Pembatas antara masa lalu dan masa kini alangkah tipis. Satu detik yang lewat adalah masa lalu bagi kita. Tak akan bisa diulang kembali.

Kita menyepakati penyebutan masa dengan satuan waktu. Dalam waktu, ada perhitungan-perhitungan universal yang telah baku menandakan terciptanya hari, minggu, bulan, dan tahun.

Yang paling dasar atau kecil dalam satuan waktu disebut sekon atau detik. Namun sangat disayangkan, detik tak pernah dianggap penting. Ibarat uang, detik ialah koin receh kembalian belanja yang sering diikhlaskan oleh pemiliknya.

Lho, kok bisa?

Iya, tak bisa dimungkiri, memang seperti itulah adanya. Satu detik yang berlalu dianggap santuy. Berbeda ketika satu jam, pasti timbul kepanikan.

Misalnya, terlambat bangun satu detik termasuk kategori wajar atau sangat wajar atau malah tidak penting. Coba bayangkan jika terlambat bangun satu jam dan ada presentasi di kelas, pasti panik luar biasa bukan?

Padahal, satu jam itu tersusun atas 3600 sekon. Sadarkah jika satu detik yang sering dianggap remeh merupakan bagian dari penyusun "waktu berharga" kita?

Menganggap remeh hal-hal kecil barangkali sudah mengakar. Biasanya, hal tersebut ditandai dengan kata-kata meremehkan seperti, "Ah, cuma ..."

"Ah, cuma satu detik," atau, "Ah, cuma seratus perak," atau, "Ah, cuma belajar sama ibu itu, santai saja."

Kebiasaan meremehkan segala sesuatu sesungguhnya merugikan diri sendiri. Kenapa? Berawal dari menganggap tak penting hal-hal kecil akan merambat kepada hal-hal besar atau pokok dalam kehidupan. Lama-kelamaan menjadi budaya negatif.

Kelanjutan dari meremehkan biasanya "merasa" diri sudah lebih baik dari yang lain. Nah, ini yang akan menghambat kita untuk terus belajar dan membenahi diri.

"Untuk apa belajar, jika seperti ini saja sudah baik?"

Pertanyaan (atau kesombongan) di atas sangat berbahaya. Akan terjadi penurunan karakter diri. Yang seharusnya bisa berkembang lebih baik, malah akan menurun drastis.

Demi waktu, detik per detik nan sama berharganya jam per jam. Kita hidup dalam dua masa, masa lalu dan masa sekarang.

Detik berlalu bak kilat, sehingga masa lalu tanpa terasa terus bergulir. Dari sini aku mulai belajar, ternyata masa lalu bukan hanya berkisah keadaan diri lima tahun lampau atau kenangan mantan dan sebagainya. Pergantian detik telah menciptakan masa lalu demi masa lalu.

Oleh karena itu, makin tercipta perasaan sedih. Satu detikku telah berlalu sia-sia. Bahkan terkadang aku pun juga "tak menganggapnya ada".

Ada ungkapan time is money. Ya, sekecil apa pun nominal uang, tetaplah berharga. Sekalipun uang logam atau receh, jangan disepelekan. Ungkapan ini menjelaskan jika waktu sama berharganya dengan uang, pun detik per detiknya.

Betapa banyak orang-orang kurang beruntung yang menunggu recehan di lampu-lampu merah, sementara kita menyepelekan tiap logam kembalian dari belanja di pasar. Betapa banyak yang mengais sampah demi ratusan perak, sementara kita entah melemparkannya ke mana.

Betapa banyak orang-orang menyepelekan waktu berkumpul bersama keluarganya, sementara di luar sana ada yang harus menempuh jarak jauh demi pulang ke rumah.

Pada skala sosial, akan timbul perasaan meremehkan dan membeda-bedakan orang lain. Meremehkan orang yang status sosialnya lebih rendah. Bukankah ini juga bentuk-bentuk "meremehkan"?

Sama seperti meremehkan waktu. Segala bentuk "meremehkan" akan menjalar ke kasus-kasus lain dalam kehidupan ini.

Tulisan ini terlahir dari perasaan bersalahku. Sama sekali bukan bermaksud menggurui, bukan! Hanya ingin berbagi dan jangan sampai ada perasaan-perasaan bersalah lain dari "aku-aku berikutnya".

Menyoal waktu, itu artinya sedang membicarakan "perjalanan di dunia". Bahwa dari satu detikku terdapat kontrak usia terhadap Pencipta. Renungan saat ini, "Apa yang akan kujawab kepada-Nya jika suatu saat aku diadili?"

Bohong rasanya jika tak pernah terlintas akhir dari hidup ini. Sedangkan sudah terlihat jelas yang bernyawa pasti akan menemui pemutusan napas. Sudah menjadi hukum alam.

Jadi, betapa berharganya detik per detik dalam hidup kita. Di dalamnya terkandung dua masa yang bisa kita kendalikan, satu detik lalu dan detik sekarang. Sedangkan detik berikutnya penuh keabsurdan, tempat kita menyemai harapan dan doa-doa baik.

Aku merasa sangat bersalah atas hitungan usiaku yang kurang dimanfaatkan secara maksimal. Jutaan detik demi detik hilang begitu percuma.

Jika saja aku menyadari ini sebelum kehilangan detik-detikku begitu saja, pasti akan berbeda ceritanya. Tapi, penyesalan memang selalu di akhir (kalau di awal namanya pendaftaran dong, hehe).

Maka dari itu, aku ingin berbagi agar meminimalisasi penyesalan berikutnya. Berbicara tanpa memberi solusi takkan berarti apa-apa. So, berikut akan kubagikan kisahku sekaligus solusinya untuk pembaca tercinta.

Pertama, pasti ada dorongan perasaan ingin melakukan hal terbaik. Tapi, ada saja orang-orang yang menghalangi dan melarang-larang.

Jangan dengarkan mereka. Jika yakin itu baik dan positif, maka kejar dan lakukanlah. Atau, bila perlu, menjauhlah dari orang-orang yang akan membuatmu menyesal seumur hidup.

Yang kualami, seharusnya aku bisa menyalurkan hobi-hobiku dari dulu. Aku bisa berbagi tulisan jauuuh lebih dulu dari saat ini. Tapi, aku menghabiskan waktu dengan seseorang yang malah menjadi faktor penghambat.

Akibatnya, aku harus menata ulang hidupku dan mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai mimpi.

Kedua, jangan menunda keinginan melakukan kegiatan positif. Misalnya, jika hobi menulis dan tetiba muncul ide, langsung saja tulis.

Persiapkan buku saku kecil atau aplikasi tulis-menulis di gawai yang bisa dibawa ke mana-mana. Sehingga saat terlintas topik tulisan bisa langsung dituangkan ke dalamnya.

Yups, inilah dua pengalaman berharga dalam hidup yang membawa langkahku untuk menghargai waktu. Dan, demi waktu, sesungguhnya ada pertanggungjawaban menjadi pribadi lebih baik dari detik lalu.