Penulis
1 minggu lalu · 620 view · 3 menit baca · Politik 52178_24172.jpg
Foto: Liputan6

Demokrat Sebaiknya Belajar ke PSI

Meski Ferdinand, Andi Arief, maupun Rachland Nashidik bukan pengambil kebijakan partai, namun dengan diamnya SBY atas pernyataan-pernyataan mereka, maka bisa dikatakan mereka mendapat restu SBY. 

Ucapan mereka bisa dikatakan representatif keinginan SBY meski tidak sepenuhnya. Setidaknya SBY sudah mengetahui para 'bidaknya' menghiasi berita nasional belakangan ini.

Konfrontasi mereka berhasil memancing para 'bidak' Prabowo membalasnya. Tidak ketinggalan 'bidak' dari partai koalisi Jokowi-Ma'ruf ikut berkomentar atas ucapan Rachland Nashidik terkait pembubaran koalisi. Ketika Ridwan Kamil sibuk mengklarifikasi Masjid Al Safar yang dianggap sarat akan simbol-simbol illuminati seperti segitiga, politik nasional kini juga bersimbol serupa.

Demokrat yang memiliki kepentingan Pilpres 2024 kini seolah-olah menjadi pihak ketiga. Kalau lelucon rumah tangga, pihak ketiga menjadi salah satu sebab hancurnya rumah tangga. Saya melihatnya serupa meski tak sama, politik nasional pasca lebaran kembali memanas. Padahal sebelum 'bidak-bidak' SBY melancarkan serangan, suhu politik mulai turun.

Beragam persepsi dan opini muncul terkait sikap mereka. Demokrat sedang mencari panggung, membuka peluang demi masa depan AHY dan partai. Ini pendapat pertama. 

Pendapat lain mengatakan, Demokrat sedang memainkan dinamika sekaligus menunjukkan betapa mereka lebih loyal pada Jokowi ketimbang Prabowo. Dan beragam pendapat lain yang intinya Demokrat tidak ingin menjadi oposisi.

Salah satu cara agar mereka sukses pada 2024 harus dimulai dengan mengamankan posisi AHY di dalam pemerintahan Jokowi. Posisi menteri bagi AHY akan mengulang kesuksesan ayahnya. 

Pembubaran koalisi dalam hitungan Demokrat akan lebih memudahkan mereka mengajukan nama AHY. Jokowi lebih bebas menentukan calon menteri-menterinya. Nilai bargaining lebih tinggi bila koalisi bubar.


Sikap itu terkait lontaran pernyataan beberapa parpol koalisi Jokowi-Ma'ruf yang mulai memperingatkan Partai Demokrat. Sinyal mereka tidak senang bila Demokrat mau mendapatkan posisi menteri padahal tidak berkeringat. 

Wajar bila kemudian Demokrat mewacanakan pembubaran koalisi. Ide tersebut sebagai upaya agar posisi Demokrat dan partai koalisi Jokowi-Ma'ruf sama.

Sayangnya, wacana tersebut sangat mudah terbaca. Dalam hal ini, Demokrat sebaiknya belajar dari PSI. Meski mendukung penuh Jokowi-Ma'ruf, namun mereka tahu diri, tidak mengusulkan calon menteri. Meski Demokrat secara kursi parlemen lebih baik, namun sikap tahu diri itu penting. Janganlah demi jabatan kemudian kehilangan prinsip berpolitik.

Demokrat, jika ingin meraih posisi dalam pemerintahan Jokowi, harus mencontoh Golkar. Mereka berpindah tanpa harus menyerang koalisi di mana mereka berada sebelumnya. Etika begitu lebih bisa diterima, lebih dewasa, dan waras. 

Sikap menyerang teman demi jabatan bukan sikap kesatria, namun sikap tanpa sikap. Dan saya kira Jokowi belum tentu dengan mudah menerima kelompok yang senang menyerang temannya sendiri. 

Benar bahwa tidak ada teman sejati dalam politik, namun dewasa dalam berpolitik itu penting. Elite politik harusnya memberi teladan bagaimana sikap politik yang benar. 

Silakan berpindah koalisi atau partai, namun tidaklah elok kemudian menyerang teman seperjuangan. Contohlah Anies yang ketika 2014 mendukung Jokowi, namun kemudian Pilkada DKI Jakarta didukung Prabowo. Anies tidak pernah menyoal kepemimpinan Jokowi apalagi menyerang Jokowi.

Kekuasaan memang mampu membutakan. Sebelum buta akan segalanya, sebaiknya SBY bersuara. Jangan hanya berada di belakang layar memainkan 'bidak-bidak' yang mulai tak cerdas. Membiarkan berarti merestui dan artinya SBY tidak lebih baik dari mereka atau bahkan lebih buruk lagi. 

SBY sebaiknya meminta maaf atas sikap 'bidaknya' yang tak bijak. Sikap itu akan lebih menarik simpati pada SBY sekaligus AHY.

Tak harus menjadi Gubernur DKI Jakarta atau menteri untuk menjadi Presiden. Buktikan AHY mampu menjadi Presiden atau wakil Presiden 2024 tanpa harus 'menjilat' penguasa. Saat ini malah publik menilai, meski tidak semua, AHY dan SBY tidak percaya diri sehingga harus mendapat posisi dalam pemerintahan untuk bertarung pada Pilpres 2024.

Komposisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf juga sudah cukup kuat di parlemen tanpa Demokrat. Jokowi-Ma'ruf sebenarnya tak butuh Demokrat untuk menjalankan pemerintahan. 

Baca Juga: Manuver AHY

Lagi pula, sidang di MK bisa saja di luar dugaan. Bila Prabowo-Sandi menang, Demokrat mau ke mana? Demokrat nyaris seperti partai baru. Manuvernya terlalu kekanakan, terkesan haus kekuasaan.

Demokrat harusnya malu memiliki 'bidak-bidak' yang tak cerdas bersuara di ruang publik. SBY harusnya tegas terhadap kadernya kecuali peristiwa belakangan ini memang skenario yang disusunnya. Para 'bidak' hanya menjalankan narasi tersebut, dan nanti SBY akan menyusun pidato penuh simpati. Pidato abu-abu yang kurang biru, namun mampu membuat haru.

Megawati dan Jokowi juga bukanlah politisi kemarin sore. Keduanya sudah mampu membaca syahwat politik Demokrat. 

Mereka barangkali tersenyum sambil ngopi menyaksikan drama amatiran dipertontonkan kader-kader Demokrat di ruang publik. Sialnya nanti, malah Gerindra yang masuk dalam pemerintahan dan Demokrat menjadi oposisi amatiran.

Skenario itu bila Jokowi-Ma'ruf yang ditetapkan sebagai pemenang. Sebaliknya, jika Prabowo-Sandi yang menang, barangkali Gerindra akan membujuk PDIP dan Partai Golkar bergabung mengingat komposisi di parlemen. 

Lalu Demokrat dapat apa? Menurut saya, akan dapat pelajaran penting bahwa berpolitik juga perlu etika.

Artikel Terkait