Di tengah himpitan radikalisme dan politik uang yang menyelubungi dunia perpolitikan nasional, ada satu permasalahan besar dalam sistem penyiaran pertelevisian Indonesia. Tulisan ini saya buat dengan tujuan memperpanjang nafas Deddy Corbuzier yang dengan tegas dan terang benderang mengkritik artis-artis alay beserta tayangan-tayangannya yang sama sekali tidak bermutu, memuakkan, bikin muntah, dan njelehi.

Saya cuma mau refleksi diri saja, semenjak duduk di bangku Aliyah (setingkat SMA), kok saya jadi gampang bosan nonton TV. Beda dengan semasa SD sampai SMP yang jika sepulang sekolah selalu melepas penat di depan layar kaca dengan nonton film Tsubasa, Benteng Takeshi, atau acara-acara petualangan.

Dilanjut malam hari, saya selalu berusaha menonton tayangan olahraga, terutama sepak bola atau film-film laga.

Sejak Om Deddy mengkritik perihal tayangan TV yang tidak mendidik dan lebih menonjolkan “kedunguan” para artisnya, saya jadi merasa film-film dan tayangan TV favorit saya di masa lalu hanya tinggal kenangan.

Saya hanya bisa mengenang betapa serunya nonton film Mak Lampir di malam Senin dan Angling Dharma di malam Kamis. Saya juga masih sering membayangkan bagaimana asyiknya hari Minggu pagi nonton Power Rangers dan Dragon Ball bareng sahabat-sahabat di rumahnya Pak Haji.

Kenangan Nonton TV di Masa Kecil

Masih segar di ingatan saya ketika Pak Haji punya TV baru, terus memanggil anak-anak kecil untuk nonton serial Pasukan Turbo setiap Jumat sore, dilanjut salat Maghrib berjamaah dan ngaji Iqro’ sampai selesai salat Isya.

Kalau saya kalkulasi, 70% kehidupan masa kecil saya selalu “berurusan” dengan TV. Tapi, dari semua tayangan TV yang saya tonton saat itu, jarang sekali acara gosip atau talkshow yang membahas aib seseorang.

Sekalipun ada gosip artis, selalu yang muncul adalah karya terbaru dari artis bersangkutan. Demikian juga dengan talkshow artis, selalu yang dibicarakan soal perkembangan karirnya.

Seingat saya, tema pembicaraannya lebih kepada perjalanan karir, perkembangan album atau film, dan jadwal road show sampai ke luar negeri. Bahkan soal penghargaan-penghargaan karya sang artis itu. Pokoknya bikin banggalah.

Saya masih ingat bagaimana porsi hiburan anak ditayangkan di jamnya anak-anak, semisal jam 14.00-16.00 atau setiap hari Sabtu dan Minggu. Tayangan dewasa diletakkan setiap pagi di hari-hari kerja dan juga tengah malam. Seolah-olah sudah ada pembagian porsi kapan waktunya tayangan anak-anak dan kapan waktunya tayangan dewasa.

Mungkin beda dengan sekarang yang hampir di setiap waktu tayangannya untuk orang dewasa. Parahnya, sekalipun tayangan dewasa, sama sekali tidak memenuhi kebutuhan informasi bagi orang dewasa itu sendiri.

Tayangan yang ditampilkan cenderung lipsing (acara dan artisnya dipaksa tampil di luar kapasitasnya) dan berlebihan. Tayangan-tayangan berita pun cenderung “politik-sentris” sehingga pemirsa TV tidak punya alternatif berita yang aktual dan edukatif.

Persaingan Antar Stasiun TV

Bagi orang-orang berada, mereka lebih memilih TV kabel dengan variasi tayangan yang beragam; semisal mau nonton sepak bola, bisa meng-klik channel BeIn Sport atau Fox Sport. Yang ingin tayangan soal penemuan baru di bidang IPTEK, bisa meng-klik channel TV Edukasi; atau yang ingin bernostalgia dengan film-film jadul, bisa meng-klik channel Flik.

Intinya, tayangan-tayangan berkualitas justru sulit diakses oleh kalangan ekonomi sulit. Dengan kondisi ini, bagaimana bisa dunia pertelevisian nasional menyuguhkan tayangan yang menghibur, informatif, menyentuh masyarakat, dan mendidik?

Tak bisa dipungkiri bahwa stasiun TV adalah perusahaan yang mencari untung berdasarkan prinsip ekonomi. Apa itu prinsip ekonomi? Mereka ingin melakukan sesuatu dengan cara sederhana, tapi mendapat untung sebesar-besarnya. 

Stasiun TV juga memakai prinsip itu. Mereka berusaha memproduksi tayangan-tayangan sederhana dengan penampil ala kadarnya, tapi mampu mendulang rating tinggi yang kemudian mendapatkan iklan sebanyak-banyaknya dan berujung keuntungan yang berlipat-lipat.

Apalagi di era sekarang, di mana jumlah stasiun TV sangat banyak, yang kemudian memunculkan persaingan ketat di bidang usaha broadcasting. Setidaknya ada 16 stasiun TV nasional dan lebih dari 140 TV lokal di berbagai daerah. Persaingan ketat ini sedikit-banyak mempengaruhi orientasi rumah produksi menjadi lebih mengedepankan pendapatan daripada kualitas tayangan.

Dalam persaingan stasiun TV seperti ini, tentulah sasaran konsumen mereka adalah pemirsa dengan kualitas C, alias pemirsa dengan selera tontonan rendah. Pemirsa seperti ini hanya mementingkan hiburan dan mengabaikan tontonan edukatif, bahkan mereka tak bisa membedakan mana tayangan yang berkualitas dan mana yang tidak.

Stasiun TV berlomba-lomba merebut atensi mereka dengan menayangkan tontonan yang lebih mengedepankan ke-asyik-an. Di sinilah kemudian muncul hiburan lipsing yang cenderung memaksakan kapasitas artis yang tidak semestinya.

Kualitas Tayangan Keagamaan

Belum lagi soal tayangan keagamaan, terutama agama Islam, yang cenderung mengabaikan kualitas ustaz-ustaz di dalamnya. Kebanyakan mubaligh di acara TV punya pengetahuan agama yang jauh di bawah standar bahkan tidak jelas genealogi (sanad) keilmuannya.

Pernah ada satu acara keagamaan yang seorang mubalighnya salah dalam menuliskan ayat Alquran. Lebih parah lagi, sering kita tonton ustazah sekelas Mamah Dedeh yang lebih suka memberikan materi dengan cara pandang “Halal-Haram” yang menggelikan.

Bahkan tidak jarang kita lihat tayangan seorang ustaz yang hanya pandai berpantun dan berpuisi tanpa ada nilai pengetahuan agamanya. Banyak pula artis-artis yang mendadak jadi ustaz hanya berbekal satu-dua dalil saja.

Saya berharap, dengan kritik Om Deddy kepada alayers di dunia pertelevisian, akan ada perubahan orientasi tayangan yang lebih informatif, mendidik, dan menyentuh ke persoalan-persoalan masyarakat. Semoga saja suatu saat hoby menonton TV yang sangat besar di waktu saya kecil akan tumbuh lagi seiring dengan meningkatnya kualitas tayangan TV kita.