1 bulan lalu · 260 view · 4 min baca menit baca · Pendidikan 87558_41307.jpg

Demi Literasi, Kertas Menolak Mati

Sungguh asyik membaca di internet, Memilih banyak jenis bacaan hanya dengan mengetik judul di kolom pencarian, membuka tiap halaman hanya dengan menggeser kesamping atau entah ke atas, semuanya ada disana, dikemas apik nan sempurna. 

Kita begitu dimanja, bebas membaca apa saja sesuai keinginan, belum lagi iklan-iklan yang begitu rajin dan kreatif. Dan disitulah masalahnya. Kita menjadi pembaca dengan semangat yang meletup-letup, hingga semangat kita melampaui batas. Kita membaca dengan rakus, karena rakusnya, bacaan kita tak pernah beres. Kita tak menuai apa-apa, kecuali kegelisahan untuk menemukan stop kontak listrik.

Nampaknya, segala sesuatu yang berlebihan ditakdirkan hanya untuk di sesali.

Betapa banyak di antara kita yang berniat membaca  novel tapi tiba-tiba mampir di sebuah bacaan bertajuk politik. Banyak di antara kita yang sedang asyik membaca sajak tapi tiba-tiba mampir di halaman bergambar anime kartun. Ada yang sedang membaca filsafat tapi berakhir di sebuah video resep memasak terong. 

Okey, kegelisahan seperti ini bisa saja di anggap kolot, toh teknologi sudah canggih. Ada web khusus membaca buku tanpa kekhawatiran ada iklan-iklan atau apa saja yang bisa membuyarkan konsentrasi, tapi bisakah kita menjamin elektronik kita menjaga halaman terakhir yang kita baca ketika tiba-tiba elektronik kehabisan daya? Tidak! Atau mungkin iya ketika kita memiliki cadangan batrei atau power bank, tapi bukankah power bank bisa lowbet juga?

Lucu bin jahat.

Tetapi kita enggan menyebut itu sebagai sebuah kesalahan. Dan kita berpura-pura mengatakannya asyik.

Padahal, itu adalah hal nilai dasar dalam filsafat keadilan. Tidak merugikan satu pihak dengan semena-mena. Tapi bukankah dalam hal ini kita telah semena-mena terhadap diri sendiri. Tak adil terhadap apa yang sebenarnya di harapkan otak kita.

Kita membaca dengan harapan mengumpulkan informasi dan pengetahuan, namun apa yang telah kita peroleh hanyalah ruang lapang yang hampahamp


Karena sebab itulah saya merasa penting untuk menanyakan ini. dalam hal berliterasi, pernahkah bacaan kita tuntas di internet?

Dari pertanyaan itulah tulisan ini berangkat. 

Saya faham, orang-orang tertentu akan menilai tulisan ini terlalu naif, mereka yang terlanjur terbiasa membaca di internet akan membela diri penuh gairah. 

Tapi tunggu dulu, saya tiba-tiba khawatir, jangan-jangan orang yang saya maksud bukan anda. Sangat lucu memperdebatkan sesuatu yang sesungguhnya diam-diam kita sepakati bersama.

Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang merupakan pembaca serius, mereka yang bersungguh-sungguh ingin memperoleh sesuatu dari bacaannya, mereka yang menyukai kertas demi literasi, supaya mereka tidak beralih ke internet sehingga tersesat disana.

Sekali lagi, bila anda seseorang yang menyukai internet karena sekedar membaca satu hingga dua paragraf. Sekedar membaca cerpen dan puisi-puisi pendek Berarti kita tak perlu berdebat. Kita berada di pihak yang sama. Saya juga lebih senang menggunakan internet untuk hal-hal yang seperti itu. 

Tapi bila bacaannya bertajuk filsafat, Novel, sebuah disiplin ilmu yang entah apa, dan segala bentuk bacaan yang memerlukan fokus, maka tentu saja saya dan kita semua seharusnya memilih kertas, dalam hal ini buku.

Bila anda adalah seorang sarjana entah tingkat berapa yang sedang melakukan penelitian, mungkin beberapakali  juga akan menggunakan internet, tapi lebih dari itu, anda seharusnya punya buku sebagai referensi. Kalau anda penggemar Tere Liye karena karangan-karangan novelnya. 

Maka sudah pasti anda akan mengoleksi bukunya. bukan malah mencari di internet. Kenapa? Karena anda sadar, membaca di internet anda tak akan pernah puas. kecuali seandainya niatnya memang sekdar lihat-lihat saja.saj

Coba ingat-ingat kembali. Saat kita membuka halaman-halaman buku, suara-suara yang dihasilkan gemerisik kertas, warnanya yang tanpa cahaya, bahkan sampai bau buku, ada sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan ketika membaca di layar elektronik. 

Rupanya, hasrat membaca tidak meluluh tentang apa yang kita inginkan dari bacaan itu, tetapi kita suka membaca karena sesuatu yang sebenarnya terdengar lucu, sensasi. Sensasi itulah yang membuat buku akan terus dicetak. 

Lagi pula kita juga tahu. Isi buku tidak pernah bercanda. Apa yang ada di dalamnya murni mengenai apa yang hendak disampakan pada sampul.  


kita akan selalu butuh kertas. Demi literasi yang bernutrisi. 

Anda bisa saja menolak tulisan ini dengan anggapan, kertas menambah populasi sampah, betapa banyak kemasan-kemasan camilan dari kertas yang berakhir ditempat sampah. itupun kemungkinan terbaik. Karena yang lebih buruk adalah ketika kertas-kertas itu menumpuk di selokan. Menyumbat toilet, memantik kebakaran, atau bahkan mengundang banjir. 

Meskipun nanti akan terurai, tapi ketika banyak tak secepat yang kita bayangkan. Konon kertas yang paling cepat terurai butuh waktu paling cepat dua bulan. Itupun kalau kertasnya mendarat ditanah yang basah.

Kemudian tentu saja, sejahat-jahatnya, kita tak akan merelakan pohon-pohon di tebang hanya untuk mengumpulkan alasan-alasan sehingga kita bertengkar di masa depan. 

Bila benar argumen itu sebagai bentuk penolakan terhadap tulisan ini. Sayang sekali, kita tidak sedang mencampur-adukkan dua konteks yang berbeda. Itu adalah pengalih-fungsian kertas dari kedudukannya yang istimewa Sebagai wadah untuk menulis. 

Kalau bukan untuk dunia tulis menulis, maka seharusnya dari awal kertas menolak untuk hidup. Dan itu sangat bertentangan dengan judul tulisan ini. 

Kertas akan mati hanya ketika semua yang seharusnya mati telah mati. Bukankah setelah kiamat-nanti, ketika kita di hidupkan kembali, kertas juga ikut dihidupkan? Kalau kertas itu datang di tangan kanan maka beruntunglah kita. Kalau di kiri, maka celakalah kita. Iya kan?

Sehingga terakhir, dengan bangga saya katakan.

Kertas tak akan pernah mati. Karena demi literasi, para pembaca yang baik akan terus mencarinya, bahkan sampai ke sudut-sudut liang lahat.

Artikel Terkait