dalam petisi itu. Keempat poinnya sekaligus jadi alasan utama mengapa Penyair Muda Indonesia merasa perlu menolak gagasan Denny JA, yang sayangnya tampak rapuh tak beralas.

Pada poin pertama, misalnya, tertulis bahwa klaim puisi esai sebagai genre baru merupakan penggelapan sejarah sastra. Komposisi eskpositori dalam bentuk puisi sudah dikenal jauh sejak masa Alexander Pope, penyair Inggris abad ke-18.

Maka, mengakui puisi esai sebagai genre baru, berarti memposisikan diri sebagai penulis-penyair yang tidak jujur. Begitulah yang Penyair Muda Indonesia perhadapkan ke diri Denny JA.

Selanjutnya, karya Denny JA dinilai bukanlah puisi esai. Karakteristik yang ada padanya, menurut mereka, sama sekali tidak terpenuhi layaknya puisi esai.

“Yang dipakai adalah karakteristik puisi naratif dengan plot, tokoh, dan ceritanya. Catatan kaki yang disyaratkan sebagai ciri ke-esai-an puisi esai juga bukan ciri utama atau keharusan esai. Esai kerap tak memiliki catatan kaki.”

Yang paling membuat mengapa penolakan gagasan Denny JA mereka pandang sebagai keharusan adalah karena program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional merupakan rekayasa politis. Dengan mengadakan program khusus itu, sang penggagas dinilai ingin meraih pengakuan sebagai tokoh sastra lewat penggunaan kekuatan uang.

“Sebagaimana pernah dilakukan melalui pembiayaan lomba Puisi Esai serta penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh dan Membawa Puisi ke Tengah Gelanggang.”

Terakhir, Denny JA diduga telah memanipulasi institusi negara, yang seolah-olah berfungsi melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan di bidang bahasa dan sastra. Ia diduga memanipulasi demi menyukseskan program manipulatif dan membodohkan, yaitu Penulisan Buku Puisi Esai Nasional.

Dari kempat alasan penolakan di atas, adakah salah satu di antaranya saja yang termasuk solid? Tak ada kesan lain yang saya temui dari kritikan Penyair Muda Indonesia terhadap Denny JA ini kecuali “kecemburuan sosial”.

Sudah dijelaskan sebelumnya, Denny JA tidak ada urusan untuk soal apakah puisi esai itu genre baru dalam perpuisian di Indonesia atau bukan. Toh, sekali lagi, tak ada sesuatu apa pun yang benar-benar sepenuhnya baru di kolong langit ini.

Lagi pula, puisi esai memang gagasan Denny JA. Dalam arti, ia yang memperkenalkannya secara lebih luas di negeri ini. Ia golongkan karyanya itu sebagai genre baru sastra Indonesia, bukan genre baru sastra. Tidak menafikan kontribusi Pope.

Terkait bentuk, mungkin Penyair Muda Indonesia telah lupa atau pura-pura tak tahu. Kita tak bisa menyangkal, orang boleh saja berbeda pandang soal bentuk puisi esai, apakah harus begini atau begitu.

Biarkan saja Denny JA mendefinisikannya begini. Pun silakan untuk Anda jika mau mendefinisikannya begitu. Begini menurut Denny JA, begitu menurut Anda. Tidak masalah. Jangan ada klaim bahwa salah satu di antaranya telah melakukan tindak perusakan sastra hanya karena perbedaan pendefinisian semata.

Sebab, selain belum pernah ada pihak paling otoritatif yang ditunjuk untuk jadi penentu bentuk puisi esai, pun hal ini memang tidak perlu ada, apalagi diada-adakan. Untuk apa? Membakukan sesuatu yang harusnya dinamis sama sekali tidak layak.

Kemudian, jika benar program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional adalah rekayasa politis Denny JA semata, taruhlah demi sebuah pengakuan sebagai tokoh sastra, memang apa masalahnya? Apakah karena Denny JA melulu mengandalkan kekuatan uang untuk itu? Tidak bolehkah uang digunakan dalam hal meraih tujuan? Seolah uang itu haram jadi sarana.

Yang terakhir, dan ini paling mengenaskan saya kira, ternyata tuduhan memanipulasi insitusi negara itu baru sebatas dugaan. Maka maaf, Penyair Muda Indonesia, Petisi Menolak Program Penulisan Puisi Esai Nasional Denny JA itu belum layak saya tanda tangani. Saya toh bukan penyair muda. Tak pantaslah.