Aurot secara Fiqih wajib untuk ditutupi karena berkaitan dengan suatu maksud tertentu didalam tujuannya sendiri. Aurot secara terminologis adalah anggota tubuh yang wajib ditutupi dari penglihatan seseorang yang haram untuk memandangnya.

 Sedangkan hijab didalam literatur fiqih memiliki dua klasifikasi yang diambil dari asal bahasanya yang bermakna “tutup”, yakni al-hijab al-munfashil dan al-hijab al-muttashil.

 Yang pertama adalah penutup yang terpisah dari badan, misalkan tembok atau kain yang digantungkan disuatu tempat agar menutupi pandangan. Sedangkan kedua adalah hijab dalam arti pakaian, yakni pakaian yang menutupi aurot.

 Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud oleh ayat Al-Qur’an dan hadits adalah yang kedua, yakni pakaian.

Karena aurot termasuk anggota yang tidak boleh dilihat oleh orang lain yang mengandung indikasi haram dan menyebabkan adanya indikasi wajib untuk ditutupi dihadapan orang lain.

Konsep aurot pada masa ini sangat berbeda dengan aurot tradisional yang dikenal oleh masyarakat islam. Pergeseran yang terjadi menyebabkan nilai pelajaran dalam berpakaian berubah signifikan.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59 : “Hai Nabi, katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.”

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jilbab dimasa Nabi SAW merupakan pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari ujung kepala hingga kaki, jilbab pada masyarakat pra-islam biasanya dikenakan oleh wanita arab yang sudah memasuki usia dewasa.

Dari ayat tersebut jilbab juga dijadikan sebagai indentitas yang membedakan antara wanita merdeka dan budak.

 Ayat tersebut menegaskan bahwa menutup aurot dengan jilbab menjadi kewajiban bagi wanita muslim. Jilbab kemudian menjadi ciri khusus dari agama islam dan berkembang kemanapun islam didakwahkan.

Jilbab berasal dari Bahasa arab kata kerja dari jalaba yang bermakna “Menutup sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat.”

Ulama berbeda-beda pendapat tentang definisi jilbab. Ada yang berpendapat jilbab mirip dengan rida’ (sorban). Ulama lain mendefinisikannya dengan kerudung yang lebih dari khimar (kerudung). Ada pula yang mengartikan dengan qina’, yaitu penutup muka atau kerudung lebar.

Muhammad said Al-Asyimawi menyimpulkan jilbab sebagai gaun longgar yang menutupi sekujur tubuh perempuan. Dulu jilbab dimaknai sebagai sesuatu yang menghalangi dan menutupi kecantikan wanita.

 Ini terjadi karena wanita diposisikan serba aurot. Hal ini dimulai dengan pernyataan bahwa rambut bagi wanita adalah mahkota yang merupakan aurot.

Begitupun mukanya merupakan singgasanya juga aurot, suarannya merupakan singgasananya juga aurot, tubuhnya merupakan kerajaan juga aurot. Sehingga yang terjadi, setiap bagi wanita merupakan aurot yang tidak boleh ditampakkan kepada laki-laki lain.

Hadirnya jilbab adalah untuk menjadikan wanita tidak menarik bagi orang lain dan menyembunyikan tubuhnya dari tatapan mata laki-laki lain.

Sedangkan menurut Quraish Shihab disebut sebagai aurat, yaitu dapat menimbulkan rangsangan birahi jika dilihat oleh mereka yang tidak berhak untuk melihatnya, karena dapat menimbulkan “kecelakaan, aib dan malu”.

Hasrat seksual laki-laki lebih mudah terangsang dibanding wanita, ini dilihat dari psikoseksual laki-laki yang berlainan dengan wanita. Namun kita sebagai wanita tidak boleh menciut terlebih dahulu, karena setiap wanita sholihah harus percaya diri dan tidak boleh merasa bahwa dirinya tidak cantik.

Di sisi lain setiap wanita mempunyai kecantikan dan daya tarik tersendiri. Ia juga harus menyakini bahwa ia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Yang terpenting adalah bukan sekedar cantik, namun bagaimana mempertahankan kecantikan itu. Walaupun wajah biasa-biasa, namun jika dirawat akan memancarkan aura kecantikan tersendiri. Ibarat batu permata, kilauan cahayanya nampak setelah digosok.

Menjadi wanita sholihah merupakan impian setiap wanita shihah yang dapat meraih kebahagiaan di dunia dan surga di akhirat. Hanya wanita sholihah yang mampu menjadi perhiasan terindah bagi suaminya dan ibu bagi anaknya.

Ia akan menjadi lentera yang akan menerangi kegelapan ditengah masyarakat. Keberadaannya senantiasa dinanti oleh setiap insan yang mengharapkan untaian kata-katanya yang menyejukkan hati, dan perilaku yang santun.

Kemuliaan wanita sholihah digambarkan oleh Rasulullah SAW. Dengan sabda yang artinya : “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholihah”. (HR. Muslim dari Abdullah Ibn Amr).

Bahkan dalam hadits berikut Rasulullah menegaskan bahwa tidak ada perhiasan yang lebih baik daripada wanita shalihah. Dengan sabda Nabi yang artinya : “Sesungguhnya dunia adalah perhiasan dan tidak ada satupun perhiasan dunia yang lebih baik daripada wanita shalihah.

Bifadhlillah, semoga kita termasuk wanita idaman surga, wanita yang taat beragama, wanita yang berakhlak mulia, wanita yang taat kepada suami, wanita yang berbakti kepada orang tua, wanita yang cantik jiwa raga, wanita yang pintar dan cerdas.

Begitupun wanita yang bertanggung jawab kepada anaknya, wanita yang berakhlak mulia terhadap tetangga, dan wanita yang menjaga silaturrahmi dengan kerabat.