Di alam semesta ini ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan secara logis, dan ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara logis. Seperti bagaimana senyawa-senyawa organik berubah menjadi organisme dan menghasilkan kehidupan, itu belum bisa dijelaskan secara logis. Suatu saat nanti mungkin akan ada penjelasan. Akan tetapi alasan kenapa Superman bisa terbang, tidak akan pernah ada logisnya, karena memang dasarnya tidak logis, alias tidak nyata, atau dengan kata lain hanya fiktif belaka.

Pada dasarnya, sains mengajarkan kita untuk berpatokan pada fakta-fakta yang ada. Sains juga bertindak dengan mengukur suatu objek realitas, dengan terminologi tertentu yang berdasarkan penelitan. Sains juga cenderung meneliti secara materialistik, artinya objek-objek materi seperti benda-benda dan semua unsur yang ada di bumi, masuk dalam ranah kajian sains.

Pendek kata, sains tidak dapat mengukur sesuatu yang abstrak dan non materi. Sehingga banyak dari "pemuja saintisme" menghilangkan dimensi metafisis seperti Tuhan.

Sementara spiritual, mengajarkan kita untuk menilai segala sesuatu secara empiri, dan memberi kita pemahaman yang sifatnya esoteris. Spiritualisme juga berlaku secara eksklusif dan transenden. Juga mengajarkan kita, bahwa kebenaran tidak selalu melewati koridor rasionalitas, akal, logika, dan nalar. 

Spiritualisme menyadarkan, bahwa kita seyogyanya menghargai sesuatu yang sifatnya batiniah serta membangun hubungan dengan yang "Maha Vertikal".

Di sisi lain, filsafat justru mengajarkan kita untuk skeptis, serta kritis menuntut bukti objektif sebelum kita mempercayai atau mengklaim suatu kebenaran. Filsafat juga hadir ke muka bumi dengan "diksi-diksi langit", yang terkadang menjadi penghalang kita dalam memahaminya.

Secara garis besar, filsafat memang dominan menggunakan aqli, sehingga terkadang menerobos "selubung-selubung iman". Hingga menimbulkan konflik batin yang cukup parah, ketika kita mencoba menyelaminya.

Namun pada praktiknya, saintisme tetap menjadi yang paling lekat dengan stigma buruk. Jika dibandingkan dengan Filsafat yang menyesatkan dan Spiritualisme yang memabukkan.

Sederhananya, saintisme adalah pandangan yang menganggap sains sebagai jalan yang absolut untuk menggapai kebenaran. Ada juga yang berkata, bahwa saintisme adalah suatu kepercayaan mutlak terhadap metode ilmu alam untuk membentuk satu-satunya unsur yang konkret dalam pencarian jawaban. 

Menjadi suatu masalah ketika saintisme mengeliminasi unsur-unsur dari dimensi psikologis atau spiritual pada pengalaman, yang kerap kali menimbulkan perdebatan di kalangan spiritualis dan filsuf.

Lalu, apakah ada orang-orang yang menyebut diri mereka menjalankan saintisme? Tidak ada.

Saintisme sejatinya merujuk pada julukan, atau lebih tepatnya satire terhadap orang-orang yang terlalu percaya diri dengan metode sains, lalu merambah ke hal-hal yang menurut para pengkritik mereka sudah di luar wilayah sains, atau bahasa kerennya “Non Overlapping Magisteria”.

Secara kesejarahan, sains memang dimulai dan diinisiasi oleh para filsuf. Filsuf sendiri adalah orang-orang bijak yang gemar mengamati, berpikir, dan membuat kesimpulan. 

Akan tetapi, para filsuf tidak melakukan pengukuran. Sehingga, para pemikir di masa selanjutnya mengambil jalan yang berbeda. Mereka melakukan pengamatan kuantitatif, lalu menyusun rumusan hukum-hukum alam. Setelah itu lahirlah sains, lalu sains berkembang.

Jika sains memang diinisiasi oleh para filsuf. Lalu, apakah filsuf harus berpuas diri telah menjadi sang pionir? Atau bolehkah kaum agamawan mendaku sebagai yang paling benar? Silakan.

Tapi sanggupkah mereka mengikuti protokol sains yang dinamis? Itu mungkin menjadi masalahnya.

Kembali lagi ke sains, dalam taraf yang lebih ekstrem, beberapa saintis bahkan mengatakan bahwa Tuhan tidak terlibat dalam penciptaan alam semesta. Namun sebenarnya, sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa masih banyak hal-hal yang belum bisa dijelaskan secara logis, dan kelak suatu saat nanti akan ada proses demistifikasi terkait hal-hal tersebut. 

Akan tetapi, pertarungan antara sains dan agama masih akan tetap berlangsung. Salah-satu lapangan tempat benturan sains dan agama adalah perihal moralitas. Secara definisi, sains memang tidak mengurusi terkait dengan standar moralitas. Tapi dalam prosesnya, ada banyak hukum moralitas yang diubah oleh sains. Karena selama berabad-abad, agama menjadi komandan dalam penentu moralitas manusia. Berbasis mitos-mitos dan ketika mitos itu dibongkar, maka standar moral pun berubah.

Sebagai contoh, orang zaman dahulu biasa mengorbankan anak atau manusia. Manusia disembelih, atau dibuang ke kawah gunung berapi. Karena mereka percaya bahwa Tuhan akan suka dengan pengorbanan itu. 

Tapi kini, di dunia di mana sains jadi pedoman, hal itu menjadi pelanggaran hukum dan kejahatan kemanusiaan. Sebab tidak sesuai dengan konsepsi moralitas manusia, yang dipakai dan menjadi patokan hukum yang berlaku.

Pun dengan homoseksualitas yang dianggap penyimpangan, penyakit, dan perbuatan tabu yang dibenci Tuhan. Dewasa ini, sains mengatakan bahwa itu hanyalah varian spektrum orientasi seksualitas manusia. Maka di banyak tempat, di mana sains yang memegang kendali, homoseksualitas bukan lagi dianggap sebagai sebuah musuh yang harus dibasmi.

Perkembangan sains yang cepat, juga sering kali membuat standar-standar moral agama babak-belur. Seperti terminologi makanan halal, karena sekarang daging sudah mulai bisa diproduksi dengan stem cell. Otoritas agama yang mengurusi makanan umat, tentu akan kebingungan menghukumi daging ini, boleh dimakan atau tidak. Karena tidak ada proses penyembelihan di situ.

Kesaling-hubungan antara sains dan agama, mengantarkan keduanya pada ranah-ranah yang memang tidak bisa disentuh. Artinya, sains menjadi tonggak dalam perkembangan teknologi yang sulit diikuti oleh agama. Karena pada dasarnya, agama bersifat statis dan sulit untuk beradaptasi dengan kondisi zaman yang berubah-rubah. Sedangkan sains memiliki kedinamisan ruang gerak dan terkadang menyampingkan batas-batas yang telah diciptakan oleh agama.

Namun sampai kapanpun, kemajuan dan perkembangan teknologi atau ilmu pengetahuan tidak dapat dibendung oleh apapun.

Bijaknya, agamawan dan para spiritualis bisa menyesuaikan metodologi penyebaran "kanon-kanon suci" atau kalam-kalam Tuhan dengan pola perkembangan yang ada, kondisi yang berlangsung dan hendaknya tidak bertindak irasional dengan memblokade atau memboikot sesuatu yang bersifat dinamis.

Juga sama halnya dengan para ilmuan dan saintis, yang menjalankan suatu penelitian demi perkembangan dan kemajuan umat manusia, hendaknya memperhatikan suatu bentuk moralitas dalam kehidupan bermasyarakat. Agar dapat menyinergikan sains dengan hukum moralitas yang berlaku.

Pun dengan filsafat, agaknya para filsuf dan "arsitek bahasa" yang terhormat dapat membumikan kembali, "diksi-diksi langit" yang menempel pada entitas filsafati. Sehingga ke depannya, nilai-nilai luhur dan mutiara kebijaksanaan yang terkandung dalam rahim filsafat mampu dipahami oleh semua golongan, tanpa terkecuali.

Akhir kata, Semoga Semua Makhluk Berbahagia!