99812_88579.jpg
Jogja Asian Film Festival
Politik · 5 menit baca

Darah Dalam Gelapnya Ruang Bioskop
Membicarakan film Ballad of Blood and Two White Buckets dan hal-hal lainnya.

uhuk… uhuk… UHUK…” dialog pertama yang dilontarkan tokoh wanita.

***

Dalam pergelaran Jogja Asian Film Festival tahun ini, saya putuskan umtuk hadir. Salah satu alasan terbesar saya adalah ingin menjadi pendengar yang paling baik pada sesi-sesi diskusi di akhir pemutaran. Apalagi yang paling menyenangkan dari mendengar para seniman membicarakan makna, tujuan, realitas, bahkan politik dari sudut pandang yang kadang membumi hingga tenggelam atau melangit hingga hilang.

Mereka, pelaku seni, kadang lebih idealis dan berprinsip dibanding alumni jurusan ilmu politik dan sekelasnya yang gamang dan hilang arah setelah lulus. Seni dapat berbicara lebih banyak dan lebih lantang mengenai apapun tanpa perlu berbicara. Kali ini, Yosep Anggi Noen mengkristalkan pesan-pesannya dalam sebuah film pendek berdurasi lima belas menit yang ternyata meledakkan banyak hal di kepala saya.

Film itu berjudul: Ballad of Blood and Two White Buckets.

***

Batuk dan batuk, film mulai digulirkan. Beberapa penonton coba untuk menerka kemana layer film akan diarahkan. Batuk dan batuk, lagi. Perlahan batuk itu mulai mengganggu, atau sengaja dihadirkan untuk mengusik para penonton. Barangkali saya perlu batuk untuk terusik bahwa ada suatu hal yang salah. Entah apa.

Sampai tokoh perempuan (si batuk) dengan suaminya terlihat berjalan di tengah peternakan sapi. Film yang sangat kabur karena tak membaca sinopsi mulai terang tapi belum jauh. Si suami mengobrol (dengan Boso Jowo) dengan si petugas. Sampai akhirnya si suami meninggalkan si istri untuk mengambil darah. Titik terang ternyata mereka adalah penjual siren-makanan olahan dari darah sapi atau hewan lain yang dimasak dan kemudian berbentuk serta bertekstur seperti hati ayam dalam bentuk jumbo.

Di sela-sela menunggu si suami mengambil darah, seorang petugas sibuk menonton video dari gawai pintarnya. Terlihat beberapa orang berjubah putih mwmbawa spanduk berteriak garang. “Bunuh! Bunuh! Bunuh!” teriak mereka marah! Sampai akhirnya kata Ahok disematkan mereka dalam orasi kemarahan itu. Mendadak sikap penonton terhadap film berubah. Lebih menarik, tentunya!

***

Yosep banyak memberikan metafora dalam lima belas menit penuh emosi ini. Beberapa dibiarkan saja menjadi metefora hingga akhir. Sehingga penonton yang malas berpikir akan semakin malas, penonton yang tertarik akan semakin penuh tanya. Metafora-metafora itu akan tetap menjadi metafora tanpa olahan sikap dan pengalaman dari si penonton, sayangnya. Salah satu yang paling menarik adalah siren itu sendiri.

Berada di titik kegamangan antara mata pencarian si tokoh utama dan ketidakhalalan darah sebagai makanan atau pula titik dilema anatara politik yang terlalu berisik dan bagaimana hidup miskin tak tersentuh kebisingan itu. Sebagai penjual siren yang miskin padahal juga menjadi bagian dari mayoritas bangsa di Indonesia, Jawa, tidak membawa kedua tokoh itu kemana-mana. Tetap berselimut kemiskinan. Produk andalan mereka satu-satunya, siren, juga hanya dijual kesesama penduduk miskin republik dan diberikan cuma-cuma pada babi dari peternak miskin negara ini.

Siren menjadi bagian besar dari balada darah yang ingin dikembangkan. Darah sendiri bukan penumpang gelap dalam dunia film. Gadis kecil melumuri mukanya dengan darah bapaknya yang terbunuh dalam film penuh kontroversi G30S/PKI atau adegan penutup darah dendam yang muncrat ke bunga-bunga dalam Stroker atau bahkan rasa mual tanpa visual cairan warna merah yang hanya dinarasikan oleh pelaku pembantaian 1965 dalam Look of Silence sudah cukup sebagai bukti bahwa darah, melalui film, telah mengkonstruksi pikiran kita ke dalam kegelapan yang menakutkan. Berbeda dengan Ballad of Blood and Two White Buckets yang menghadirkan darah dalam berbagai lapis penafsiran.

Anda bisa menafsirkannya dengan kritik terhadap politik yang selalu panas di Jakarta tapi absen di daerah-daerah atau sebagai kemiskinan atau sebagai citra kemuakan akan rasa miskin atau bahkan hanya sebagai darah tanpa perlu dipikirkan lebih jauh. Itulah yang diinginkan Yosep. Pada sesi Questions and Answers (QnA) pada akhir, Yosep menjelaskan bahwa film harusnya memiliki berbagai lapis. Film akan gagal jika menhadirkan satu lapis yang terlalu eksplisit tanpa perlu penafsiran dan perenungan.

Ada juga yang sama menariknya dengan film, yaitu pemikiran sutradaranya. Yosep ingin membuat reaksi-reaksi yang sama pada tubuh ketika anda menonton filmnya. Hal yang sama dilakukan juga oleh film porno. Film biru membuat anda akan merasakan sensasi-sensasi kimiawi yang berlebih tubuh dengan adegan-adegan yang disuguhkan, seperti mual atau bahwa membucahnya libido. Hal itulah yang ingin dicoba Yosep dengan membawa darah pada takaran tokoh yang sakit batuk hingga berdarah. Anda bisa saja menerjemahkan darah itu karena konsumsi siren yang tak sehat, namun ada sisi lain dari eksploitasi kemiskinan dari hal itu.  

Sebenarnya ada yang lebih penting lagi dari reaksi tubuh seperti menonton adegan asusila, yaitu reaksi politik para penontonnya. Film pada level tertentu tidak hanya dapat mencambuk endorphin untuk berproduksi namun juga membuka ruang baru dalam sela-sela sel otak yang tak terhingga itu. Hampir sama dengan reaksi ketika kita membaca buku paling radikal di waktu-waktu paling banal nan konservatif. Reaksi yang ingin berontak dan membalas dendam orang-orang yang dimarjinalkan. Marah berbaur dengan menyempitnya saluran pernapasan. Reaksi politik kita menyebutnya. Film ini memiliki potensi untuk menimbulkan itu pada diri penonton dalam beberapa lapis paling dalamnya.

Kembali ke kemiskinan, sebenarnya kita sudah boleh muak dengan sikap sineas Indonesia yang memiskinkan kemiskinan alias menggambarkan orang miskin sebagai makhluk dengan miskin segala dimensi. Alih-alih untuk membuat penonton iba dan sedih tak karuan, namun bagi saya hal ini dalam takaran lebay membuat penonton hilang empati terhadap kemiskinan itu sendiri. Tidak manusiawi miskinnya!

Namun film ini hanya meminjam sedikit kemiskinan itu. Satu-satunya obat yang diperlihatkan hanyalah obat batuk saset yang dapat diasumsikan paling murah di toko klontong. Tidak ada lagi selain batuk yang semakin mengganggu rasa kemanusiaan. Tak pernah terbayangkan bahwa suara batuk bisa tidak senyaman ini. Suami yang digambarkan tidak terlalu peduli akan batuk istrinya selain karena suara yang mengganggu sampai kepada si sumai batuk juga. 

Ibarat para politisi yang begitu rusuh di twitter itu, tidak ada yang benar-benar peduli akan kita, rakyat yang sedang sakit batuk darah sampai kita benar-benar viral kemudian mereka mengambil alih panggung. Ambil contoh kasus Baiq Nuril yang harus menunggu satu Indonesia tahu kasusnya apa dan bagaimana, baru segenap pihak siap berkicau satu suara. Tiada yang peduli akan batuk anda, sampai mereka tertular batuk.

Akhirnya, Indonesia dan segala problematika selalu menghantui orang-orang yang  datang ke bioskop. Pada umumnya mereka datang ke ruang gelap itu untuk menekan penat hingga tak dirasakan lagi, segala suntuk dan permasalahan yang mengganggu harus lenyap. Namun tidak jika anda disuguhkan film ini. Anda akan dibawa menebak permasalahan apa yang ingin disampaikan sutradara. Film ini menjelma seperti kutukan bahwa permasalahan negeri ini akan selalu membayang mengikuti. Hingga di dalam gelapnya ruang bioskop.