24462_68530.jpg
Cerpen · 2 menit baca

Demonstran Nasi Bungkus

Tatkala aku datangi kerumunan mahasiswa itu dengan kamera di tanganku, sudah kusut wajah mereka, kumal disertai keringat bercucuran di seluruh tubuh mereka. Bahkan beberapa dari mereka sudah terlentang di pinggir jalan seperti ikan yang dikeringkan.

“Mas, boleh wawancara sebentar?” pintaku pada salah satu dari mereka.

“Iya, bagaimana?” sambil mengusap keringat, mahasiswa itu memperbaiki posisi badannya.

“Jadi, gini, mas. Ini aksi dalam rangka apa? ”

“Owh, iya. Jadi, aksi ini kami lakukan karena pemerintah telah bobrok.”

“Bobrok bagaimana?”

“Ya, pokoknya, pemerintah negara kita ini, ya, bobrok.”

“Boleh minta press release-nya?”

“Presrilis itu apa?”

Aku tertegun mendengar jawaban mahasiswa itu. Press release saja tidak tahu? Bagaimana mungkin mahasiswa itu menyatakan aksi itu lantaran pemerintah yang bobrok?

Tak berlama-lama aku dengan mahasiswa itu, aku cari mahasiswa lainnya untuk kuwawancarai.

“Mas, aksi ini dalam rangka apa?”

“Aksi ini kami lakukan karena kami muak dengan perlakuan pemerintah yang semena-mena kepada rakyat.”

“Semena-mena seperti apa, Mas?”

“Pokoknya, pemerintah telah semena-mena kepada rakyat. Dan kami muak dengan semua itu. Pokoknya, kami sudah tidak tahan dengan keadaan yang semakin carut marut.”

“Boleh minta press release-nya?”

“Presrilis?”

“Iya, Mas. Boleh lihat press release-nya?”

“Apa itu presliris? Aku nggak tahu.”

Aku mengangguk-angguk. Makin tidak mengerti dengan para demonstran ini. Sudah dua mahasiswa kuwawancarai, dan belum ada yang memperlihatkan press release aksi. Bahkan, tahu saja tidak.

Tapi, apa mungkin demonstrasi yang hampir seratus orang ini tak ada satu pun yang punya press release?

Baru kuingat, tadi sebelum mereka seperti orang linglung, salah satu mahasiswa berorasi dengan lantang menyampaikan aspirasi yang bertubi-tubi menghujat pemerintah. Kucari mahasiswa itu. Aku berjalan mengitari kerumunan mahasiswa yang bergelatakan itu.

Yap, ketemu. Tepat di bawah pohon beringin tua, mahasiswa itu berdiri dengan seorang yang agak tua, sekitar berumur 40 tahunan dan berpakaian dinas. Seorang yang agak tua itu agaknya pernah kukenal. Sangat familiar. Tapi, benar-benar aku lupa siapa.

Aku urungkan niat untuk segera wawancarai mahasiswa itu. Agaknya mahasiswa dan seorang yang sedikit tua itu sedang bicara masalah serius. Tak mungkin aku ke sana dan mengganggunya.

Tak lama, seorang yang agak tua itu pergi setelah menyalami mahasiswa itu dengan menyelipkan beberapa lembar merah di tangannya. Mahasiswa itu kembali ke kerumunan, dan aku segera menyusulnya.

“Mas, Mas. Minta waktunya sebentar untuk wawancara.”

“Iya.”

“Alasan aksi demonstrasi ini karena apa, Mas?”

“Jadi, kami sebagai mahasiswa yang dibesarkan oleh negara besar ini telah muak dengan keadaan-keadaan negeri. Pemerintah yang bobrok. Rakyat miskin. Padahal kita bangsa yang kaya. Kok bisa-bisanya rakyat tetap saja miskin dan semakin merajalela?”

“Boleh minta press releasenya?”

Belum juga mahasiswa itu menjawab. Aku dengar bisik dari mahasiswa lain yang tiba-tiba datang, “Bro, anak-anak pada minta nasi bungkus. Gimana?”

Dari kerumunan aku dengar pula teriakan-teriakan yang mengarah pada mahasiswa yang kuwawancarai.

“Woy, Bro. Nasi bungkusnya mana? Sudah pada kelaparan nih.”

“Iya nih, sudah nggak kuat.”

Sahut-menyahut protes dari kerumunan itu, membuat mahasiswa yang kuwawancarai mengacuhkanku dan menemui mereka, “Tenang-tenang, sebentar lagi nasi bungkus datang. Semua pasti dapat bagian.”

Bangkalan, Maret 2018