Mahasiswa
1 bulan lalu · 140 view · 3 min baca menit baca · Hiburan 89821_84396.jpg
Foto: IDN Times

Dekonstruksi Makna dan Komedi Horor

Ulasan Film Ghost Writer

Artis cantik blesteran Jerman-Indonesia, Tatjana Saphira, untuk pertama kalinya berakting di film horor layar lebar bertajuk Ghost Writer. Namun film yang seharusnya bisa mengantarkan dirinya ke sensasi berlakon di film horor justru mengundang gelak tawa. Pengaruh sang sutradara Bene Dion Rajagukguk sebagai seorang komedian sangat kentara. 

Awal kelahiran film ini dimulai ketika Ernest Prakasa sang produser tahun 2018 lalu menggelar pelatihan menulis skenario, dan ia mendapati ide segar film Ghost Writer dari seorang peserta. Ernest tertarik pada ide yang disampaikan Nonny Boenawan, dan kemudian mengangkatnya menjadi sebuah film layar lebar.

Jika Roman Polanski dalam filmnya The Ghost Writer (2010) menaruh ghost writer sebagai penulis bayangan dalam membongkar sebuah skandal, maka Nonny tidak. Nonny dan Ernest akhirnya mengajukan ide cerita kepada bos Starvision Plus, Chand Parwez, untuk mewujudkan ide cerita menjadi sebuah film layar lebar. 

Keduanya juga mengajak Bene Dion sebagai sutradara. Menulis skenario film untuk selanjutnya benar-benar difilmkan menjadi pengalaman pertama Nonny.  

Kisah bermula ketika Naya (Tatjana Saphira) dan Darto (Endy Arfian) adiknya menyewa rumah baru milik Pak Harjo (Slamet Rahardjo) dan tinggal sementara di rumah itu. Naya yang merupakan penulis novel di salah satu penerbit besar harus membiayai sekolah adiknya. 

Orang tuanya sudah meninggal, dan terpaksa Naya hidup bersama adik semata wayangnya. Seperti film-film horor yang selalu dibuka dengan pembelian rumah tua menyeramkan, gangguan-gangguan pun mulai tampak. Darto si penakut terus-terusan diteror.


Ketika Naya tengah termenung memikirkan ide cerita untuk novel berikutnya, guncangan mirip gempa terjadi. Seluruh barang dari atas loteng kamar Naya berjatuhan. Saat itu pula Naya menemukan sebuah buku diary

Tiba-tiba hantu Galih (Ge Pamungkas) muncul dan mengagetkan Naya, sontak ia pun pingsan. Tatkala bangun, ia lebih dikejutkan lagi dengan sebuah tulisan di tembok kamar. 

Adegan berlangsung sangat cepat bahkan tidak bisa dirasakan bahwa kejadian pingsan dan bangun itu sudah berbeda hari. Debut perdana Bene Dion sebagai sutradara terlihat lewat adegan ini. Bak film-film horor lainnya, tulisan tersebut jelas merujuk agar Naya dan Darto pergi meninggalkan rumah. Namun antara Naya dan Galih justru saling ngobrol lewat tulisan di tembok.

Berkat catatan harian yang ditemukannya itu, Naya mendapatkan ide segar menulis novel setelah beberapa waktu mandek. Kemudian ia menyampaikan sinopsis ceritanya kepada Alvin (Ernest Prakasa) editor di penerbit tempatnya bekerja sehabis dipaksa Vino (Deva Mahendra) pacarnya. 

Bu Retno (Asri Welas) direktur penerbitan tidak disangka menyukai cerita Naya. Alhasil Naya memutuskan untuk meminta izin kepada empunya cerita untuk mengadopsi tulisan hariannya menjadi sebuah novel. Galih akhirnya sepakat untuk memberi izin dan membantu Naya merampungkan tulisannya.

Galih mulai menjadi ghost writer yang benar-benar berasal dari bangsa lelembut. Bene Dion ingin menunjukkan makna ghost writer secara harfiah. Berbeda dengan The Ghost Writer-nya Roman Polanski yang merujuk ke pemaknaan ghost writer sebagai penulis bayangan bagi Bene Dion tidak berlaku. 

Ghost writer sejatinya penulis profesional berwujud manusia. Biasanya tidak mencantumkan namanya, namun mencantumkan nama orang lain yang membayarnya atau menerima jasanya. Pemahaman makna yang berkembang di masyarakat seperti ini justru didekonstruksi oleh Bene Dion.

Seorang ghost writer yang selama ini menyembunyikan identitasnya, dalam versi film Ghost Writer, malah menampilkan muka dan tubuhnya secara utuh kepada editor naskah. Dekonstruksi makna yang dilakukan Bene Dion sangat frontal, dan jauh dari kehidupan realitas.


Di mana seorang ghost writer bisa terancam apabila sampai terang-terangan menunjukkan identitasnya, seperti halnya film The Ghost Writer karya Roman Polanski. Tidak hanya dekonstruksi makna, penonton juga dijejali adegan klise di film fiksi. Naya dibuat bisa melihat dan berbicara dengan Galih; syaratnya harus memegang buku diary milik Galih.

Balutan komedi di film ini sangat mengandalkan duet komedian Arie Kriting dan Muhadkly Acho. Bahkan jokes keduanya sudah keluar di menit-menit awal, sehingga menimbulkan kesan bukan film horor. Jokes-jokes yang dipakai pun receh ala para komika.

Hampir tak ada lawakan yang berbobot, semuanya sekadar membenturkan logika penonton. Adegan Arie dan Acho barangkali sengaja dibuat Bene Dion dengan cerita-cerita hantu yang bukannya membuat takut malah membuat geli, tetapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan plot.

Bene Dion sengaja tidak menonjolkan kisah cinta Naya dan Vino pacarnya. Ia mengalihkan fokus penonton kepada tragedi yang dialami si hantu Galih dan Bening (Asmara Abigail) adiknya. Maksud hati mengaduk emosi penonton agar terbawa suasana sedih dan mengharukan, justru menjadi bias karena nuansa komedinya jauh lebih kental. 

Film Ghost Writer sebenarnya punya visi kuat, yaitu mengubah paradigma masyarakat terhadap film bergenre horor. Dion sukses meraih visi itu, terlebih dirinya berhasil memertahankan kesan horor pada film ini lewat musik kejut khas film horor.

  • Produser: Ernest Prakasa dan  Chand Parwez
  • Rumah Produksi: Starvision Plus
  • Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
  • Rilis: 4 Juni 2019
  • Pemeran: Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Deva Mahendra, Slamet Rahardjo, Ernest Prakasa, Arie Kriting, Muhadkly Acho, Asri Welas, Endy Arfian, Asmara Abigail, dan lainnya.

Artikel Terkait