Beberapa bulan lalu, saya sempat terlibat dalam sebuah operasiasi SAR Gunung Arjuno untuk pencarian seorang survivor yang hilang. Sebagaimana tradisi Sarduk (Sar dukun), akan banyak ritual yang menyertai operasi tersebut.

Target operasi atau survivor yang tak kunjung ditemukan memancing prediksi-prediksi nonteknis dengan berbagai macam aroma mistisnya. Akan selalu ada sosok hantu, gaib, supranatural yang dihadirkan dalam setiap cerita kehidupan agar supaya orang menghindari perbuatan jahat. 

Hantu menjadi langganan untuk mewakili konversi perbuatan jahat nan berdosa. Pemirsa, pembaca, peserta, dan siapa pun itu, dipaksa untuk memetik sari cerita horor tersebut. Dan terjebaklah mereka dalam heroisme protagonisnya.

Pun, saya waktu itu, tim Sarduk diberangkatkan dengan aksi kesurupan seorang praktisi supranatural perempuan yang masih belia. Boro-boro terpukau, malah pikiran saya ngeres dengan lekuk tubuhnya yang meliuk-liuk melayani hentakan dunia lain.

Tak habis di situ saja, tim anggota tim diberi penjelasan bahwa nanti akan ketemu ini dan di sepanjang trek. Mulai dari selendang terbang hingga anak kecil misterius.

Kami pun diberi minuman bertuah sebelum berangkat; yang katanya: jika meminum ini, maka kalian akan sampai di pos Kokopan kurang dari satu jam!

Pikirku, seorang trail runner tertangguh pun pasti lebih satu jam melahap trek berbatu kejam itu. Waktu tempuh normalnya 4-5 jam. Apakah benar bertuah minuman itu?

Seperti biasa, faktor sugesti telah membuat langkah kami cepat dari biasanya. Itu pun saya rasakan selama sepuluh menit pertama menelusuri trek.

Setelah itu, pimpinan tim yang berambut gondrong dan bongsor itu, ambruk. Dengan segebok alasan, mulai dari alasan dililit ular hingga berasa beratnya kaki. Ya, tentu, postur gendut gitu kok dipakai kecepatan tinggi, sih!

Siapa pun akan ambruk kalau awalan sebuah pendakian yang begitu tiba-tiba dan cepat sekali. Ini pendakian gunung, Bung! Bukan lari 100 meter.

Tim Sarduk akhirnya dikembalikan kepada pimpinan yang teknis. Juga tidak ada barang dan sosok-sosok menakutkan yang muncul seperti yang dijanjikan paranormal seksi tadi. 

Semua biasa saja, seperti yang sudah-sudah, suhu dingin dan kelelahan yang mencekam. Bukan hantu yang mencengkeram nalar.

Sepertinya, semua kembali pada teknis: siapa yang mampu mengontrol diri dan lingkungannya, dialah yang bertahan. Siapa yang terbiasa kuat berjalan, ia tak mudah terhenti dan ambruk seperti si Gondrong itu.

Pemuja mistis dan hantu tak akan bertahan dalam ganasnya alam pegunungan. Sudah banyak paranormal yang berjaya di perkotaan, namun ampun-ampun praktik di hutan dan gunung.

Latihan fisik dan keterampilan survival jelas lebih berharga dari dupa, menyan, kembang, mantra, dan jampi-jampi.

Kekinian, hantu sepertinya sudah menjadi bagian yang populer. Film, musik, lembar keagamaan, dongeng, fabel, hingga karya tulis tak lepas dari sosok hantu. Saking gemasnya, dinamika ceritanya melebar dan melantur hingga pada tren hantu yang menghibur, protagonis, dan hantu yang lucu-lucu.

Hantu telah menjadi barang dagangan yang laris manis. Anatomi yang menakutkannya telah berhasil direduksi. 

Taring, kuku tajam, mimik horor, postur gigantis, suara, dan jiwa demonnya diganti dengan piranti-piranti mutakhir hingga pada anatomi yang seksi ala metroseksual yang merangsang hingga yang imut menggemaskan.

Kini, saatnya demonologi ditempel dengan ciri baru, yakni hiburan sensasional, sekaligus barang dagangan yang menguntungkan. Demonologis harus mengalami demistifikasi; sebuah upaya untuk menghilangkan sesuatu yang selama ini dianggap mitos, legenda, tabu, dan sakral.

Tren creepypaste di mana legenda, cerita atau apa pun yang berbau horor seharusnya kita cukupkan sampai di sini saja. Cerita-cerita paranormal untuk menakut-nakuti para pembaca, kini saatnya kita senyumin saja.

Perkembangan ilmu pengetahuan modern memang telah menyingkirkan ciri menakutkan dari hantu. Proses ini merupakan salah satu ciri dari kekuatan demistifikasi. Ciri mistik dan tak terjelaskan lambat laun akan lenyap.

Hantu sepertinya kini berjalan limbung menghadapi bagian kehidupan sehari-hari yang normal, dan bahkan sudah dianggap membosankan. Hantu adalah ciptaan pikiran yang lemah. Ia dapat dipahami sebagai proyeksi dan cerminan pikiran manusia sendiri, termasuk imajinasi, ketakutan, dan harapannya.

Ketika pikiran manusia kacau dan lemah, misal: kelelahan, sedih, stres, teearancam, terangsang, terbuai, atau sedang terjebak pada banyak masalah, maka ia akan memproyeksikan keadaan batinnya keluar dalam bentuk bayang-bayang kecemasan.

Jadi jangan heran, pribadi-pribadi macam ini begitu mudah melihat hantu bergentayangan dalam kesehariannya. Hantu kebodohannya sendiri.

Hantu juga merupakan proyeksi yang mudah diciptakan dari sebuah harapan yang laten. Ia akan menjadi ekspektasi-ekspektasi yang tak terjangkau. 

Karena hantu begitu erat terkait dengan pikiran manusia, maka hantu  pun tak akan pernah bisa disingkirkan. Bayang-bayang dan ciri anatomis mistiknya yang menakutkan, dan tak terjelaskan, akan tetap menghantui manusia, meskipun dia sudah punya Tuhan. 

Ilmu pengetahuan modern dan teknologi memang menipiskan pengaruhnya. Namun, ia tak akan pernah sungguh lenyap seluruhnya, karena pikiran lemahnya yang selalu melestarikan keberadaannya.

Hantu akan terus membodohi manusia dalam jelmaan yang bermacam. Mulai dari khas legenda urban (urban legend) hingga mitos atau legenda kontemporer yang sering kali dipercaya secara luas sebagai sebuah kebenaran dan ketenaran.

Sebagaimana Tuhan, hantu adalah sesuatu yang tak bisa dipikirkan, namun begitu menakutkan. Ia tak terjelaskan, samar, dan, bahkan, mengerikan sekali.

Hantu adalah subjek murni yang tanpa materi. Sebagaimana konsep roh (Geist) ala filsafat Hegel. 

Hantu di dalam ilmu pengetahuan modern banyak diartikan sebagai sesuatu yang tak terjelaskan. Tidak ada yang sungguh paham asal-usul, dimensi, anatomi, aksi-reaksi, dan pola kerjanya. 

Namun, eksistensinya mengisi sebagian besar alam pikiran manusia dan alam semesta, dan bahkan telah menjadi unsur penting di dalam berketuhanan.

Hantu itu dianggap mengerikan, karena ia tak terjelaskan. Keadaan tersebut membuat hantu menjadi sesuatu yang menarik untuk diteliti, bukan sebaliknya, menjadi Tuhan yang menakutkan.

Ia tidak memiliki dasar material. Namun, ia tetap ada, muncul, dan memengaruhi pola nalar dan pola hidup manusia.

Hantu juga adalah lambang dari ketidakpastian dalam hidup. Ia menghancurkan rutinitas, menutup pintu logika, membelenggu kebebasan, dan menjadi tiran yang disembahi.

Hantu adalah kejutan tanpa henti. Hantu adalah anomali pikiran lemah dan nalar yang lumpuh.

Hantu merupakan bagian dari kehidupan orang yang melestarikannya, maka ia tak akan bisa ditolak olehnya. Menindas anomali yang telah diciptakan oleh kelemahan nalar, berarti menindasi ciri spontan dari kehidupan bodohnya sendiri. 

Hantu adalah kegemparan perjumpaan-perjumpaan yang tak terduga, sekaligus tipuan yang tak disangka bagi pemujanya.