Denial, bagi kalian yang suka membaca AU atau Alternate Universe, kata denial pasti tidak asing bukan? AU sendiri menurut Urban Dictionary adalah singkatan Alternate Universe atau alternatif semesta lain yang digunakan dalam forum fan fiction atau cerita fiksi. Lalu, apa sih denial itu?

Denial adalah mekanisme pertahanan di mana seseorang menolak untuk mengakui fakta, kenyataan, dan situasi yang dihadapinya tidak sesuai dengan harapan. Denial sering dimaknai sebagai proses bawah sadar yang berfungsi untuk melindungi seseorang dari kecemasan. Setiap orang tentunya pernah melakukan yang namanya denial atau penyangkalan.

Menurut tokoh dan ilmuwan psikologi, Sigmund Freud, denial merupakan salah satu bentuk dari self defense mechanism (bentuk pertahanan diri). Self defense mechanism merupakan bentuk respons yang secara tidak sadar dilakukan yang digunakan untuk melindungi diri dari perasaan kecemasan, meningkatkan self-esteem, dan hal-hal yang tidak ingin mereka pikirkan atau tangani. Menolak untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang salah adalah cara mengatasi konflik emosional, stress, pikiran menyakitkan, informasi yang mengancam, dan kecemasan.

Denial atau penyangkalan ataupun penolakan muncul dari konsep Sigmund Freud yang berangkat dari putrinya, yaitu Anna Freud. Anna Freud mengembangkan gagasan mekanisme pertahanan diri dari pikiran dan perasaan cemas. Anna percaya bahwa denial secara tak sadar melindungi ego dari kesusahan dengan menolak aspek realitas.

Lalu, apakah denial dapat digunakan dengan tepat? Melakukan denial atau penyangkalan mungkin akan membantu untuk masalah yang sifatnya jangka pendek, karena dapat menurunkan tingkat emosi dan stress pada pikiran kita.

Namun, jika denial dilakukan secara terus menerus pada periode yang cukup panjang seperti dalam masalah hubungan, masalah ekonomi atau masalah pribadi itu bisa berbahaya. 

Sebagai contoh, ketika ada seseorang yang mengalami nyeri dada dan sesak napas tidak percaya bahwa gejala tersebut menandakan serangan jantung dan menunda untuk periksa atau mendapatkan bantuan. 

Contoh lainnya yaitu, seorang anak remaja yang mendapatkan kekerasan tetapi terus menyangkal kenyataan bahwa dirinya terpengaruh secara mental atas peristiwa tersebut.

Terus apa sih alasan seseorang melakukan denial atau menyangkal kenyataan? Pertama, tidak mau mengetahui masalah-masalah sulit dalam hidup atau tidak mau pusing. 

Kedua, menghindari masalah-masalah yang terjadi, dan yang ketiga, ingin mengurangi konsekuensi dari masalah tanpa mau menghadapinya. Oleh karena itu, denial yang dilakukan secara terus menerus tidak sehat untuk mental kita.

Apakah denial atau penyangkalan itu, baik atau buruk untuk mental seseorang? 

Sering kali kita mendengar ‘cintai lah diri sendiri sebelum mencintai orang lain’. Hal ini dikatakan seseorang yang sedang tidak percaya diri atau ketakutan akan kebahagiaan dirinya sendiri. 

Dalam kurun waktu singkat atau jangka pendek, penyangkalan sebenarnya bisa bermanfaat, karena memungkinkan seseorang memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan mendadak dalam kenyataan yang dihadapi. Sehingga bisa menerima, beradaptasi, jadi lebih tenang, dan akhirnya move on. 

Tetapi, dalam jangka panjang jika dilakukan terus menerus denial atau penyangkalan bisa menyebabkan masalah dalam hidup dan memengaruhi kualitas kesehatan mental, terutama kalau hal itu membuat seseorang tidak mengatasi masalahnya atau tidak membuat perubahan yang seharusnya dilakukan. 

Kita dapat mengetahui tanda seseorang mengalami Denial Syendrome atau penyangkalan ketika seseorang:

Menolak untuk membicarakan masalah yang dihadapi. 

Di lansir Northpoint Recovery, seseorang yang mengalami denial cenderung mengabaikan masalah yang dihadapinya. Mungkin seseorang dengan denial akan mencoba mengubah topik pembicaraan atau mencoba mengalihkan dengan humor. Tanda-tanda denial pertama ini bahkan terjadi dalam percakapan sederhana.

Mencari cara untuk membenarkan perilakunya

Seorang yang mengalami denial cenderung mencari cara untuk membenarkan perilakunya, seperti menunjuk perilaku orang lain untuk membuktikan tidak adanya masalah. Misalnya dalam kasus kecanduan, taktik klasik ini dipakai untuk meyakinkan diri sendiri bahwa seseorang tidak kecanduan.

Membohongi atau mengabaikan perasaan sendiri (manipulatif)

Tindakan manipulatif ini dipakai untuk ‘menipu’ perasaan seseorang terhadap kenyataan yang terjadi. Padahal, tak apa merasa sedih atau tak masalah jika marah. Tindakan manipulatif ini justru membuat seseorang merasa teralienasi untuk menyangkal kenyataan yang terjadi.

Menyalahkan orang lain atas masalah yang dialami 

Tanda ini sejalan dengan rasionalisasi, yang dipikirkan jadi tidak tepat sasaran. Justru menyalahkan orang lain atas masalah yang dialami. Jika terus-menerus menyalahkan orang lain, kenyataan yang terjadi juga tidak akan berubah.


Tidak merasakan apa-apa. 

Alih-alih menerima perasaan sebagai respons alamiah dari pengalaman yang dilalui, seseorang yang denial akan mengabaikan dan menyerah. Menyangkal rasa sakit dengan mengabaikannya akan lebih buruk.

Menghindari memikirkan masalah. 

Merasionalisasi perilaku adalah salah satu teknik paling ampuh yang digunakan individu untuk menyangkal kenyataan objektif. Misalnya, saya sangat stres sekarang jadi saya butuh pereda tekanan. Alasan tersebut membuat seseorang untuk ‘lari’ dari persoalan yang menunggu untuk diselesaikan.


Bagaimana cara untuk mengatasi Denial Syndrome? 

Kita dapat mengatasi denial syndrome dengan meluangkan waktu untuk memikirkan apa sih yang sebenarnya ditakuti, memikirkan apa sih yang mungkin terjadi kalau terus hidup dalam penyangkalan, baik secara positif maupun negatif.

Beri ruang pada diri untuk memahami perasaan dan ketakutan yang dirasakan. Tuliskan pikiran dan perasaan sejujurnya pada diri sendiri, dan coba bicara pada seseorang yang dipercaya atau orang yang dicintai. 

Jika kamu merasa kewalahan, benar-benar stress dan terjebak dalam fase denial. Pertimbangkan kembali untuk berbicara pada seorang profesional. Mereka akan membantumu untuk menemukan solusi dan mengatasi setiap permasalahan yang kamu alami dengan treatment tertentu. 

Ini lebih baik daripada kamu terus menerus berpura-pura dan melakukan denial penyangkalan. Dan, Jika seseorang yang kamu sayangi sedang menyangkal suatu masalah, fokuslah untuk menjadi supportif. Bersedia untuk mendengarkan apa yang sedang dikhawatirkannya dan bersedia menemaninya.

Denial adalah senjata yang baik kalau digunakan dalam waktu sementara. Akan tetapi dalam jangka panjang, denial bisa menjadi bumerang dalam kesehatan mental.