Wiraswasta
1 bulan lalu · 39 view · 3 min baca menit baca · Sejarah 85928_63030.jpg

Delusif dan Impulsif, Tipe Jauh Panggang dari Api

Laksamana Tadashi Maeda tak ingin delusif atas kemunduran Jepang di Perang Pasifik. Tetapi ia tak ingin wilayah jajahannya mengetahui kenyataannya. Bahkan Soekarno tak mengetahuinya, berikut militer Jepang di Indonesia.

Saya penyuka daging belut, tapi bukan pengolah masakan bahan belut. Sudah dua kali mencobanya, rasanya di luar ekspetasi. Hingga pasrah selama cara menikmati belut hanya dengan diberi bumbu dasar lalu digoreng.

Hingga suatu waktu kembali turun ke sawah mencari belut dan mendapatkan lumayan untuk lauk makan malam di salah satu perkampungan tengah sawah di Cianjur. Hasil tangkapan diserahkan kepada pemilik rumah yang kami inapi untuk diolah.

Edan!

Belut goreng dengan sambal hijau tak butuh waktu lama untuk tandas. Hanya hitungan menit, ludes bersih. Saya tahu persis bumbu yang digunakannya dan pengolahannya. Sama persis dengan yang pernah saya buat. Tapi ini rasanya jauh lebih enak dan mantap.

***

Film Downfall sudah saya tonton lebih dari dua kali. Selain tertarik dengan kisah kejatuhan Hitler, saya suka pemerannya. 

Amoroso Katamsi lekat dengan figur Soeharto, begitu pula Bruno Granz yang berhasil mendekati kemiripan figur Hitler lengkap dengan gestur.

Bruno Granz mempelajari sosok Hitler dari berbagai dokumenter, dari cara pidato, lafal, intonasi, dan bahasa tubuhnya. Oleh kritikus film, Granz paling sempurna memerankan Hitler ketimbang Anthony Hopkins di The Bunker.


Film Downfall sendiri mengisahkan titik keruntuhan Nazi dan detik-detik akhir hidupnya sebelum bunuh diri. 

Tua, bungkuk, terkena parkinson, tetapi emosinya masih meledak-ledak. Ia tak menyukai laporan kegagalan, lebih memilih menginisiasi perwiranya untuk tetap mengikuti maunya. Ia tak peduli berapa jumlah korban yang dihasilkan akibat perintahnya, yang paling penting adalah kabar kemajuan yang bisa ia banggakan di depan pengikutnya dan dunia.

Di dalam bunker pertahanannya, berdigjaya di atas tanah Jerman superioritas militer Soviet membombardir Berlin. Di tanah Eropa Barat, sekutu sudah merangsek tiba di seberang Ruhr.

***

Laksamana Tadashi Maeda tak ingin delusif atas kemunduran Jepang di Perang Pasifik. Tetapi ia tak ingin wilayah jajahannya mengetahui kenyataannya. Bahkan Soekarno tak mengetahuinya berikut militer Jepang di Indonesia. Mereka masih melakukan aksi kolonialis seolah-olah masih kuat.

Maeda punya perhatian dengan RI meski tak ditunjukkan terang-terangan. Ia banyak mengarahkan Soekarno untuk membentuk usaha kemerdekaan RI diam-diam. Meskipun Maeda, perwira Kempetai, tak mau tahu. Yang berseberangan dengan kepentingan Jepang akan disikat tanpa ampun meski itu dari pihaknya. Maeda sangat hati-hati memosisikan dirinya.

Ada peran penting Maeda dalam upaya proklamasi RI. Sukarno telah tahu Jepang telah jatuh. Maeda mempersilakan rumahnya dipergunakan untuk perumusan naskah proklamasi. Alasannya agar aman dari intaian Kempeitai. 

Semula proklamasi akan digelar di Lapangan Banteng. Tetapi diurungkan karena sudah banyak tentara Jepang berjaga-jaga di sana. Khawatir akan jatuh korban, Maeda mengurungkan Soekarno membacakannya di Lapangan Banteng, melainkan di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan No. 56.

Soekarno yang tengah kambuh malarianya beristirahat paginya sambil mengumpulkan keberaniannya. Ia sempat marah pada Mohammad Hatta yang belum tiba. Bahkan berpikir buruk seperti yang diutarakan ke Cindy Adam, ia nyaris ditinggalkan Hatta. 

Namun, Hatta datang juga tepat jam 10.00. “Kamu tahu, saya orangnya tepat waktu,” ujar Hatta kepada Soekarno yang cemas.

Dihadiri beberapa orang saja, proklamasi disuarakan dan dikibarkannya sang saka merah putih sebagai bendera kebangsaan di tiang bambu yang baru dibuat. Soekarno meniadakan keriuhan yang terjadi di Lapangan Banteng. Kisah detik-detik proklamasi ini diceritakan oleh Lambert J. Giebbels di bukunya Sukarno (1901 - 1950).

Usai proklamasi dibacakan, Soekarno menyuruh pelayan pribadinya dan beberapa orang yang hadir menghampiri lapangan banteng yang penuh orang, mengabarkan Indonesia kini telah merdeka.

***

“Coba tebak, bisa bedain gak mana belut betina mana belut cowok,” ujar teman. Saya menggeleng tak paham. Lantas bertanya balik padanya, “Bagaimana caranya?"

Ia mengambil seekor belut kecil dan seekor belut berukuran besar. “Yang kecil-kecil kelaminnya betina. Yang besar-besar kelaminnya jantan. Tapi sebenernya punya dua kelamin.”

“Kok bisa?”

“Belut, kan, hewan hermaprodit protogini. Bisa berubah kelamin. Kecilnya betina, pas besar jadi jantan.”

“Lah, cara bedakan belut yang sudah berubah dari betina ke jantan gimana?”

“Belut betina monyongnya lancip dan belut jantan monyongnya tumpul. Kalau dari ukuran, jantan lebih panjang di atas 30 cm daripada betina yang panjangnya di bawah 30 cm.”

“Proses penggantian kelaminnya langsung gitu?”


“Ya nggak, ada jeda beberapa waktu belut tak berkelamin. Momen itu disebut masa banci. Gonat jantannya membentuk, menghilangkan gonat betinanya.”

Tiba-tiba saya senyum-senyum membayangkan sesuatu.

“Kok ketawa sih bro?”

“Iya, ngebayangin kecilnya pakai miniset, gedenya pakai singlet.”

“Dan ambegnya kayak banci, bro.”

Kami tertawa.

Entah saya tiba-tiba teringat orang delusif ngambeg yang hebohnya satu negara ini dan ngajak ngambek berjamaah.

Artikel Terkait