penulis
3 tahun lalu · 139 view · 1 menit baca · Puisi 3442367056_55c0c1744c_z.jpg

Dengan Darah

Darahnya, ia jadikan tinta yang menjaja langit kala rembulan bersinar penuh mengurai imajinasi paling purba tentang teka teki penciptaan manusia

selayak kanak kanak yang bertanya ada apa di langit kala petir membahana sepulang bermain di senja yang basah

dan awan enggan menyingkir sekedar memberi ruang untuk gairah amarahnya yang tak ada habis habisnya

yang membuatnya kehilangan tenaga dan ingin menelan bulan agar cahaya sirna dan gelap menang tanpa perlawanan apa apa

hingga tak ada salah jika janji lukisan langit tak akan pernah terhampar menghujam mata

bukankah telah berganti tinta pada darah

Dengan darah, ia tuntaskan dahaga dari lelah genderang perang yang ditabuhnya sejak lama. Tentang tantangan pada dunia yang terlalu menghiaskan diri dengan misteri yang entah perlu ada atau angin lalu saja.

seperti ia mendaki tebing terjal berbatu kasar dan darahnya tertinggal di sela batu kerikil yang menganga seperti tertawa. Apakah memang ada puncak dari tebing yang menjulang tertutup kabut dan awan?

habis napasnya tinggal satu satu, keringat basah kering berlalu dan ia rasakan tulang menguyu

tapi genderang perang terlanjur ditabuh tak ada harga lebih mahal menyangga malu

ditenggaknya darah mengusir dahaga dan diam diam berdoa akan habis tetes tetes hingga tak tersisa untuk jantung yang mungkin masih ada

tapi dilihatnya di bawah jurang ingin menelan, akan malu jiwa pada tubuh yang berburai jika terhempas ia pada lelah

Dengan darah berganti keringan keringat

Dengan darah diganti air dahaga

Di tiap persimpangan pilihan meragu perjuangan, ia mengundi jiwa, dengan darah, menetes tes satu dua, lalu mengalir deras mengalirkan apa apa yang sudah ia tinggalkan dengan jejak jejak yang terkikis seperti berjalan ia di gurun pasir yang berangin kencang atau bibir pantai yang terlalu berombak. sehingga tak ada apapun mencatat jadi sejarah

Dengan darah ia membasuh muka, mereka reka adakah sudah ia terjaga dari mimpi yang mungkin telah bersekongkol bertukar tempat dengan nyata

hingga tak perlu ada janji yang dituaikan, tak ada tebing perlu didaki

Dengan darah jiwanya memerah

Merasa buta

Mati rasa