Berbicara tentang Demokrasi Kampus, pastilah tak asing lagi bagi para mahasiswa/i terkhususnya yang mengenyam pendidikan Perguruan Tinggi atau kampus. Dan pastinya merekapun tahu apa itu "Demokrasi Kampus". Namun sedikit mengulang dan mengingat kembali, Demokrasi kampus adalah demokratisasi yang bermakna keterlibatan aktif di dalam suatu menjalani kegiatan yang di dalam kampus, baik seluruh elemen kampus.

Seperti didalamnya terdapat atau di mulai dari birokrat kampus, pegawai-pegawai kampus, dosen-dosen, karyawan yang ada, dan tidak lupa pula mahasiswa/i di dalamnya, yang di mana hal tersebut terbingkai di dalam kehidupan bermasyarakat, dalam ruanglingkupnya Universitas, Institut, atau pun juga lembaga akademisi lainnya dalam hal dunia kampus.

Di dalam definisi Demokrasi, yakni prinsif penyelenggaraan yang di dasari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Oleh sebab itu, sewajarnya lah jikalau penyelenggaraan kehidupan kampus "harus" demokratis, yakni dengan adanya semisal di dalam bentuk, "dari, oleh, dan untuk" untuk sebuah sivitas akademik yang sebagaimana analoginya seperti itu di atas, seperti halnya rakyat di dalam demokrasi Negara.

Kita juga mengetahui bahwa, kamous merupakan miniatur negara. Artinya sebuah ranah kampus yang memiliki bagan-bagan yang bersifat birokrasi secara demokrasi. Baik di dalam halnya semua itu memiliki peranan penting yang sama-sama pentingnya di dalam sebuah sistem yang ada. Sampai saat ini, demokrasi kita tahu bahwa juga merupakan suatu retorika yang masih menjadi sistem yang digunakan oleh negara kita ini (Bangsa Indonesia).

Kita tidak dapat pula menutup mata kita, bahwa proses demokrasi di negera kita ini masih terus berkembang dengan pesat dengan hal ini melalui berbagai pola atau sistem yang digunakan di negera ini, baik yang berhubungan dengan adanya proses seiringnya perkembangan dan kemajuan zaman.

Semisalkan, melalui dari miniatur demokrasi yang ruangliangkupnya kecil sampai keranah ruanglingkupnya lebih besar. Contohnya, di dalam proses sistem pemilihan kepada desa, hingga pemilihan presiden (pilpres) juga membuktikan bahwa adanya sistem demokrasi yang dilaksanakan secara langsung. Dalam hal ini juga selama ini, kampus atau perguruan tinggi di mata masyarakat memberlakukan atau menganggap sebagai organisasi yang sudah mulai mengangkat nilai-nilai demokrasi secara benar dan tersistem.

Begitu halnya, ketika nampak dari berbagai aksi yang telah dilakukan oleh mahasiswa seperti unjuk rasa yang mempunyai dasar semata-mata telah menjalani dan melaksanakan tugasnya, menyuarakan amanat rakyat atau suara rakyat. Kita juga tahu bahawa, dari berbagai macam teriakan yang dilakukan oleh mahasiswa ditataran masyarakat dan juga ditataran pemerintah, memang selalu terlihat betapa demokrasinya dunia kampus atau perguruan tinggi tersebut.

Kita juga melihat kembali di dalam sejarahnya, bahwa ruanglingkup perguruan tinggi sangatlah erat kaitannya dengan kemerdekaan negara ini dari belenggu kaum otoriter. Sehingga, tidak menutup kemungkinan perguruan tinggi atau kampus layak di sebut dengan sebutan "Macan Demokrasi" atau juga " Miniaturnya Negara".

Mahasiswa merupakan golongan masyarakat yang terdaftar di dalam data atau administrasi perguruan tinggi. Memiliki pandangan dan intelektual yang begitu luas wawasannya, untuk bergerak di berbagai bidang aspek kehidupan di masyarakat. Juga selain itu merupakan suatu generasi yang bersinggungan lansung dengan bidang akademisi serta bidang lainnya.

Dan hal ini juga dalam bidang sistem demokrasi kampus, kelangsungan mahasiswa yang berada di dalamnya secara tidak langsung melakukan pembelajaran politik. Ya, walaupun dapat di bilang tataran politiknya praktis, tidak dibolehkan masuk di perguruan tinggi. Demokrasi yang terjadi di dalam dunia kampus misalnya, dari segi miniatur pemerintahannya, dengan jabatan rektor sebagai presidennya, serta dosen dan mahasiswa, juga kayawannya sebagai bagian dari warga masyarakat negaranya.

Namun sangatlah disayangkan, mahasiswa yang diibaratkan sebagai rakyat di suatu lembaga kampus atau perguruan tinggi, kerap kali tidak di perhatikan hak dan suaranya dan hanya biasa diam ketika dalam halnya pemilihan rektor di perguruan tinggi tersebut. Kenyataan yang ada, mahasiswa hanyalah diberikan informasi pemilihan rektor, itupun setelah terpilih dan baru diberitahikan kepada mahasiswanya tanpa ada mengikut sertakan suara mahasiswa.

Sedangkan, mahasiswa yang didalamnya termasuk mimiatur negaranya atau kampus, yang diposisikan sebagai masyarakat di tempat perguruan tinggi tersebut. Seharusnya kalau seperti itu, nahasiswa berhak untuk ikut serta andil dalam proses pemilihan rektor yang sesuai dengan apa yang menjadi aspirasi dari mahasiswa.

Ya, memanglah pada dasarnya, setiap kebijakan dan keputusan yang dikeluarkan atau dilakukan oleh rektor akan memiliki imbas dampak kepada mahasiswa. Setiap apapun keputusan yang dilakukan oleh miniatur pemerintahan kampus, harusnya selalu mencari kesepakatan bersama, dan mahasiswalah sebagai masyarakat yang akan menjalani hasil-hasil dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan atau disahkan.

Dan jelas bahwa, di dalam kampus atau perguruan tinggi sekalipun sangatlah penting adanya demokrasi kampus ini. Ibarat kata, kalaupun dalam hal ini tidak terealisasikan dengan benar dan baik maka kampus tak punya jiwa, kampus hanya akan mengalami kematian hakikat kampus yang sebenarnya. Akan mengalami kematian kampus yang di mana hal ini dipertandai dengan adanya kematian berbagai tradisi di kampus atau perguruan tinggi.

Misalkan saja seperti tradisi melakukan kritikan dan di barengi dengan sebuah saran demi mencapai suatu solusi dan tujuan yang satu oleh kesepakan bersama. Namun, kematian disini hanyalah sebuah symptom (permukaan), yang hanya menyembunyikan gejala yang sebenarnya dan lebih mendasar, seperti halnya akan membuat berbagai masalah dan bahkan bencana menghampiri di dalam sistem kampus itu sendiri.