Situasi dan kondisi di saat pandemi seperti ini memberikan banyak kesulitan bagi kehidupan bersama dalam masyarakat Indonesia. Kesusahan dalam memperoleh pendapatan tetap serta pelbagai permasalahan di pelbagai bidang kian mencuat.

Kondisi yang demikian membuat banyak perusahaan mengalami penurunan pendapatan dan banyak karyawan serta buruh yang dikenai pemutusan hubungan kerja (PHK) secara mendadak. 

Di tengah situasi dan kondisi yang demikian, pemerintah beserta jajarannya telah merumuskan dan mengesahkan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang dominannya menyangkut kesejahteraan dan keberlanjutan nasib para buruh.

Pengesahan ini semakin meyakinkan para buruh dan masyarakat umum untuk menolak pengesahan dan melakukan pencabutan terhadap  Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Suatu pertanyaan yang menarik yakni, bagaimana bisa seorang pelajar/mahasiswa yang tidak mempunyai keahlian perang dan tidak terlibat dalam kepemimpinan pemerintahan bisa melakukan demonstrasi besar-besaran dan pengrusakan di pelbagai tempat untuk menolak pengesahan Undang-Undang Omnibus Law?

Demonstrasi Mahasiswa terhadap UU Omnibus Law Cipta Kerja

Penolakan terhadap Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja membuat mahasiswa dan buruh melakukan demonstrasi di pelbagai tempat di jagad nusantara.

Peristiwa ini tentu menyangkut banyak korban dan merugikan banyak pihak karena banyaknya tindakan anarkis atas demonstrasi tersebut serta pengrusakan-pengrusakan yang tak terhitung banyaknya. Peristiwa tersebut menyangkut banyak pihak secara khusus pelajar, mahasiswa, dan buruh.

Pemerintah menegaskan, Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja ini hadir bagi 2,92 juta pencari kerja dan 6 juta pekerja korban PHK. Sekalipun demikian masyarakat secara khusus para siswa SMK, mahasiswa, dan kaum buruh masih tidak dapat menerima hal tersebut.

Menurut tuntutan para buruh Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja mengurangi jaminan sosial para buruh. Selain itu pula, menurut mereka Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja hanya sekadar membuat masyarakat mampu memperoleh pekerjaan dan mengabaikan jaminan-jaminan lainnya seperti halnya pensiunan, asuransi, pesangon, serta pemutusan hubungan kerja.

Pada hari Rabu, 7 Oktober 2020 peristiwa demonstrasi oleh para siswa SMK, dan mahasiswa terjadi di depan Kantor DPRD Sumatera Barat, Padang, Sumbar. Tak hanya itu, demonstrasi juga terjadi pula di Kawasan Jababeka Bekasi, Rabu, 7 Oktober 2020 oleh mahasiswa dan buruh ricuh.

Pada demonstrasi tersebut terjadi kericuhan dan tindakan anarkis. Selain itu pula demonstrasi ricuh mengakibatkan 138 mahasiswa dari perbagai kampus terluka.

Peristiwa ini terjadi di depan Kantor DPRD Jabar, Bandung pada hari Rabu, 7 Oktober 2020. Senada dengan peristiwa-peristiwa tersebut para mahasiswa melakukan demonstrasi di depan Kantor DPRD, Jawa Tengah, Semarang pada hari Rabu, 7 Oktober 2020.

Kesadaran Kolektif (Collective Conciousness) Menurut Emile Durkheim

Emile Durkheim merupakan seorang tokoh paradigma fakta sosial. Ia merupakan seorang pemikir sosiologi klasik di Eropa yang hidup antara tahun 1858 sampai 1917. Pemikiran lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran positivisme.

Emile Durkheim lahir di Lorraine Perancis Timur 15 April 1858. Ia merupakan seorang sosiolog pertama yang memiliki latar belakang pendidikan sebagai seorang akademisi di bidang sosiologi.

Menurut Durkheim masyarakat terbentuk bukan hanya dari “kesenangan” dan “kontrak sosial”, melainkan karena adanya faktor yang lebih penting dari itu.

Aturan yang berada di luar kontrak menurut Durkheim ialah kesadaran kolektif (collective consciousness). Berkenaan dengan hal tersebut Emile Durkheim memaparkan sebuah teori adanya “jiwa kelompok” yang memengaruhi kehidupan individu masyarakat.

Dalam teori tersebut ada dua jenis kesadaran yakni kesadaran kolektif (collective conciousness) dan kesadaran individual (individual conciousness).

Menurut Emile Durkheim tingkah laku manusia merupakan akibat dari “pemaksaan” aturan dari luar individu yang memengaruhi kehidupan dan kepribadian individu. 

Apabila di kemudian hari seseorang menentang dan berlawanan dengan tingkah laku kolektif, maka kesepakatan kolektif tersebut yang akan menentangnya.

Dengan demikian suatu kelompok manusia yang semula tidak bersifat agresif bisa jadi bersikap sangat liar dan agresif setelah menjadi bagian dari suatu kerumunan (kelompok). Hal ini dapat terjadi dalam peristiwa-peristiwa demonstrasi yang berakhir pada tindakan yang anarki.

Menurut pandangan Emile Durkheim kesadaran kolektif dan kesadaran individual sangat berbeda sebagaimana perbedaan antara kenyataan sosial dengan kenyataan psikologis murni.

Dua Sifat Dasar Kesadaran Kolektif  (Collective Consciousness)

Masyarakat terbentuk bukan karena sekadar kontrak sosial, melainkan lebih dari itu atas dasar kesadaran kelompok (collective conciousness). Menurutnya pula terdapat dua sifat kesadaran kolektif manusia, yakni exterior dan constraint. 

Exterior merupakan kesadaran yang berada di luar individu, yang sudah mengalami proses internalisasi ke dalam individu dalam wujud aturan-aturan moral, agama, nilai, dan sejenisnya. 

Constraint adalah kesadaran yang memiliki daya ‘paksa’ terhadap individu, dan akan mendapat sanksi tertentu jika hal itu dilanggar.

Demonstrasi Mahasiswa dan Kesadaran Kolektif (Collective Conciousness)

Peristiwa demonstrasi menuntut penolakan terhadap pengesahan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja oleh mahasiswa merupakan peristiwa sosial. Peristiwa sosial ini sangatlah miris sebab demonstrasi telah sering terjadi di Indonesia selama beberapa bulan terakhir, terlebih demonstrasi kali ini dilakukan di tengah pandemi COVID-19.

Bagaimana bisa masing-masing pribadi memiliki niat untuk melakukan demonstrasi dan berakhir pada kericuhan dan anarki?

Pastilah pula terdapat latar berlakang yang membuat setiap pribadi manusia mau bergerak bersama untuk melakukan demonstrasi, terlebih demonstrasi ini dilakukan di tengah pandemi COVID-19 dan di bawah terik mentari.

Menurut pemikiran Emile Durkheim kehidupan sosial masyarakat dapat terjalin bukan karena adanya faktor kesenangan komunal ataupun adanya kontrak sosial, melainkan adanya unsur pengatur masing-masing anggota yang bersifat mengikat masing-masing anggota dan terikat erat dengan kontrak bersama.

Unsur tersebut ialah kesadaran kolektif (collective consciousness). Dalam konteks demonstrasi masyarakat di sini terasa erat kesadaran kolektif tersebut yakni kesadaran yang mengikat masing-masing anggota dan terikat terhadap kontrak sosial.

Kesadaran kolektif ini mulai semakin terasa ketika masing-masing anggotanya memiliki suatu nasib yang sama yakni akan sama-sama dirugikan karena adanya pengesahan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Emile Durkheim menyebut teori tersebut sebagai “jiwa kelompok” yang memengaruhi kehidupan individu masyarakat. Dalam teori tersebut terdapat dua bentuk kesadaran yakni kesadaran kolektif (collective consciousness) dan kesadaran individual (individual consciousness).

Berdasarkan peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kaum buruh di Indonesia di pelbagai Kantor DPRD di Indonesia teori Emile Durkheim mengenai keadaan sosial sangat benar. 

Teori “jiwa kelompok” yang terdiri dari dua bentuk kesadaran yakni kesadaran kolektif (collective conciousness) dan kesadaran individual (individual conciousness) sangat tepat untuk membedah peristiwa demonstrasi tersebut.

Masing-masing pribadi manusia memiliki kesadaran akan dirinya. Kesadaran inilah yang dinamakan sebagai kesadaran individual (individual conciousness)

Dalam kesadaran individual ini setiap pribadi manusia memiliki tingkat kesadarannya masing-masing. Kesadaran ini tentu atas dirinya sendiri dan atas kontrol diri sendiri tanpa adanya pengaruh dari pihak luar.

Lain halnya dengan kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif berlandaskan pula atas kesadaran individual, namun dalam kesadaran kolektif ini terdapat pengaruh dari pihak luar pribadi individual.

Pengaruh ini pun sangatlah kuat alhasil pengaruh dari luar diri ini dapat memengaruhi dan mengontrol kesadaran individual. Hal ini terdapat dalam peristiwa demonstrasi yang terjadi di pelbagai daerah di Indonesia yang menuntut penolakan pengesahan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Masing-masing pendemo tentu memiliki kesadaran masing-masing, namun mereka juga terpengaruh pihak luar yang sangat kuat yakni adanya kesamaan nasib dan keanggotaan yang mengikat dan terikat satu sama lain.

Pengikat tersebut yakni kesamaan status sosial sebagai sesama mahasiswa atau buruh dan kesamaan nasib sebagai mahasiswa sebagai penerus masa depan dan buruh untuk kesejahteraan hidupnya. 

Berdasarkan hal tersebut kesadaran kolektif sangat nampak jelas dalam peristiwa demonstrasi para mahasiswa dan buruh kali ini.

Menurut Emile Durkheim kesadaran kolektif (collective consciousness) manusia memiliki dua sifat yakni exterior dan constraint. 

Exterior lebih berada di luar dan sudah mengalami proses internalisasi ke dalam individu dalam bentuk aturan moral, agama, nilai, dan sebagainya.

Constraint merupakan kesadaran yang memiliki daya paksa terhadap individu dan akan mendapat sanksi tertentu jika hal itu dilanggar. 

Menurutnya pula tingkah laku setiap individu merupakan akibat dari pemaksaan aturan dari luar individu yang memengaruhi kehidupan dan kepribadian individu.

Oleh sebab itu, suatu kelompok yang semula tenang dan tidak agresif akan berubah menjadi agresif dan liar ketika menjadi bagian dari suatu kerumunan/kelompok besar. Menurutnya hal ini terjadi dalam peristiwa-peristiwa demonstrasi yang berakhir anarki.

Kesadaran mereka telah dikontrol oleh kerumunan. Hukuman dan sanksi mereka apabila tidak ikut serta dalam kelompok ialah hukuman sosial berupa dikucilkan dari kelompoknya yakni kelompok mahasiswa atau buruh ataupun dicemooh oleh kelompok mereka karena tidak ikut serta dalam gerakan kelompok.

Kesimpulan

Pengesahan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja oleh pemerintah mendapat banyak respon negatif dari sebagian masyarakat di Indonesia secara khusus. 

Kembali lagi bahwa peristiwa demonstrasi di pelbagai daerah ini tak lepas dari adanya kesadaran kolektif (collective consciousness) dalam kelompok masyarakat, baik dari para mahasiswa maupun para buruh.

Berdasarkan pandangan Emile Durkheim seorang sosiolog Perancis peristiwa demonstrasi yang berakhir anarkis dilakukan oleh masyarakat merupakan bentuk dari munculnya “jiwa kelompok” yang berasal dari adanya kesadaran koletif (collective consciousness) yang sangat kuat.

Alhasil kesadaran individual (individual consciousness) serta kepribadian masing-masing pribadi masyarakat tak lagi berkutik sebab dikontrol dan dipengaruhi oleh kesadaran kolektif (collective consciousness). 

Peristiwa demonstrasi ini merupakan bukti nyata betapa kuatnya pengaruh kesadaran kolektif (collective consciousness) yang merubah setiap pribadi yang tenang menjadi sangat agresif ketika berada dalam kerumunan.