Memang negeri ini selalu gaduh. Apalagi jika menyangkut soal kekuasaan. Apa pun akan dilakukan dan digaduhkan.

Pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) misalnya. Tak ada penundaan atau tinjauan mengenai hal ini. Jelas ini menimbulkann protes karena polisi, satpol pp, dan alat-alat negara lainnya saat ini sedang sibuk menggelar razia masker, pelaksanaan protokol kesehatan, dan semacamnya.

Lalu mengapa pemerintah bersikukuh menerapkan standar ganda ketika berkaitan dengan kekuasaan? Sedangkan ketika untuk perjuangan bertahan hidup justru malah dilarang?

Di Semarang, pemilihan Wali Kota akan digelar 9 Desember 2020. Saat ini calon yang ada adalah calon tunggal, yakni petahana Hendrar Prihadi yang berpasangan dengan Hevearita. Sebagai calon tunggal ia harus melawan kotak kosong.

Siapa sangka tiba-tiba muncul pasangan MAMBU (Mamad-Busri) yang mengklaim dirinya sebagai calon Wali Kota dan Wakilnya. Akronim MAMBU tentu akan mengundang tawa dan nyinyir masyarakat. Siapa sangka pula jika perspektifnya out of the box.

Mamad adalah orang Madura. Ia bermigrasi ke Semarang dan kini berjualan sate serta bekerja sebagai tenaga maintenance perusahaan air artetis yang memasok kebutuhan air bersih warga. Sedangkan Busri adalah seorang buruh pabrik, dan bertugas jaga malam di kampungnya dengan honor kecil.

Mamad adalah representasi seorang urban yang memiliki etos kerja kuat. Busri adalah representasi putra daerah yang memiliki kecintaan lebih terhadap kotanya.

Mari kita ikuti jalan pikiran mereka.

“Tentang Pilkada yang tak ditunda, apa sih cak penyebabnya kok sampeyan setuju?” tanya saya hati-hati.

“Iya. Bagi saya ini jelas merupakan sebuah langkah strtaegis menyelamatkan Indonesia dari oligarki dan cengkeraman kekuasaan partai. Kita paham kalau masyarakat sudah sangat ketakutan dengan isu pandemi. Belum lagi kerja hebat pak polisi dan satpol pp yang gemar menyuruh push up dan mendenda warga yang tak patuh protokol kesehatan. Jadi ini memang ide menyelamatkan Indonesia secara diam-diam,” kata Mamad.

Badannya yang kurus terguncang sesaat ketika ia bercerita sambil menarik napas.

“Kok menyelamatkan? Maksudnya gimana?” saya belum paham apa maksudnya.

“Jadi Pilkada harus digelar pada saat pandemi. Tapi Presiden dan KPU harus menyiapkan aturan tambahan. Aturan itu adalah bahwa semua politisi maupun aktivis partai harus aktif berkampanye. Lebih khusus lagi, para calon yang sudah positif covid-19 harus makin rajin berkampanye. Tujuannya jelas, jika semua politisi dan aktivis parpol tertular, kemudian mati bersamaan, selamatlah Indonesia. Karena yang tersisa adalah orang-orang yang benaknya tak dipenuhi niat politik,” katanya.

“Kok politisi jadi sedemikian buruk sih di mata sampeyan?” saya masih penasaran.

“Bukan buruk. Baik saya ralat ucapan saya, KPU harus menambahi aturan bahwa politisi jujur dan baik dilarang ikut Pilkada agar tak tertular,” katanya enteng.

“Hmm, jadi menyelamatkan Indonesia adalah dengan membiarkan yang ambisius dan hasrat berkuasanya besar tertular covid-19 dan mati. Gitu ya?” saya menegaskan.

“Bukan. Bukan gitu. Justru sebaliknya, kalau mereka mati akan jadi pahlawan. Mengapa? Karena kekuasaan akan dipegang orang-orang yang punya visi tanpa dikotori ambisi pribadi. Pahlawan sejati adalah yang ikhlas mengorbankan semua peluang yang ada termasuk peluang berkuasa,” jawab Mamad.

Saya diam. Saya memandang Mamad dengan takjub. Tangannya masih trampil membolak-balik sate pesanan tetangga saya agar tak gosong.

“Saya ini berani jadi calon Wali Kota Semarang karena dipaksa. Dipaksa keadaan karena semuanya monoton. Semuanya gitu-gitu saja. Ukuran kemajuan kota ya jalan halus, gedung bertingkat. Tak peduli di balik itu semua warganya tak bahagia,” kata Mamad.

Ia lalu bercerita bahwa saat kecil di Madura, ia merasa sangat bahagia. Dengan segala kenakalannya semasa kanak-kanak, Mamad merasa bahwa lingkungan tempat tinggalnya sangat mendukung membentuk karakternya.

Ia lahir di Sampang dari keluarga buruh tani. Karena menjadi buruh tani di lahan gersang, maka hubungan orang tuanya dengan sang pemilik tanah bukan lagi hubungan industrial. Tiap kali orang tua Mamad menemu kesulitan, Pak Haji Romli si pemilik sawah yang membantunya.

“Sekarang di Semarang memang gampang tersentuh. Mudah membantu dan mudah berempati. Tapi gerakan-gerakan yang dilakukan itu lebih banyak untuk memenuhi hasrat berfoto dan pamer di media sosial. Makanya saya ajak Pak Busri untuk jadi wakil saya. Keinginan kami sederhana, agar semua warga berbahagia. Dan kami sanggup mewujudkan dalam tiga bulan sekaligus menghilangkan perilaku korupsi, pelanggaran hukum, dan kriminal receh jalan raya,” katanya.

“Menarik sekali. Metode apa yang dipakai?” saya mengejar.

“Metode yang berbasis kearifan lokal dan warisan budaya nenek moyang,” katanya yakin.

“Apa itu?” saya terus penasaran.

“Dengan memelihara pesugihan buta ijo. Dalam khasanah spiritual Semarang ada yang namanya pesugihan buta ijo. Buta ini dipiara dan mampu mendatangkan kekayaan bagi si pemelihara. Imbalannya adalah tumbal nyawa orang yang dicintai,” katanya.

“Trus?”

“Nah, dengan pesugihan buta ijo otomatis kekayaan yang didapat langsung masuk rekening warga Semarang. Trus tumbalnya adalah orang yang dicintai, bukankah semua koruptor dan penjahat-penjahat itu semua adalah yang dicintai warga? Nyatanya mereka punya pendukung kok, gak seperti kami, pasangan MAMBU yang tak punya pendukung. Nah, koruptor dan penjahat-penjahat itulah yang akan jadi tumbal. Saya jamin 3 bulan masyarakat akan kaya dan kota tak ada korupsi,” kata Mamad yakin.

Saya terhenyak. Ini ide brilian yang jarang muncul di kepala politisi mainstream.

“Tapi bukankah Presiden Jokowi sudah menugaskan pak Luhut untuk mengendalikan covid-19?” saya mencoba mengajaknya berpikir kritis.

“Justru itu. Siapa sih yang meragukan kemampuan pak Luhut Panjaitan? Semua bidang pekerjaan mampu ia tangani. Karena kemampuannya itu, saya juga yakin kalau sebaiknya Pilkada dimajukan saja. Kalau bisa pas berada di puncak covid-19. Tujuannya jelas, agar Indonesia segera selamat,” kata Mamad.

“Selamat dalam arti bagaimana?” saya mengejarnya.

“Ya selamat dari cengkeraman politisi rakus dan partai politik yang tak peduli kami karena mereka mengada hanya untuk kekuasaan. Segera digelar, segera tertular dan segera mati, ganti dengan generasi baru, sistem baru. Ini era new normal yang sesungguhnya,” kata Mamad berapi-api.

Saya diam. Mamad lalu menegur dengan suaranya yang keras.

“Pakai cabai nggak punya sampeyan?” tanyanya.

Saya tergagap dan segera menjawab. Saya masih merenung memandangi poster pasangan MAMBU yang beredar di WAG.

“Sampeyan tahu foto sampeyan sudah tersebar?” saya bertanya.

“Sampeyan ngomong apa sih pak? Dari tadi melamun terus memandang hape. Foto MAMBU itu kan kerjaan orang iseng saja. Mana ada tempat bagi kami di politik di Indonesia. Tapi karena itu bikin sate saya laris ya saya diam saja,” katanya.

“Lha yang ngobrol dengan saya tadi sampeyan kan?” saya memastikan.

“Ngobrol apa, sampeyan ditanya aja diam terus. Kayak lagi mikir janda baru di kampung kita,” kata Mamad.

Hajinguk, ternyata ini wawancara hasil lamunan saya. Kakekane.