Sebelum album gambar itu basah dan luntur, Paro buru-buru menurunkan jendela. Lembaran yang tadinya berkelebat tertiup angin pun berhenti. Wanita paruh baya itu segera memindahkan album tersebut dan meletakkannya di depan tungku perapian. 

Di luar, hujan turun begitu derasnya disertai angin kencang. Air laut terlihat pasang dan ombaknya tampak terombang-ambing oleh angin yang berhembus dari lawan arah. Sesekali hawa dingin menelusup masuk melalui fentilasi dan lubang-lubang kecil dari langit-langit rumah. Serbuan suara kilat yang tak kunjung henti kian mengisi senyapnya rumah di bibir pantai itu.

Bayangan api merah menyala tampak jelas dari bola matanya yang hanya diam memandangi album luntur di hadapannya. Usapan lembut dilembarnya tersirat sebuah rasa yang sama besarnya dengan badai yang sedang terjadi di luar. Sepersekian detik setelahnya, cairan bening luruh dari kelopaknya. Bulu mata lentiknya menurun meresapi tiap ratap yang meningkat menjadi harap.

"Nayna...," ucapnya dengan bibir bergetar.

"Kau dimana, Nak?" Suaranya lirih.

Relungnya tak kuasa lagi menahan isak dalam benak. Raungannya keluar dan bersatu dengan bisingnya suara hujan. Petir yang menyambar seakan menggambarkan pedih dihatinya. Langit mendung yang kian menggelap menambah muramnya suasana di dalam ruang tamu tersebut. 

Gelombang di laut masih terombang-ambing seakan memberitahukan semesta tentang perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Lunturnya gambar seorang anak dengan poni dan senyum yang dihiasi lesung pipi itu sudah bercampur dengan air mata ibunya sendiri. Tetes demi tetes terus berjatuh, gambar pun tak lagi berbentuk rupanya.

Dalam keheningan menelan senja, tangisnya harus terjeda begitu ketukan di pintu terdengar menuntut. Tubuhnya membeku seketika. Kepalanya entah mengapa terasa didera pening mendadak.

 Bersamaan dengan itu, terdengar lagi teriakan lantang seorang wanita dari luar. Suaranya terdengar kabur dibawa terbang oleh angin kencang. Semakin memperjelas kesan meremangnya bulu kuduk di sekitaran tengkuknya.

"Bibi Paro. Tolong, buka pintunya."

Kali ini terdengar jelas suara perempuan menembus bilik pintu. Wanita paruh baya itu tak mungkin salah dengar. Butuh waktu baginya beberapa detik sebelum benar-benar meraih daun pintu dan memastikan semuanya. 

Setelah membuka pintu, Paro menemukan seorang gadis muda dengan mantel tebal yang dilapisi jas hujan lengkap memakai sepatu boots. Senyumannya langsung terbit dengan pancaran mata bahagia. Dia segera menyeret masuk gadis yang tubuhnya basah kuyup itu. Meninggalkan mantelnya yang basah di gantungan pintu.

"Kau tak lihat badainya?" Tanya Paro tak percaya begitu gadis yang datang itu duduk di depan perapian.

"Ya, aku tahu," balas gadis itu.

Helaan nafas dari bukaan mulut Paro keluar. Dia menggeleng tak habis pikir sembari menghidangkan dua gelas teh hangat bersama sepiring camilan. Gadis tinggi dengan rambut sepundak itu langsung menyantapnya tanpa sungkan. Menghadirkan senyum dari sudut bibir Paro. Tak dapat dipungkiri, suasana hatinya kembali menghangat.

Sembari menatap gadis di hadapannya, ingatan Paro melanglang buana tentang pertemuan pertama mereka. Hilda merupakan gadis yang saat itu datang kepadanya untuk konsultasi ketika kliniknya telah ditutup. Gadis itu bahkan dengan susah payah mendatanginya hingga ke rumah. Kedatangannya yang tak tepat waktu membuat Paro menyambutnya dengan enggan. Meski begitu, Hilda tetap mengetuk pintu rumahnya. Paro sebenarnya sudah tahu bahwa Hilda takkan menyerah dan dia tak memiliki pilihan lain selain menerima kedatangannya sebagai pasien.

Ketika pertama kalinya Paro menanyakan tentang permasalahannya, Hilda bercerita bahwa dia seorang penulis yang terkena kutukan. Sebuah pertemuan tak sengaja antara dirinya dengan seorang nenek cenayang mengatakan padanya bahwa semua cerita yang ditulisnya akan selalu menjadi kenyataan. Namun naasnya, hanya hal seram, sadis, dan mengerikanlah yang dia tuangkan ke dalam ceritanya. Hilda sempat ketakutan selama beberapa hari hingga dia hanya mengurung diri di kamar. Kepalanya berputar dipenuhi banyak pertanyaan. Yang paling utamanya ialah dia tak ingin meyakinkan dalam hati bahwa kutukan itu benar adanya.

Hilda bisa kembali tenang sebelum sebuah fakta mengejutkannya. Kala itu, melalui siaran televisi, dia mendengar kabar tentang hilangnya seorang anak perempuan berusia sekitar 12 tahun. Setelah wartawan itu menyebutkan ciri si anak, Hilda langsung mengenalinya. Dia ingat bahwa dia pernah menuliskan ciri yang sama untuk salah satu tokoh ceritanya. 

Dengan rasa penasaran yang membuncah, dia pun membandingkan ceritanya dengan kasus yang tengah terjadi. Sekaligus membuktikan bahwa kutukan konyol tersebut tak mungkin menjadi nyata. Namun sayang, hasil perbandingannya tak memuaskan. Tak ada perbedaan yang melegakan hati. Yang ada hanyalah kesamaan yang begitu signifikan antara keduanya. Dia ingin menampik semua hal tersebut. Akan tetapi berbanding terbalik dengan tingkahnya yang mulai menghubungi kontak orangtua dari anak tersebut. Hingga akhirnya, datanglah Hilda menemui Paro.

Gelak tawa merupakan kesan pertama dari Paro begitu mendengar penjelasan dari Hilda. Bahkan Paro sempat marah ketika Hilda terus mengatakan bahwa perkataannya adalah hal yang benar. Paro merasa kalau Hilda sedang memanfaatkan situasi yang tengah menimpanya. Sekeras apapun dia berusaha, tak ada sisi logis yang bisa membuatnya percaya akan perkataan Hilda. Semua bujuk rayu Hilda hanya berbuah sia-sia. Sebelum akhirnya Paro sendiri yang membaca ceritanya. Sudut pandangnya perlahan berubah begitu dia selesai membaca awalan dari ceritanya Hilda. Sangat tidak masuk akal memang jika orang lain yang memandang. Namun, dia sendiri sudah terlalu bingung bagaimana menemukan anaknya yang telah menghilang setengah tahun lamanya. Sementara polisi pun telah menutup kasusnya semenjak tiga bulan yang lalu.

"Aku telah menyelesaikan bagian akhir dari ceritaku," ucap Hilda membuyarkan lamunan Paro.

Paro terkejut. Tubuhnya membeku seketika. Jiwanya yang menghilang setelah sekian lama seperti memasuki raganya kembali. Pulang dengan membawa secercah cahaya harapan. Matanya tak berkedip begitu Hilda menyerahkan lembaran cerita ke tangannya. Dengan tatapan meyakinkan dari Hilda, Paro mulai membaca ceritanya.

Aku tak tahu harus mencari Nayna ke belahan bumi mana lagi. Desas-desus bahwa Nayna telah mati sangat membuatku histeris hingga aku terpaksa melakukan hal paling bodoh dengan mendatangi orang pintar. Tak ada hal lain lagi yang mampu kulakukan selain mendengarkan perkataan wanita tua tersebut. Aku sudah sangat putus asa.

"Apakah anakku masih hidup?"

Kutanyakan itu padanya. Dia hanya memandangku dengan tatapan tajam. Tak ada jawaban.

"Bagaimana keadaan anakku? Jawab!"

Kini, aku menuntut. Raut wajah wanita tua tersebut mulai melunak meski matanya masih menatapku dengan dalam. Seakan mencari celah tentang diriku yang sepertinya perlu dia ketahui.

"Pergilah ke belakang rumahmu."

Hanya itu pesannya. Aku tak memikirkan hal lain begitu tiba di rumah. Segera kulari menuju gubuk di belakang rumah. Penciumanku langsung diserbu oleh bau anyir yang menyengat saat aku masuk. Tetapi tanganku tetap mencari-cari sesuatu yang aku sendiri tak tahu itu apa. Aku juga baru sadar jika ada tetes-tetes darah yang telah mengering di lantai kayu yang reyot ini. Kulihat di sudut gubuk pun ada setumpuk pembalut bekas. Aku sendiri bingung ini tempat apa sebenarnya begitu lantai kayu yang kupijak berderit. 

Merasa penasaran, kubungkukkan badan untuk melihatnya. Kutemukan sebuah gembok yang mengunci daun pintunya. Tanganku segera meraih linggis berkarat yang berada di pintu dan membukanya. Teriakanku langsung keluar begitu kulihat mayat Nayna yang berada di dalamnya.

Kurang lebih dari 24 jam, rumahku sudah dikepung oleh polisi. Kuyakin polisi tahu bahwa ada mayat di rumahku. Para tetangga pasti yang telah melaporkannya. Aku pun tak mungkin melawannya begitu tanganku yang diborgol dan menerima tuduhan sebagai tersangka pembunuhan Nayna. Aku tak terima. Aku berontak saat kulihat suamiku datang tanpa menahan kepergianku.

Ketika Paro tak lagi melihat baris selanjutnya, nafasnya menjadi naik turun tak beraturan. Detak jantungnya berpacu lebih cepat. Kepalanya segera mengarah ke Hilda. Gadis itu tak ada. Tak mungkin jika dia pergi. Paro lantas bangkit mencari keberadaannya. Dia menyusuri tiap bagian rumah yang mungkin dimasuki oleh Hilda.

Akan tetapi, nihil. 

Semua ruangan di rumahnya tak menunjukkan keberadaan gadis itu. Termasuk kamar mandi sekalipun. Paro merasa bingung sendiri begitu kembali ke ruang tamu dan menemukan mantel Hilda yang masih tergantung rapi di sudut pintu. Mustahil rasanya jika Hilda pergi tanpa mantel di saat badai seperti ini.

Setelah merasa tak tahu harus mencari Hilda kemana, Paro hanya mampu meringkuk di depan perapian. Perasaannya sedang berkecamuk seperti keadaan yang sedang terjadi. Pikirannya kalut mengingat penyelesaian dari ceritanya Hilda. Batinnya tak henti berteriak bahwa itu tak mungkin. Tak mungkin Nayna mati dikarenakan dirinya. 

Semua kemustahilan yang berperang melawan batinnya membuat Paro tak sadar bahwa ada seseorang yang sedari tadi memanggilnya. Dengan tatapan kosong, dia menoleh. Mendapati seorang perawat datang dan memberikannya obat melalui kotak dari luar sel. Melihatnya, Paro tersadar akan satu hal. Bahkan imajinasi yang fana sekalipun mampu membunuh penciptanya yang maya.