“Bisanya cuma kritik, kasih solusi dong.”

“Elu mah emang sinis sama gua, makanya kritik terus.”

“Susah kalo udah benci mah, pasti dikritik terus”
….

Apakah kita sering mendengar kalimat seperti itu? Mungkin banyak dari kita sudah muak dan bosan dengan orang-orang yang berbicara seperti itu. Namun, pada dasarnya mereka yang sering berbicara seperti itu tidak paham "Ilmu Retorika". Mereka yang anti-kritik itu tidak mengerti ilmu filsafat paling dasar.

Pendek kata, titik tolak dari retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengemukakan pemikiran menjadi kalimat kepada seseorang, atau kelompok orang yang jumlahnya banyak. Retorika singkatnya ialah kesenian berbicara secara efektif, yang dicapai berdasarkan bakat alami dan latihan teknis.

Ilmu Retorika juga mempunyai hubungan yang erat dengan dialektika yang telah dikembangkan sejak zaman Yunani Kuno. Dialektika adalah metode untuk mencari kebenaran lewat debat mapun diskusi. Melalui dialektika orang dapat mengenal dan menyelami suatu masalah, mengemukakan suatu argumentasi, dan menyusun argumen secara logis.

Retorika memiliki hubungan dengan analisa karena debat dan diskusi juga merupakan bagian dari Ilmu Retorika. Analisis retoris adalah istilah sekaligus bentuk kritik atau “membaca gejala”, yang menggunakan prinsip-prinsip retorika untuk meneliti interaksi antara teks, penulis, dan audiens. Ini juga disebut kritik retoris atau kritik pragmatis.

Analisis retoris dapat diterapkan untuk teks hampir semua atau gambar (semiotika), sebuah esai (semantik), iklan, puisi, halaman web, bahkan stiker. Ketika diterapkan pada karya sastra, analisis retoris menganggap sebuah karya tidak sebagai obyek estetika, akan tetapi sebagai instrumen artistik terstruktur untuk komunikasi.

Analogi sederhananya, katakanlah kita punya kain untuk dijahit. Kita berencana untuk membawanya kebtukang jahit, akan tetapi si tukang jahit tersebut malah membuat kancingnya di punggung.

Pertanyaannya, apakah kita akan marah? Tentu saja! Apakah kita akan mengkritiknya? Tentu saja! Apakah kita akan memberinya solusi? Sepertinya tidak perlu.

Kenapa demikian? Sebab, jikalau kita memang mengusai ilmu jahit-menjahit tentu saja kita tidak akan membawanya pada tukang jahit.

Lalu, kenapa kita bisa marah sekali? Karena baju tersebut itu untuk acara yang penting. Bahkan, bahannya kita beli dari hasil jerih payah kita sebulan kerja dan lembur. Ditambah dengan keadaan covid-19 seperti ini, apalagi kemarin-kemarin RUU Omnibus Law sudah disahkan oleh anggota dewan kita yang terhormat.

Kembali lagi pada hakikat kritik, pengkritik itu tugasnya ialah menganalisis objek dan menunjukkan kesalahan objek. Dia tidak wajib untuk memberikan solusi terhadap apa yang dia kritisi. Oleh sebab itu, kita hanya sebatas tahu kalau “baju kita tidak sesuai pesanan”. Terkait urusan cara jahit, mesin yang dipakai, algoritma menjahit baju, itu bukan urusan kita. Sebab, pada dasarnya kita hanya ingin “bajunya bagus”.

Metode apapun yang digunakan pengkritik, sebenarnya tidak jadi persoalan utama. Kita bila melakukannya dengan dengan marah, lembut, sarkas, satire, filosofis, atau apapun itu. Tukang jahit (objek) yang dikritik harus sadar akan kesalahan dia, bukan malah menutup mulut yang mengkritik. Kalau memang tukang jahit tersebut tidak mau dikritik, mungkin cara terbaiknya ialah dengan menutup telinga. Bukan melakukan cara yang ‘culas’, yaitu membungkam kita dan menutup telinganya. Itu jelas curang. Jika dia melakukan hal tersebut, sebaiknya kita berbicara padanya untuk berhenti saja jadi “tukang jahit”.

Namun pada praktiknya, terkadang ada saja pendukung “tukang jahit”, yang mencoba untuk membantu padahal sudah jelas, bahwa baju yang dihasilkan tidak sesuai pesanan. Dengan amarah, para pendukung itu bilang ke kita, “yaudah lu jahit aja sendiri”, atau “yaudah ga usah ngejahit disitu lagi, ribet banget”.

Masalahnya, bahan kita itu sudah dijadikan baju olehnya. Andai dari awal kita tahu tukang jahit itu tidak kompeten, toledor, plonga-plongo, sok polos, sok merakyat, atau ibunya tukang jahit yang galak suka duduk di teras dengan daster merahnya, mungkin kita tidak bakal datang kesitu, dan kita tidak akan memilih dia untuk mewakilkan kita sebagai tukang jahit.

Pada akhirnya, kita sebagai pemilik kain, hanya bisa memeluk dan menangisi baju jelek tersebut dari pada harus berhadapan dengan tukang jahit dan para pendukungnya. Belum lagi ada ibunya yang galak di teras itu. Dan satu lagi, si tukang jahit juga punya paman, dan beliau jauh lebih seram. Jangan diteruskan, karena si paman ini punya ilmu segala urusan, yang bisa bergerak kemanapun. Sudahlah, lupakan.

Kembali pada pembahasan tentang kritik, pembantahan terhadap suatu argumen adalah hal yang lumrah, ketika kita mampu berpikir secara objektif. Dari pembantahan terhadap seorang individu, baik itu dari pemikiran atau alur argumen yang disampaikan. Terlepas dari hal itu, kritik tersebut sangatlah dibutuhkan demi terbukanya pemikiran kita semua.

Secara etimologi, kritik berasal dari kata ‘kritika’ yang berarti menguji, memeriksa dengan teliti, dan membeda-bedakan. Dalam perspektif filsafat, kritik menjadi salah satu hal yang paling fundamental dalam menentukan kebenaran. Kritisisme adalah aliran filsafat yang melakukan penyelidikan terhadap rasionalitas, beserta batasan-batasannya, juga mengkritik sesuatu yang sifatnya empiri.

Dalam praktiknya, Aliran Kritisisme melakukan kritik terhadap aliran Rasionalisme dan Empirisme karena kedua aliran filsafat itu, sangat berlawanan. Untuk menentukan kebenaran, Rasionalisme mengandalkan akal, sedangkan Empirisme mengandalkan pengalaman.

Disisi lain, ketika kita memberikan kritik tanpa solusi, tentu akan menimbulkan kesan negatif pada individu atau kelompok sosial tertentu. Karena banyak dari kita yang setuju, bahwa kritik tanpa solusi dianggap cacat, sebab tidak menghadirkan solusi atau lazim disebut “modal bacot”.

Kritik juga berarti melontarkan opini kita, terkait suatu fenomena tertentu. Kritik sebenarnya tidak selalu harus ‘sepaket’ dengan solusi. Karena kritik dan solusi tidak harus menjadi “substansi tunggal”. Karena kedua kata tersebut telah berbeda dari segi teori dan pemahamannya.

Terakhir, alangkah baiknya kita menyadarkan mereka yang anti-kritik, dan mereka yang tidak bisa maupun tidak berani mengkritik.