Menjelang rekapitulasi hasil pemuli diumukan oleh KPU beberapa waktu lalu, Densus 88 telah menangkap terduga teroris. Berdasarkan rekaman video pengakuan teroris tersebut akan melakukan aksinya pada tanggal 22 Mei bertepatan dengan pengumuman hasil rekapitulasi pemilu 2019.

Selain pengakuan tersebut, video yang beredar di masyarakat tentang pengakuan kedua teroris itu juga memuat penyataan lian. Pernyataan itu adalah mereka akan meledakkan bom sebagai respon saat pesta demokrasi tanggal 22 Mei berlangsung yang mereka klaim sebagai Syirik Akbar.

Aksi tersebut dapat membuat siapa saja menganggap Islam sebagai agama kekerasan. Dengan bukti aksi teror bom yang terus menakut-nakuti masyarakat Indonesia. Apakah anggapan tentang berjihad dengan cara meledakkan bom sudah tepat? Dan satu hal lagi yang menjadi tanda Tanya besar, Apakah demokrasi itu Syirik Akbar?

Jika seseorang mengerti tentang perjalanan demokrasi dari awal pembentukannya hingga saat ini, maka kecil kemungkinan ia akan menganggap demokrasi sebagai sebuah kesyirikan. Bahkan mungkin anggapan tersebut tidak ada sama sekali dan kita bisa hidup dalam kedamaian tanpa ketakutan dihantui aksi teror.

Syirik Akbar artinya menduakan Allah dan memalingkan ibadah kepada selain Allah. Syirik Akbar adalah syirik yang dosanya tidak di ampuni oleh Allah sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Perbuatan yang biasanya dianggap sebagai syirik akbar adalah menganggap adanya tuhan selain allah.

Sebab syirik akbar seseorang harus disucikan kembali keimanannya karena dianggap telah kafir. Orang yang melakukan syirik akbar akan membuatnya keluar dari Agama Islam dan menetap di nereka jika ia meninggal sebelum bertaubat.

Dari pengertian syirik akbar tersebut penulis menduga alasan pelaku teroris yang mengklaim demokrasi adalah syirik Akbar, mereka beranggapan bahwa Negara Indonesia telah melenceng dari Islam. Islam yang mereka maksud adalah negara yang menggunakan sistem Khilafah sebagaimana zaman Rasul dahulu.

Beberapa waktu lalu pembaca mendapatkan informasi dari sebuah buku, yang mengatakan bahwa pelaku teroris memiliki pemahaman radikal tentang demokrasi. Pemahaman tersebut menyimpulkan bahwa demokrasi adalah sesuatu yang wajib di tolak karena demokrasi berasal dari barat dan liberal.

Negara Indonesia tidak menggunakan sistem khilafah seperti yang mereka inginkan, melainkan menggunakan sistem demokrasi. Oleh karena itu perbuatan tersebut dianggap tidak mematuhi perintah allah yang berarti menduakan Allah, dan mereka meganggap itu sebagai kesyirikan.

Mereka beranggapan orang yang telah malaksanakan demokrasi adalah orang yang kafir dan darahnya halal untuk dibunuh. Sebenarnya hal semacam ini hanyalah berupa kegagalan dalam memahami Agama Islam.

Masalah tentang demokrasi ini telah banyak dibahas dalam berbagai kesempatan. Hasil dari pembahasan tersebut menyatakan bahwa demokrasi adalah sistem yang sangat Islami karena menggunakan prinsip musyawarah sebaagaimana yang telah diperintahkan dalam al-Quran “Wa Syawirhum Fil Amr”.

Menurut beberapa survey orang yang melakukan aksi terorisme biasanya berasal dari orang yang tidak mempelajari agama, dalam arti bukanlah santri yang telah mondok dalam jangka waktu yang telah matang dalam mempelajari agama Islam. Kebanyakan orang-orang yang berprilaku teroris adalah orang yang belajar agama dalam jangka waktu pendek dan mereka merasa telah paham terahadap agama.

Seorang dokter telah diakui kelimuannya dan diizinkan membuka praktik ketika ia telah mengantungi jenjang pendidikan lebih dari S1. Seorang dokter harus mengenyam bangku pendidikan setinggi-tingginya agar ia dapat membantu orang lain dengan ilmunya. Perjalanan dokter agar bisa membuka praktik sendiri membutuhkan waktu yang panjang.

Lalu mengapa orang yang baru belajar agama dengan waktu yang singkat dapat memberi fatwa? Bahkan cara mempelajari agama tersebut hanya dengan mengikuti pesantren kilat atau menonton ceramah di Youtube. Bisakah orang yang belajar agama dengan waktu dan cara seperti itu memberikan fatwa dan mengkafirkan orang lain?

Apakah cara mereka untuk merespon ke  yang menurut mereka kemungkaran juga salah, karena didalam islam telah diajarkan tentang bagaimana berdakwa yang baik. Nabi say ajika disuruh berperang pasti nggak mau, pasti lebiih memilih jalan damai terlebih dahulu seperti bermusyawarah hingga mendpaatkan kesepakatan yang baik tanpa adanya pertumpahan darah.

Jika melihat negara di Timur Tengah yang banyak gagal dalam melaksanakan sistem pemerintahan demokrasi maupun lainnya karena beberapa alasan. Negara kita telah berhasil membangun negara berdemokrasi yang damai, hal ini adalah sebuah keberhasilan yang patut dibanggakan.

Penulis melihat sebuah kutipan dari buku yang berjudul “Belajar Islam di Kanada (sebuah pengalaman)” kata pengantar dalam buku tersebut berbunyi “terima kasih untuk semua orang yang telah membuatku mengerti bahwa Islam yang sebenarnya adalah yang menerima moderenisasi”. Dari nama gelar dalam nama pengarang buku tersebut dapat diketahui bahwa orang yang menulis buku itu adalah orang yang memiliki pendidikan tinggi.

Seseorang yang telah mengenyam pendidikan jenjang tinggi dan telah belajar banyak hal telah berkata demikian. Lantas apakah pantaas jika seseorang yang berpendidikan rendah bahkan tidak mencicipi bangku pendidikan khususnya pendidikan agama sama sekali berani mengkafirkan orang lain? Dan membuat fatwa seolah-oleh agama Islam adalah agama pedang?

Hal yang telah kita bahas diatas akan lebih baik jika menjadi renungan, dibandingkan dengan ikut menyebarkan sesuatu yang kita tidak tahu dari mana sumbernya dan kebenrannya. Sebaiknya kita menanamkan jiwa perdamaian dalam diri kita, agar kita semua selalu hidup bersama dalam kedamaian dan ketentramaan.