1 tahun lalu · 303 view · 3 menit baca · Cerpen 16675.jpg
Ilustrasi: Gus Mendem

Demi Pengabdian, Aku Rela

“Jika benar Tuhanmu menghendaki darahku, maka potonglah, sembelihlah, dan kurbankanlah aku. Demi kehendakmu, aku rela. Tak ada kuasa atas diriku selain daripadamu.”

“Maafkan ayah, nak. Tiada maksud hendak membunuh darah dagingnya sendiri. Sungguh, tiada Tuhan selain diri-Nya yang patut kita taati.”

Berbalut isak-tangis, mengepul jadi satu dalam rupa kesedihan, ayah relakan nyawaku dicabut demi-Nya. Aku sadar, ada kuasa lain yang lebih atas dirinya.

Pada ibu, hal serupa bisa kupandang, jelas tak tersamarkan. Ragam wajah muram itu sontak memberiku keberanian dan kekuatan, merelakan diri yang katanya demi pengabdian manusia pada pencipta-Nya.

Berbaringlah aku di tempat yang tersediakan. Meregang tubuh, bersiap pergi selama-lamanya.

Di tangan ayah, kulihat sebilah pisau nan tajam terhunus rapi. Sinarnya memantul memalingkan wajah pada pusat yang akan kutuju kelak. Karena sinarnya pula, aku lantas mengenang kembali kenangan indah saat dulu, bersama mereka yang sudah mengajariku banyak hal hingga menjelang penghabisan nafasku ini.

Aku masih ingat cerita ayah. Bersama ibu, bertahun-tahun mereka mengharap kehadiranku.

Saat aku lahir, mereka nyaris tak bosan-bosannya mengucap syukur berlebih. Baginya, diriku adalah satu-satunya karunia terindah yang pernah mereka dapatkan selama hidup menjalin kasih dalam rujutan berumah-tangga.

“Bu, anak ini adalah amanah dari-Nya. Kewajiban kita adalah merawatnya, mendidik sebaik-baiknya, sebagaimana Dia mendidik kita sebaik-baiknya pula.”

Sembari bersimpuh, ibu mengucap amin untuk kesekian kali. Aku mendengar itu, walau agak samar-samar. Ibu menangis dalam haru. Ibu bersedih dalam selimut kebahagiaan.

Ketika tiba saatnya aku dewasa, sedikit pun tak pernah aku rasai tangan kasar dari mereka. Kelembutan serta kasih sayangnya yang tak terbatas, seakan menjadikanku sebagai Maharaja di atas tahta segala-galanya.

Tapi, aku tak pernah bangga dengan semuanya. Justru pertanyaan besar yang mulai timbul dalam benakku. Bisakah aku membalas kebaikan dan kasih sayang mereka? Dengan apa aku hendak akan membalasnya?

Sepenuhnya aku lagi-lagi tersadar. Tak mungkin ada yang bisa kuperbuat untuk berlaku demikian.

Ah, kalian, membebananiku dengan utang yang tak terkira. Kasih sayang kalian melebihi segalanya, hingga aku sendiri tak mampu untuk berbuat sebaliknya.

Sudah, jangan bebani aku lagi! Aku takut, takut sebenar-benarnya. Cinta kasihmu, tak kuat aku memikulnya kelak.

 “Nak, jika besar nanti, kau harus menggantikan posisi ayahmu ini. Ayah sudah tua. Mendidikmu pun hampir tak kuasa lagi.”

Kata-kata itu terakhir kudengar dari seorang ayah yang sangat penyayang. Tapi mengapa semua itu harus berubah? Tak bisakah ayah menolak-Nya sedikit pun? Tak bisakah ia lari dari kenyataan yang menyakiti hati dan perasaannya sendiri? Kejam!

Lima belas tahun sudah hidup dengan orang yang kusayang dan menyayangiku. Luka goresan sedikit pun yang dialamatkan padaku hampir tak ada. Aku disayang, dimanja ibarat harta para orang kaya.

Aku masih tak percaya saja, mengapa orang yang menghendaki kehadiranku sedari awal, justru hendak meniadakanku setelah sekian lama berharap untuk kelahiranku ini? Tuhan, semua hanya karena-Nya. Serbasalah. Dan aku yakin, mereka sangat merasakannya juga.

Dengan tangis mereka menyambutku. Dengan tangis pula mereka melepasku. Aku hanya bisa berharap, Tuhan mampu berkehendak lain.

Tapi, apa yang bisa kuperbuat dengan diriku sendiri jika Tuhan sekalipun tak mampu juga berlaku sebagaimana yang kuharap? Hidup ini, pikirku dalam-dalam, memang selalu dibebankan atas nama kewajiban.

Untuk ketiadaanku, aku mungkin tak akan takut. Tapi, pada ayah, pada ibu, penyesalan besar sangat mungkin menghampiri keduanya.

Kasihan mereka. Hanya karena kewajiban, mereka berlaku sadis. Dan dengan hanya karena kewajiban pula, aku akan menerimanya. Tulus dan ikhlas.

Baktiku pada mereka melebihi apa pun. Aku lebih takut padanya ketimbang pada-Nya. Maka, kuterima putusan itu sebagai bukti pengabdianku pada orangtua. Pilihan selalu menyisahkan hal yang tak tergantikan. Mungkin itulah yang akan mereka rasakan jika kelak aku tiada.

Namun mimpi hanya sebatas mimpi. Menggapainya hanya bisa kulakukan di saat hidupku yang tak seberapa lama lagi ini. Aku hanya bisa berusaha memberikan pengabdian penuh kepada mereka yang telah memberiku hidup.

Meski bersama dalam waktu singkat, bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Minum air kehidupan pada dadanya, tidur nyenyak dalam dekapannya, semua harus kubalas meski harus kehilangan udara pagi lagi untuk kuhirup. Bakti dan pengabdian, itu yang kuputuskan.

 “Ayah, aku rela demi untukmu. Ibu, maafkan anakmu. Terimakasih telah memberiku hidup, dan terimakasih pula atas ketulusan kalian melepaskanku.”