21241_25640.jpg
http://www.myassignmenthelp.net/images/social-science-assignment-help.jpg
Pendidikan · 5 menit baca

Dekonstruksi Pemahaman Bias Terhadap Ilmu-Ilmu Sosial

Salah satu stigma dan pemahaman yang keliru dan masih memenuhi ruang-ruang pemikiran masyarakat umum perihal ilmu-ilmu sosial adalah sebagai mata pelajaran hafalan dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang mensyaratkan perhitungan matematis. Pemahaman stigmatik ini berdampak pada kategorisasi keilmuan mana yang dianggap lebih merepresentasikan kecerdasan seseorang. Mereka yang menguasai ilmu alam dianggap lebih cerdas tinimbang mereka yang menguasai ilmu-ilmu sosial.

Benarkah ilmu-ilmu sosial lebih mengutamakkan hafalan? Benarkah ilmu sosial merepresentasikkan kecerdasan kelas kedua setelah ilmu alam? Sebelum kita menjawab kedua pertanyaan di atas, kita akan merujuk pada kategorisasi rumpun keilmuan yang diakui dalam sistem pendidikkan di Indonesia dengan merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi khususnya Pasal 10 butir 2 dijelaskan perihal Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang meliputi, “rumpun ilmu agama; rumpun ilmu humaniora;  rumpun ilmu sosial; rumpun ilmu alam;  rumpun ilmu formal; dan  rumpun ilmu terapan”. 

Dalam bagian penjelasan Pasal 10 butir 2 perihal rumpun Ilmu Sosial meliputi, “Rumpun  ilmu  sosial  merupakan  rumpun  Ilmu Pengetahuan   yang   mengkaji   dan   mendalami hubungan antar manusia dan berbagai fenomena Masyarakat,    antara    lain    sosiologi,    psikologi, antropologi,  ilmu  politik,  arkeologi,  ilmu  wilayah, ilmu budaya, ilmu ekonomi, dan geografi”. Ilmu Sejarah, Ilmu Bahasa, Ilmu Filsafat, Seni dsj dimasukkan dalam Rumpun  ilmu  Humaniora.

Terlepas dari kategorisasi rumpun keilmuan menurut perundangan-undangan di atas namun jika disederhanakan demi memudahkan pemilahan cukup dibagi menjadi Ilmu Alam (natural science) dan Ilmu Sosial (social science). Ilmu Alam mengkhususkan diri pada gejala alam beserta hukum-hukum yang bekerja di dalamnya sementara Ilmu Sosial mengkhususkan diri pada manusia, masyarakat dengan segala dinamikanya.

Ilmu Sosial Bukan Ilmu Menghafal

Mereduksi ilmu-ilmu sosial (sosiologi, psikologi, antropologi, ilmu  politik,  arkeologi,  ilmu  wilayah, ilmu budaya, ilmu ekonomi, geografi, filsafat, sejarah, bahasa dsj) sebagai ilmu yang membutuhkan kemampuan menghafal belaka merupakan pemahaman yang over simplicity (terlalu menyederhanakan). Ketika kita berbicara mengenai manusia dan kehidupan sosialnya, kebudayaannya, sejarahnya, teknologinya, peradabannya maka tidak mudah ditangkap secara sederhana melalui rumus-rumus angka belaka. 

Mengapa di dunia modern yang semakin menjanjikkan kemudahan seseorang atau masyarakat namun di sisi lain memiliki kecenderungan melakukan tindakkan bunuh diri? Mengapa era Renaisance dan Aufklarung yang menghasilkan masyarakat modern yang rasional justru menghasilkan sejumlah irasionalitas-irasionalitas yang diwujudkan dalam konflik dan peperangan, genosida, fundamentalisme agama dsj? Sekalipun sejarah telah memperlihatkan bagaimana kejam dan mengerikannya peperangan terjadi namun mengapa peperangan masih menjadi sebuah pilihan bagi negara-negara yang terlibat konflik?

Semua pertanyaan di atas dan masih banyak deretan pertanyaan sejenis di atas tidak bisa diselesaikkan dengan analisis matematis dan metodologi empiris belaka. Kita sedang berhadapan dengan subyek hidup yaitu manusia dan kehidupan sosialnya, budayanya, teknologinya, peradabannya senantiasa berubah dan berkembang, itulah sebabnya tidak bisa mempergunakkan metode-metode empiris dan rumus-rumus matematis belaka untuk memahami dinamika dan dialektika kehidupan manusia.

Lahirnya sejumlah teori-teori untuk memahami sebuah realitas sosial, peristiwa sejarah, fenomena budaya, pemikiran-pemikiran filosofis dan kritis inilah yang kerap direduksi sebagai bentuk pengetahuan yang harus dihafalkan sehingga muncullah pemahaan bias bahwa ilmu-ilmu sosial sekedar menghafalkan teori dan pendapat sejumlah ahli atau peristiwa-peristiwa terkategori sejarah. Kondisi ini diperparah dengan sistem pendidikkan yang memposisikan ilmu-ilmus sosial sebagai bentuk hafalan terhadap teori tertentu atau peristiwa historis tertentu

Padahal ilmu sosial membutuhkan kemampuan melakukan analisis sosial dengan berbekal sejumlah teori dan perspektif yang sudah ditemukkan terlebih dahulu. Teori dan perspektif para ahli memang harus dihafalkan namun yang terlebih penting adalah kemampuan melakukan analisis sosial, analisis sejarah, analisis politik, analisis bahasa, analisis perilaku dst. Kemampuan membaca persoalan-persoalan sosial dengan melakukan analisis sosial inilah yang kurang ditekankkan di ruang-ruang kelas ilmu sosial.

Jika hendak diperbandingkan, nampaknya ilmu-ilmu alampun tidak luput dari melakukan proses hafalan terhadap rumus matematis, rumus fisika, rumus kimia, bahasa latin nama-nama hewan, istilah-istilah medis untuk organ tubuh manusia.

Ilmu Sosial Membutuhkan Kecerdasan Non Matematis

Para pakar pendidikan akhir-akhir ini menganut Teori Multiple Intelligences (Teori Kecerdasan Ganda). Teori kecerdasan ganda merupakan model yang membedakan kecerdasan menjadi “modalitas” yang spesifik (terutama sensorik) daripada melihat kecerdasan sebagai didominasi oleh kemampuan umum yang bersifat tunggal. Sederhananya, Teori Multiple Intelligences menyangkal bahwa kemampuan matematis dan rasional sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan melainkan memandang bahwa ada berbagai jenis kecerdasan yang berdiri sendiri-sendiri.

Pencetus Teori Multiple Intelegences adalah seorang psikolog bernama Howard Gardner melalui bukunya yang diterbitkan pada Tahun 1983 dengan judul, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Menurut Gardner, manusia itu memiliki Tujuh Kecerdasan (Seven Intelegent). Sandy Mc Gregor memberikan deskripsi mengenai Tujuh Kecerdasan tersebut sbb: (1) Matematika/Logika (2) Visual/Spasial (3) Inter Personal (4) Musikal (5) Intra Personal (6) Kinestetik (7) Linguistik (Piece of Mind: Mengaktifkan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar Untuk Mencapai Tujuan,2003:212-217).

Kecerdasan Matematis berkaitan dengan kecakapan dan kompetensi di bidang logika dan matematika (Contoh: Albert Einstein). Kecerdasan Visual berkaitan dengan kecakapan dan kompetensi di bidang seni rupa (Contoh: Leonardo Da Vinci). Kecerdasan Interpersonal berkaitan dengan kemampuan komunikasi verbal mempengaruhi orang lain (Contoh: Marthin Luther King). Kecerdasan Musikal berkaitan dengan kemampuan dan kompetensi di bidang musik (Contoh: Mozart dan Bethoven). Kecerdasan Intra Personal berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri kelak oleh Daniel Goleman disebut dengan Emotional Quotient atau “EQ” (Kecerdasan Emosi). 

Slogan yang membangkitkan gairah dan mensugesti, berkaitan dengan potensi EQ adalah, “EQ menentukan 80% kesuksesan, sementara IQ hanya 20%” (Pengantar pada buku karya Maurice J. Elias, Cara-cara Efektif Mengasuh Anak Dengan EQ, 2001). Kecerdasan Kinestetik berkaitan dengan kecakapan dan kompetensi dalam bidang olah raga (Contoh: David Beckham). Kecerdasan Linguistik berkaitan dengan kecakapan verbal dan berkomunikasi (Contoh: Soekarno).

Dari penjelasan di atas, nampaklah pada kita bahwa setiap individu memiliki jenis kecerdasan yang berbeda-beda. Jika ada seorang anak yang mahir di bidang matematika dan logika, kita menyebut anak tersebut memiliki kepandaian matematis. Jika ada seorang anak yang mahir di bidang olah raga, maka anak tersebut memiliki kecerdasan kinestetis. Jika ada ada yng mahir dan selalu juara di bidang seni lukis, maka anak tersebut memiliki kepandaian visual.

Adalah keliru mengatakan bahwa anak yang mahir ilmu matematis dikategorikan pandai, sementara anak yang mahir seni lukis dan olah raga dikatakan anak yang tidak pandai. Analogi sesat fikir di atas dapat diibaratkan membandingkan apel dengan mangga lalu membuat kesimpulan bahwa apel lebih enak rasanya dibandingkan mangga. Pernyataan ini tidak tepat karena membuat perbandingan yang tidak sepadan. Perbandingan yang sepadan seharusnya adalah apel malang lebih manis dibandingkan apel daerah di luar malang.

Darimana memulai proses dekonstruksi pemahaman bias terhadap ilmu sosial? Para pendidik dibidang Ilmu Sosial  mulai mengubah metode pembelajaran yang bukan hanya menyajikan teori dan perspektif yang harus dihafalkan melainkan bagaimana melakukan analisis sosial melalui varian teori dan perspektif sehingga lebih mampu membaca realitas sosial dan berkontribusi bagi perubahan sosial.