Melawan dengan Sajak, bedah film dokumenter, begitu judul acara malam 08 Juli 2020. Bedah film tentang Sekolah Alam Salule’bo ini yang semula direncanakan pada pukul 20.00 Wita agak molor dari jadwal semula. 

Namun, antusias para pemerhati pendidikan seperti; mahasiswa, para pendidik, aktivis sosial, dan lain sebagainya tidak surut. Mereka terus berdatangan mendatangi rumah baca, Nusa Pustaka Pambusuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

 Walau, malam semakin larut, namun acara itu malah semakin ramai. Seperti aku, mereka (mungkin) masih penasaran dengan Sekolah Alam Salule’bo yang bisa kita singkat dengan, SAS. Mereka juga ingin memberikan dukungan pada SAS (you’ll never walk alone). 

Dukungan itu baik secara langsung dan tidak langsung apalagi permasalahan di SAS itu sangat kompleks. Mulai dari pemindahan tempat belajar mereka yang dibekengi beberapa pihak, cara belajar mereka yang sejak mereka pindah sudah tidak ala alam lagi (berkonsep belajar dari alam), sampai wacana pembangunan bendungan di Salule’bo yang cukup memprihatinkan.

Film yang bercerita tentang aktifitas anak-anak dari Sekolah Alam Salule’bo sejak mereka di atas gunung, kemudian dipindah ke pesisir. Bagaimana anak-anak saling berbagi (membantu) mengajar adik-adik di bawah tingkatannya. Bagaimana pendapat anak-anak sekolah, orang tua anak-anak, dan guru memberikan pendapat mereka tentang sekolah Alam Salule’bo.

Lalu, bagaimana bapak Aco Mulyadi, fasilitator Sekolah Alam dan anak-anaknya ini melakukan negosiasi dan pengaduan ke Dinas Pendidikan? Kemudian rapat dengar pendapat dengan anggota komisi III DPRD Mamuju Tengah yang membuat “gemas”. Dan terakhir sajak perlawanan yang dibacakan oleh seorang anak (peserta) sekolah Salule’bo.

Film yang dimulai dengan gambaran aktifitas anak-anak sekolah Alam di Salule’bo yang dipindahkan ke Patulana, suatu daerah pesisir pada sebuah bangunan yang jauh dari kesan layak huni. 

Dikatakan jauh dari layak huni karena bangunan batu itu terlihat rusak disana-sini. Dinding pembatas yang rapuh, lantai kamar mandi yang tidak tersemen dengan baik, belum lagi ketika hujan, atap yang bocor itu membasahi ruangan tempat mereka sehingga mereka harus menyiapkan baskom sebagai wadah untuk menadah air yang turun.

Kemudian, ada gambaran jika mereka melakukan ritual menyambut pagi yaitu bangun salat subuh, bagi yang muslim dan memasak di dapur bagi yang non-muslim sebelum mereka memulai aktifitas belajar. 

Lalu, diceritakan juga keadaan mereka sebelum mereka berada di daerah pesisir Patulana, Budong-budong, Topoyo, Mamuju Tengah, mereka ada di area pegunungan Salule’bo.

Sewaktu mereka bersekolah di Salule’bo, kegiatan belajar mereka sangat menarik, asyik, dan seru. Mereka belajar di rumah panggung, belajar di kolong rumah, di bawah pohon, sampai ke sungai dan hutan. 

Mereka “menikmati” semua fasilitas yang alam berikan ke kehidupan mereka. Mereka bersyukur dan melakukan pembelajaran dari dan dengan alam. Mereka mempunyai ruang belajar yang bebas, gratis, aman dan nyaman yang sangat harmonis tapi itu sebelum “Negara Api” menyerang yang membuat segalanya berubah.

Ketika Negara Api Menyerang!

Seperti film kartun Avatar (Aang) yang mati-matian yang berjuang dari serangan Negara api, begitu pun anak-anak sekolah alam Salule’bo yang kedamaian mereka dirusak oleh “Negara Api”. 

Tempat belajar mereka diusik, mereka disuruh pindah. Semula cuma Uwe atau bapak Aco Mulyadi yang disuruh pergi dari “sekolah alamnya” ia tidak boleh mengajar di sana lagi, Salule’bo.

Namun, anak-anak ini kemudian mengikuti gurunya, Uwe Aco yang dipindahkan ke daerah Patulana tadi. Di sana ada bangunan (sekolah?) yang mangkrak, yang entah mengapa tiba-tiba diperuntukkan untuk mereka agar menjadi tameng bagi “pembangunnya”. 

Mereka sebenarnya tidak mau turun dari gunung Salule’bo ke daerah Patulana tetapi mereka didatangi oleh preman yang membawa parang, dan para aparat desa yang tidak mau mereka belajar di Salule’bo.

Padahal ketika mendengar komentar para orang tua siswa; mereka bersyukur akan kehadiran Uwe Aco yang membagikan ilmunya, mengajar anak-anak Salule’bo. 

Mereka juga bilang, jika sekolah Alam Salule’bo tidak kalah dengan sekolah-sekolah lain yang ditandai dengan anak-anak mereka yang bisa bersajak, berpidato dalam bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Sampai-sampai kata mereka, guru di sekolah Alam Salule’bo sangat pintar berbeda dengan guru sekolah lain yang hanya sok pintar.

Diskusi dari Berbagai Perspektif

Setelah menonton bedah film tadi, acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi film. Namun, sebelum diskusi dimulai. Anak-anak dari Sekolah Alam Salule’bo yang ikut datang bersama di Uwe Aco di Nusa Pustaka milik kak Ridwan Alimuddin ini dihadirkan untuk memberikan “sepatah kata”, bersuara tentang  apa yang sebenarnya yang terjadi di Salule’bo.

Malam itu, anak-anak yang datang berjumlah delapan (8) orang. Diantaranya; Tiara, Rezky, Nober, Musting, dan lain sebagainya. 

Mereka mengatakan jika mereka rindu dengan sekolah alam mereka di Salule’bo, mereka rindu dengan orang tua mereka di Salule’bo, mereka rindu dengan Salule’bo.

Film kemudian ditanggapi beberapa penonton yang hadir. Mereka yang gregetan mempertanyakan setelah rapat dengar pendapat tadi apakah ada kunjungan ke SAS karena sepertinya ada anggota DPRD tadi  yang tidak mengerti persoalan di lapangan. 

Sejak kapan wacana pembangunan bendungan itu ada? Sampai pada jika masalah bendungan krusial mengapa pada film dokumenter gambaran itu tidak ada?

Asad Sattari seorang tokoh pendidik di Sulawesi Barat mengemukakan pendapatnya dari yang kutangkap, ia mengatakan; “jika sekolah hari ini tidak hanya melahirkan pejabat tetapi juga penjahat. Itu adalah realitas. Apalagi ketika pendidikan kita gagal membuat (karakter) kita jadi lebih baik.”

Kemudian, ketika kita sependapat jika sekolah (alam) harus menghilangkan absen, rapor, dan roster (jadwal), mengapa kita harus meminta legilitas ijazah untuk anak-anak SAS? Sekolah Alam Salule’bo sudah “survive” dengan hidupnya, kebudayaannya sendiri, ia punya modal budaya sendiri. 

Jadi, idealnya di SAS pendidikan yang kita berikan ke siswa, anak-anak ini semacam additional knowledge saja, semacam pengetahuan tambahan yang membentengi mereka ketika ada kapitalisme yang masuk ke kampung mereka.”

Dan pendapat lain yang juga mengatakan; jika kita sepakat seluruh orang adalah guru dan seluruh tempat adalah sekolah maka belajar di bendungan (misalnya) bukan merupakan masalah untuk belajar.

Namun, hal ini ditanggapi oleh seorang mahasiswa yang telah melakukan pendampingan selama enam bulan disana; kalau ia sepakat jika semua tempat adalah sekolah. Namun persoalan SAS adalah Sekolah Alam di Salule’bo ini adalah rumah bagi mereka.

Yah, SAS adalah rumah bagi anak-anak Salule’bo, bukan hanya anak-anak Salule’bo tapi untuk semua orang Salule’bo. 

Mereka hidup; bernaung, bergaul, bekerja, bertani, belajar, dan sebagainya di sana. Yang tidak bisa kita pungkiri jika nanti lahir Malala-Malala dari sana (SAS) yang memperjuangkan pendidikan. Atau Greta – Greta baru dari Sekolah Alam Salule’bo, yang lebih peduli lingkungan, yang bisa berbicara di tingkat nasional, dan dunia. 

Namun, misalnya, bukan sekedar pernah menjadi salah satu dari siswa SAS yang mungkin sudah di “pusat” tetapi belum bisa berbicara banyak tentang SAS pada sekitarnya.

Terakhir, seperti kata seorang teman; bukan cuma hari ini kita melawan “premanisme” (apalagi dalam dunia pendidikan) tapi sejak dulu. Kita harus sadar, bahwa kita hidup di dunia yang kontradiksi, menyakitkan sekaligus menjengkelkan. Tapi, memang harus dilawan dengan bersuara!