Peneliti
3 minggu lalu · 4668 view · 3 menit baca · Politik 28192_43921.jpg
Times Indonesia

Delusi Kemenangan Prabowo

Ijtimak ulama, katanya, tapi jadi bahan tertawaan. 

Apa benar yang hadir di sana adalah ulama? Ada Yusuf Martak. Dulu dia adalah Direktur Lapindo, kini didaulat memimpin ijtimak ulama; membacakan keputusan majelis yang katanya suci, orang-orang yang alim, berilmu tinggi.

Ijitimak ulama kali ini adalah yang ketiga. Sebelumnya, yang pertama, merekomendasikan wakil untuk mendampingi Prabowo. Tapi, karena gagal, maka dibuatlah episode kedua. Agar tetap konsisten, maka ijtimak kedua tetap mendukung ulama, ulama milenial. Sandiaga Uno didukung untuk mendampingi Prabowo.

Tanggal 17 April, jelang sore di hari pemilihan, petaka menghampiri. Tanda-tanda kemenangan sudah terlihat, tapi untuk kubu lawan. Maka dibuatlah skenario untuk deklarasi dan sujud syukur. Meski diabaikan Parpol pengusung, suasana tetap dibuat meriah.

Tapi siapa yang peduli dengan deklarasi kemenangan saat KPU masih menghitung suara yang masuk? Siapa yang peduli dengan sujud syukur kemenangan kalau awak media pun dilarang datang mengintip? Pokoknya menang.

Deklarasi sepertinya tak cukup meyakinkan. Kertanegara hanya sebagian kecil dari Indonesia yang begitu luas. Orang-orang tak peduli. Tapi, tak sedikit yang mencibir, dan membuat meme mengocok perut. “Siaaap, pak presiden…!!”

Delusi Don Quixote

Ijtimak Ulama. Mereka pikir, mereka adalah representasi pemuka agama. Didaulat untuk turun gunung bertarung melawan pasukan kejahatan. Tapi, apa lacur, mereka justru melawan delusi mereka sendiri.


Tak ubahnya Don Quixote yang mendeklarasikan diri sebagai kestaria kelana sedang bertarung melawan raksasa, kincir angin. Ia tertipu oleh dirinya sendiri dan melanjutkan tipuannya oleh baling-baling besar yang dikiranya sebagai musuh yang harus diperanginya.

Tak ada yang bisa menghentikan Don Quixote. Sancho, pelayan, dan orang terdekatnya pun, yang selalu dipercayainya, mengikutinya, tak bisa menyelamatkannya.

Sancho, kawan terdekatnya, tak bisa menghentikannya, lalu mengomporinya, menemaninya dalam delusi menumpas penjahat-penjahat. Dalam perjalanannya, mereka berganti peran. Suatu waktu, Don Quixote-lah yang mengekor ke Sancho.

Don Quixote masuk ke dalam alam imajinasi Sancho. Deklarasi yang tak direspons memunculkan ide gila lain. Mereka mengancam dengan aksi people power. Tapi, sepertinya, nyali mereka sudah telanjur ciut setelah mendengar Panglima TNI dan Polri siap menindak pelaku inkonstitusional.

Kenyataan pahit lainnya, partai koalisi tak hanya diam. Mereka mulai terindikasi merapat ke kubu lawan.     

Sancho, sampai kapan kegilaan ini? 

Prabowo tentu bukan Don Quixote apalagi Cervantes. Para pendukungnya juga bukan Sancho. Tapi, kadang kita melihat Sancho kadang Don Quixote, membingungkan, mengharukan. Namun, korelasi yang bisa ditemukan dari keduanya adalah kegelian dan kegilaan yang menyatu.

Deklarasi presiden—sebelum penetepan resmi KPU—adalah efek delusi yang sebenarnya menggelikan. Ia lalu terlihat menyedihkan karena membuat kita tertawa. Lord Byron menggambarkan ironi Don Quixote, karya Cervantes yang didaulat sebagai karya fiksi paling populer dan terlaris di jagat.


Lalu temukanlah sosok Sancho. Dengarkan apa yang mereka diskusikan: mereka sepakat mendelegitimasi KPU untuk mendiskualifikasi Jokowi. Makanya, saya sepakat dengan Mahfud, ada kelompok radikalis di kubu sebelah.

Mereka menyangkal, tapi yang mereka lakukan adalah pembuktian kalau mereka adalah orang-orang yang tak siap kalah. Mereka ingin berpartisipasi dalam demokrasi, tapi tak ingin kalah. Hanya radikalis yang bisa berprinsip demikian.

Kemarin-kemarin sudah deklarasi menang. Hari ini malah minta KPU menggugurkan Jokowi. Kalau sudah yakin menang, lantas untuk apa menganulir kerja KPU?

KPU masih bekerja, mereka tahu itu. Lebih seratus penyelenggara dilaporkan meninggal, mereka pun seharusnya tahu itu.

Kebenaran yang hoax 

Sampai kapan kegilaan ini, Sancho?

Ada lingkaran hoax yang telah terbungkus menjadi sebuah kebenaran. Menyangkalnya adalah sebuah kebodohan. Hanya satu cara untuk bertahan: melawan dengan segala cara, meski harus menggoreng hoax.

Tujuh kontainer surat suara, Ratna digebuk preman, azan dihilangkan jika Jokowi terpilih, ada PKI di istana adalah deretan hoax yang membayangi Pemilu kali ini. Hoax bisa merugikan dan menguntungkan kedua kontestan. Tapi, bukan itu poin pentingnya.  

Kita tidak sedang mengukur untung-rugi. Bagaimanapun hoax adalah kebohongan. Apa pun hasilnya, ia tetaplah semu. 

Tapi, sejarah manusia banyak dibangun oleh kebohongan, dan hal-hal yang berbau mistis. Kisah-kisah fiksi dibuat untuk menggiring opini. Sebagian besar ada yang percaya. Ada yang meyadarinya, namun tak mengambil tindakan, atau membiarkannya.

Tapi, inilah yang terjadi sekarang, era milenial yang melahirkan revolusi digital. Revolusi digital turut menghadirkan massifnya nyanyian kebohongan. Kehadiran android membuat arus informasi tak lagi didominasi oleh media mainstream.  

Mereka tak siap kalah. Setidaknya itu sudah dibangun lewat upaya menguatkan keyakinan para pendukung. Mereka harus yakin bahwa Prabowo-lah presidennya. Bangsa ini akan bubar di tahun 2030 jika bukan Prabowo presiden.


Begitulah cara kuno bagaimana mengukur kesetiaan kelompok:

“Jika anda ingin mengukur kesetiaan kelompok, mengharuskan orang percaya pada absurditas adalah tes yang jauh lebih baik daripada meminta mereka untuk percaya kebenaran. Jika seorang pemimpun besar mengatakan ‘matahari terbit di timur dan terbenam di barat’, tidak perlu kesetiaan padanya untuk sekadar memujinya.” Demikian tulis Yuval.

Jangan heran, apa pun yang dilakukan Prabowo adalah sah dan benar. Andai Prabowo mengatakan akan menerbitkan matahari dari barat, mereka pasti tetap hormat dan makin kagum.

Artikel Terkait