Beberapa negara seperti Cina, Kuba dan Korea Utara memilih Komunis. Beberapa negara lain juga seperti Inggris dan Brunei Darussalam memilih Monarki, dan negara-negara yang tidak memilih Komunis dan Monarki. Seperti Prancis, Amerika dan juga Indonesia adalah negara yang memilih Demokrasi.

Baik Komunis, Monarki atau pun Demokrasi. Ketiganya dapat dikatakan sebagai landasan yang dinilai "ideal" dan memiliki diferensiasi dalam berbagai bidang, dalam kurun waktu satu abad terakhir untuk menjalankan roda pemerintahan dan Politik dalam suatu negara.

Begitu juga dengan Indonesia paska Reformasi tahun 1998-1999. Gema Reformasi itu, yang menumpahkan ribuah bahkan jutaan Mahasiswa dan Masyarakat ke jalanan -- dan menjadi salah satu kronik paling revolusioner yang menggagas kemerdekaan dan kemajuan berpikir -- dalam rangka melakukan aksi demonstrasi atau, dengan kata lain ingin meruntuhkan Rezim Orde Baru yang, sudah berkuasa sekitar 3 dekade lebih dengan gaya khas Otoritarianisme atau kekuasaan politik yang hanya berpusat pada satu pemimpin.

Singkatnya, aksi demonstrasi tersebut adalah bentuk "persalinan" untuk melahirkan Demokrasi yang saat ini genap berusia dua puluh tiga tahun di Indonesia. Demokrasi menjadi pilihan dan sekaligus antitesis terhadap Orde Baru. Sebab, Demokrasi merupakan pandangan yang "menjamin" hak setiap warga-masyarakat dalam menjalankan setiap aktivitas dan kegiatan dalam hidup bernegara. Sederhananya, secara filosofis, demokrasi membari ruang untuk kebebasan berpikir, berpendapat dan berekspresi bagi setiap individu.

Akan tetapi, kelahiran atau kemunculan Demokrasi tidak bisa disederhanakan sebagai "resolusi" atau semata kemerdekaan dan kemajuan berpikir. Melainkan, Demokrasi justru adalah "persoalan" lain atau baru. Lebih tepatnya, Demokrasi tetap melahirkan kontradiksi atau kontra naratif, karena akan selalu ada dialektika dalam masyarakat. Dialektika yang dimaksud, adalah perbedaan pandangan atau pelbagai pendikotomian yang mengikuti alur subjektifitas yang niscaya dalam masyarakat (dan individu).

Alur subjektifitas itu, sebagaimana banyak ditemui dalam realita dan terutama di dinding-dinding beranda Media Sosial seperti Facebook, Twitter, Instragram dan lain sebagainya sebagai salah satu sarana berinteraksi paling intens dan eksklusif yang rata-rata digunakan secara normatif oleh manusia di zaman kiwari ini.

Dengan maksud, alur subjektifitas yang sekaligus "memicu" lahirnya berbagai fenomena Politik dalam masyarakat yang, dalam soal ini tidak dapat dilepaskan dari Demokrasi sebagai landasan bernegara. Dalam arti, Demokrasi dengan segala itikad kebebasannya, termasuk kegiatan dan aktivitas Politiknya. Di lain pihak, justru seolah memberi ruang yang cukup luas dan terbuka atau "sisi gelap" yang  mengarahkan manusia pada kejahatan-keburukan. 

Apa yang dimaksud dengan sisi gelap, adalah sesuatu yang terkait atau disebabkan oleh Hasrat Individualistik pada manusia, yang disebut sebagai  "Thymos", yang bagi saya cukup sederhana, namun sangat kompleks dan kompetitif.

Apa yang disebut dengan Thymos adalah "sense of worth self" atau rasa harga diri atau sebuah tuntutan sebagai seorang manusia yang harus diakui. Thymos, yang sederhananya adalah hasrat untuk diakui sebagai subjek yang superior dibandingkan dengan yang lainnya. Yang pada awalnya Thymos diletakkan pada kerangka Agitasi Politik di zaman Yunani sekitar abad ke 5 sebelum Masehi. Kerangka itu sebagaimana yang dikatakan Socrates, bahwa "Thymos adalah kebajikan politik bawaan." Dalam artian, kebajikan politik bawaan diperlukan bagi setiap kemunitas politik, untuk menarik kehidupan seseorang dari "hasrat" pribadinya untuk menuju hasrat atau kepentingan bersama.

Namun, Thymos kemudian dinilai berpengaruh terhadap keputusan-keputusan moral yang niscaya pada manusia. Thymos juga dilihat atau kemudian "disingkronisasikan" pada sebuah kata yang berakar dari bahasa Yunani kuno -- untuk menarik sebuah argumen yang lebih jelas dan kuat -- yakni Megalothymia dan lawannya adalah Isothymia.

Megalothymia yang diinterpretasikan secara historis dan universal, dengan mengambil contoh pada invasi dan ekspansi Tiran yang berkuasa untuk memperbudak orang-orang disekelilingnya. Sehingga mereka akan memperoleh keotoritasan mereka atau, bilamana seorang komponis atau pianis dalam sebuah mega konser yang ingin diakui sebagai seniman terkemuka. Sedangkan Isothymia, adalah lebih pada sebuah hasrat yang ingin diakui sebagai makhluk yang sejajar dengan yang lainnya.

Maka, dapat dikategorikan, bahwa Megalothymia adalah sebuah nafsu yang sangat problematis dalam realita politik dewasa ini, yang jika seseorang telah mendapatkan pengakuan secara personal, maka ia bisa saja akan menuju pada pengakuan yang bersifat universal atau dengan kata lain, "diakui oleh semua orang akan jauh lebih memuaskan."

Selain itu, Megalothymia juga secara determinis dapat dikatagorikan sebagai titik tolak konflik pada manusia dalam realita (dan dalam dunia virtual). Apalagi dengan pemuktahiran teknologi yang meroket sejak satu dekade terakhir ini yang, sekaligus menyebabkan lahirnya Demokrasi liberal atau sama dengan liberalisme modern.

Megalothymia dalam filsafat politik Barat sering dikaitkan dengan seorang Nicolo Machiavelli (1469-1527). Machiavelli dapat disebut sebagai pendiri filsafat politik modern, yang memiliki kepercayaan bahwa manusia bisa menjadi tuan di rumahnya sendiri. Dalam kamus Etika Politik Machiavelli -- yang mengejutkan dalam hakikat Politik -- adalah "lebih baik ditakuti daripada dicintai." Selain itu, jika seorang Platon, mencoba membuat manusia menjadi lebih baik melalui "pendidikan". Machiavelli justru beranggapan bahwa manusia bisa melayani tujuan-tujuan baik, sekalipun dengan cara-cara kejahatan-keburukan.

Machiavelli menjadi ikon penting dalam meneropong Etika Politik, khususnya di Barat. Machiavelli, semacam mengarahkan manusia pada ambisius untuk menuju Tirani, dan yang lainnya justru menuju perbudakan. Dengan maksud, dalam berbagai fenomena Politik, wabilkhusus di Indonesia, dalam setiap kontestasi Politik atau dalam pesta akbar Demokrasi, apalagi saat menjelang Pilpres, yang sekalipun diagendakan dengan debat atau diskusi terbuka. Tetapi tetap saja menggiring "opini publik" dan simpatisan Politik ke dalam Megalothymia atau sebuah Hasrat untuk diakui lebih dari yang lainnya dalam realita Politik.

Kontestasi Politik itu, saya pikir lebih tetap meminjam sebuah ilustrasi atau pertanyaan ontologis pada sifat politis manusia dari Erich Fromm, seorang psikoanalisa, juga seorang humanis abad ke 20 M berkebangsaan Jerman. Bagi Fromm, manusia seringkali "diperdebatkan" sebagai Domba atau Srigala? Domba dimaknai sebagai sekelompok orang-orang yang mudah terpengaruh, mereka mengikuti satu tokoh pemimpin dengan apa pun yang bagus mereka dengar dan sekaligus dijadikan tujuan-rujukan. Sedangkan Srigala, adalah seperti yang dikatakan Thomas Hobbes, "homo homini lupus" atau manusia adalah Srigala bagi manusia yang lainnya. Dengan maksud, bahwa manusia cenderung dengan sifat penghancur, otoritatif dan eksploitatif.

Ataukah justru manusia adalah elaborasi yang subtil dari keduanya? "Srigala berbulu Domba," pada rata-rata sifat normatif dan alamiah pada diri manusia sebagai makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial-Politik.

Dengan demikian, Thymos (dan juga Megalothymia) merupakan sebuah diskursus yang memerlukan "penjinak" pada diri (Hasrat) manusia dalam menelaah Demokratisasi di Indonesia.  Atau dengan kata lain, untuk menempatkan dan menembus Isothymia terhadap pemahaman transformasi Demokrasi yang masih terbilang dini di negera ini.

Sehingga, dalam soal Etika Politik dan Megalothymia yang menyangkut moralitas dalam hidup bernegara dan sebagai makhluk sosial dan Politik. Persoalan ini, seperti yang saya katakan sebelumnya, "sederhana namun sangat kompleks dan kompetitif".

Oleh karena itu kiranya perlu untuk menyimak Friederich Nietzsche yang terkenal dengan salah satu doktrinnya, yakni "kehendak untuk berkuasa," yang kemudian ditafsirkan atau ditegaskan sebagai Thymos (atau Megalothymia) dalam melawan hasrat dan pikiran manusia -- yang barangkali, sekarang ini seorangpun tidak mempelajari Thymos dalam soal "perjuangan untuk memperoleh pengakuan" dan bukanlah sekadar bagian dari kosa kata untuk melengkapi kepentingan Politik -- sehingga itu bagi seorang Nietzsche, semua itu tidak lebih "untuk melepaskan kerugian bahwa liberalisme modern yang hanya dilakukan untuk kebanggaan manusia dan kepentingannya sendiri."


Tabik 

Khadafi Moehamad 

Bintau - Ramadhan, 2021


Referensi:

1. The End of History and The Last Man: Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal (Penerjemah: M.H Amrullah)