Di berbagai daerah, tak jarang terjadi aksi demonstrasi untuk mengatasi suatu permasalahan. Namun, terkadang aksi itu tidak menghasilkan apa pun dikarenakan tidak memiliki tujuan yang jelas dan terkesan hanya peramai suatu momentum saja.

Indonesia memiliki banyak peringatan hari raya, seperti Hari Buruh, Hari Kartini, Hari Kesaktian Pancasila, dan lainnya. Pada saat tanggal-tanggal peringatan tersebut, sering diadakan demonstrasi oleh masyarakat maupun mahasiswa untuk menyuarakan aspirasinya kepada pemerintah.

Kita sebut saja peringatan Hari Buruh Sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Mei. Saat itu, sering sekali terjadi demonstrasi besar-besaran di berbagai daerah yang melibatkan para buruh dan kalangan masyarakat lainnya. Namun, hasil yang diperoleh tidaklah sebesar aksi massa yang terjadi.

Hal ini disebabkan karena banyaknya aksi-aksi yang hanya diadakan sebagai simbolis semata. Yaitu, sebuah aksi yang hanya untuk menggambarkan keprihatinan saja. Setelah hari itu terlewat, maka suara-suara aspirasi pun terhenti tanpa ada kelanjutannya.

Pada hakikatnya, sebuah demonstrasi diadakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Massa demonstran seharusnya berpartisipasi dalam aksi dengan membawa nurani dan memang berniat untuk menyelesaikan masalah. Bukan hanya untuk meramaikan atau pun memperkuat eksistensi sebuah organisasi yang diikuti.

Jika ini terus berlanjut, maka lambat laun masyarakat yang pasif dalam menyuarakan aspirasi semakin banyak. Mereka akan menganggap aksi massa sudah tidak bermanfaat lagi bagi kehidupan mereka di masa mendatang.

Tentunya, mahasiswa jadi sosok yang paling sering mengadakan aksi demonstrasi di negeri ini, tidak terkecuali dalam fenomena itu. Mahasiswa, terutama anggota sebuah organisasi, sering mengadakan aksi untuk memperingati suatu kejadian berdasarkan penanggalan.

Mereka berbondong-bondong – biasanya menuju kantor pemerintahan – menyuarakan aspirasi kepada pemerintah maupun masyarakat dengan bermaksud memajukan negeri. Namun, sering dari mereka tidak membahas apa hasil yang harus diperoleh setelah aksi dilakukan.

Suara-suara aspirasi jadi terkesan tidak berguna dan hanya jadi aksi buta yang tak punya tujuan. Aksi tersebut pun tidak bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah yang menjadi objek penyebab adanya demonstrasi.

Maka dari itu, manajemen aksi haruslah direncanakan dengan sematang mungkin. Dengan cara tetap fokus terhadap hasil yang harus diperoleh setelah aksi tersebut diadakan. Apakah itu untuk mengubah kebijakan pemerintah atau pun menggalang massa aksi yang lebih besar di kemudian hari dengan cara mempropagandakan suatu permasalahan.

Bahkan, terkadang di dunia kampus banyak yang menggelar aksi dengan cara memaksa mahasiswa ikut berdemonstrasi. Hal itu dilakukan dengan cara meminta setiap organisasi internal kampus, seperti BEM tiap fakultas, Himpunan Mahasiswa Program Studi, dan lainnya untuk mendelegasikan anggotanya agar mengikuti aksi. Hal ini mengakibatkan aksi tersebut bukanlah berasal dari hati nurani para demonstran.

Para demonstran hakikatnya adalah manusia yang membawa rasa keprihatinan terhadap situasi dengan dibumbui oleh nalar kritis. Maka, sebelum diadakannya aksi, perlu adanya penyadaran terlebih dahulu atau setidaknya mengetahui permasalahan yang terjadi sebenarnya.

Setelah itu, galanglah massa yang memang bersedia dan merasa dirinya perlu untuk bergabung memperbaiki permasalahan yang ada. Agar di hari berikutnya, aksi yang dilakukan akan tetap ada kelanjutannya sampai hasil yang diinginkan tercapai.

Selain itu, demonstrasi haruslah dilakukan dengan mengkaji masalah-masalah baru yang datang dari masyarakat. Memperhitungkan apakah aksi tersebut masih relevan untuk dilakukan atau mungkin sebenarnya masalah itu telah selesai. Contohnya, masalah kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki untuk mendapaatkan pendidikan.

Di perkotaan mungkin masalah ini sudah terselesaikan. Buktinya bisa dilihat dari perempuan yang sudah diperbolehkan mendapatkan pendidikan yang sama tingginya dengan pria, memiliki gelar doktor bahkan profesor. Namun, ada permasalahan perempuan yang perlu diatasi, salah satunya adalah masih maraknya kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan.

Aksi-aksi pembelaan perempuan itu sering terjadi ketika peringatan Hari Kartini. Sementara zaman Kartini dengan zaman sekarang tetap memiliki perbedaan. Untuk itu, perlu adanya pengkajian isu sebelum dilaksanakan aksi agar tetap tepat sasaran dan bisa mengubah situasi jadi lebih baik.

Ketika ada aksi yang dilakukan dengan persatuan massa mahasiswa dan masyarakat, maka jangan menjadikan masyarakat hanya sebagai objek memperbanyak massa aksi. Masyarakat juga perlu memiliki kesadaran masing-masing agar nantinya tidak ada yang tiba-tiba beralih menolak aksi tersebut karena mereka tidak memahami esensi dari aksi tersebut.

Ketika melibatkan masyarakat dalam sebuah aksi, tetaplah menjaga komunikasi dengan baik kepada mereka. Selain itu, tetaplah memikirkan kesibukan mereka di dunia kerja. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mempersiapkan aksi di jauh-jauh hari agar masyarakat bisa membuat izin libur kerja.

Atau jika memang aksi massa adalah para pegawai kantor, bisa dilakukan di hari Minggu. Namun, terkadang aksi saat jam kerja pun perlu dilakukan ketika direncanakan aksi mogok kerja.

Sebaik-baiknya demonstrasi adalah pergerakan untuk menghasilkan situasi yang lebih baik. Tanpa ada hasil, demonstrasi tak lebih dari perkumpulan orang yang bersama-sama berteriak tanpa meminta orang yang diteriaki benar-benar mendengar teriakan para demonstran.